‘Aamm dan Takhshish

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. ‘Aamm

‘Aamm adalah lafazh yang dibuat yang mencakup seluruh bagian yang layak baginya, tanpa dibatasi oleh jumlah atau bilangan.

Dalam bahasa Arab terdapat bentuk-bentuk yang menunjukkan ‘aamm. Di bawah ini akan disebutkan bentuk-bentuk tersebut, yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

1. Ism al-jins (isim yang menunjukkan jenis), yang di-ma’rifah-kan dengan alif lam.

Misalnya firman Allah ta’ala:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ واحِدٍ مِنْهُما مِائَةَ جَلْدَةٍ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. An-Nuur [24]: 2)

Lafazh (الزَّانِيَةُ) dan (الزَّانِي) menunjukkan keumuman, artinya setiap pezina perempuan dan setiap pezina laki-laki.

2. Lafazh (كل), (جميع), (أجمع), dan (كافة).

Misalnya firman Allah ta’ala berikut ini:

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya: “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Aali ‘Imraan [3]: 185)

فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Artinya: “Lalu seluruh malaikat itu bersujud, semuanya.” (QS. Shaad [38]: 73)

3. Lafazh (من) yang ditujukan untuk yang berakal, baik sebagai isim syarath maupun sebagai isim istifham (kata tanya).

Untuk isim syarath, misalnya firman Allah ta’ala:

مَنْ جاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثالِها

Artinya: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’aam [6]: 160)

Untuk isim istifham, misalnya firman Allah ta’ala:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً

Artinya: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik?” (QS. Al-Hadiid [57]: 11)

4. Lafazh (ما) untuk yang tidak berakal, baik dalam jazaa (balasan) maupun istifham (pertanyaan).

Dalam jazaa, misalnya firman Allah ta’ala:

وَما مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُها

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud [11]: 6)

Maksudnya adalah: seluruh binatang.

Dalam istifham, misalnya firman Allah ta’ala:

هذا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي ماذا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

Artinya: “Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkan oleh kalian kepadaku, apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan selain Allah?” (QS. Luqman [31]: 11)

5. Nakirah manfiyyah (nakirah dalam bentuk negatif), atau pada susunan kalimat yang negatif (siyaaq an-nafyi).

Misalnya firman Allah ta’ala:

اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurusi makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Lafazh (إله) merupakan nakirah manfiyyah, dan lafazh (سنة) berada dalam siyaaq an-nafyi. Keduanya menunjukkan bentuk umum.

6. Lafazh jamak (plural) yang di-ma’rifah-kan dengan idhafah.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاق

Artinya: “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan.” (QS. Al-Israa [17]: 31)

7. Isim-isim maushul (kata penghubung).

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَناتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَداءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمانِينَ جَلْدَةً

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina), kemudian tidak bisa menghadirkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali deraan.” (QS. An-Nuur [24]: 4)

B. Takhshish (Pengkhususan)

Takhshish adalah membatasi lafazh ‘aamm pada bagian-bagian tertentu dengan adanya suatu petunjuk.

Mukhashshish (yang mengkhususkan lafazh ‘aamm) kadang terpisah, kadang juga bersambung dengan lafazh ‘aamm tersebut.

Mukhashshish yang bersambung (tidak berdiri sendiri) dengan lafazh ‘aam ada empat macam:

1. Takhshish (pengkhususan) dengan istitsna (pengecualian), yaitu mengeluarkan yang berada setelah lafazh (إلّا) dan saudari-saudarinya dari yang berada sebelumnya.

Misalnya firman Allah ta’ala:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمانِ

Artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang-orang yang dipaksa untuk kafir, sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan.” (QS. An-Nahl [16]: 106)

Istitsna di ayat ini, menjadikan kemurkaan Allah dan hukum kafir hanya jatuh pada orang yang kafir secara ridha dan bisa memilih.

2. Takhshish (pengkhususan) dengan syarat, yaitu suatu perkara terwujud jika syaratnya terpenuhi. Takhshish seperti ini menggunakan isim atau huruf syarath yang jumlahnya banyak.

Misalnya firman Allah ta’ala:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْراً الْوَصِيَّةُ لِلْوالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Diwajibkan atas kalian, apabila salah seorang di antara kalian kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk kedua orangtuanya dan kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 180)

Adanya harta merupakan syarat dalam wajibnya wasiat. Jika tidak ada harta, maka tidak ada wasiat.

Catatan dari saya (Abu Furqan): Ayat ini telah di-nasakh (dihapus) hukumnya oleh ayat-ayat waris.

3. Takhshish (pengkhususan) dengan ghayah (yang ingin dicapai). Lafazh-lafazh ghayah adalah (إلى) dan (حتى).

Untuk lafazh ‘ilaa’, misalnya firman Allah ta’ala:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya: “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam hari.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

Penyempurnaan puasa itu lafazh yang ‘aamm, kemudian dikhususkan dengan ‘masuknya malam’, yang berarti di malam hari tidak wajib lagi puasa.

Untuk lafazh ‘hatta’, misalnya firman Allah ta’ala:

وَلا تَحْلِقُوا رُؤُسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

Artinya: “Janganlah kalian mencukur kepala kalian, hingga hewan korban sampai di tempat penyembelihannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 196)

4. Takhshish (pengkhususan) dengan sifat.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَرَبائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

Artinya: “Dan anak-anak isteri kalian yang dalam pemeliharaan kalian dari isteri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum campur dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), maka tidak berdosa kalian mengawininya.” (QS. An-Nisaa [4]: 23)

Berarti, anak-anak perempuan dari isteri tidak haram dinikahi oleh suami yang belum bercampur dengan isterinya tersebut (tentu setelah ia bercerai dengan isterinya). Anak-anak perempuan dari isteri (anak tiri dari suami) baru haram dinikahi (selamanya), jika si suami sudah bercampur dengan isterinya tersebut. Dari sini, terbentuk kaidah: “Bercampur dengan ibu, mengharamkan anak perempuan. Akad dengan anak perempuan, mengharamkan ibu”.

Sebagian ahli fiqih memasukkan ‘badal sebagian (بعض) atas keseluruhan (الحال)’ dan ‘haal’ sebagai bagian dari takhshish dengan sifat.

Untuk ‘badal sebagian atas keseluruhan’, misalnya firman Allah ta’ala:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Aali ‘Imraan [3]: 97)

Dari sini dipahami, haji tidak wajib untuk seluruh manusia, ia hanya wajib bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah.

Untuk ‘haal’, misalnya firman Allah ta’ala:

لا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ

Artinya: “Janganlah kalian membunuh hewan buruan, ketika kalian sedang ihram.” (QS. Al-Maaidah [5]: 95)

Keharaman membunuh hewan buruan, hanya khusus di masa ihram saja. Sedangkan di luar masa itu, dibolehkan.

Selesai pembahasan mukhashshish yang bersambung (tidak berdiri sendiri) dengan lafazh ‘aamm.

Adapun untuk mukhashshish yang berdiri sendiri, banyak sekali macamnya. Kadang keumuman Al-Qur’an dikhususkan oleh ayat Al-Qur’an juga, atau Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ijma’. Pembahasan ini secara terperinci bisa dikaji di kitab-kitab ushul fiqih.

Di sini, hanya akan diberikan sedikit contoh saja.

Misal untuk pengkhususan ayat Al-Qur’an yang ‘aamm oleh ayat Al-Qur’an juga adalah firman Allah ta’ala:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْواجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً

Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan isteri-isteri, (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber-‘iddah) selama empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah [2]: 234)

Ayat ini maknanya umum, menunjukkan masa ‘iddah setiap perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya adalah empat bulan sepuluh hari. Kemudian datang ayat Al-Qur’an yang mengkhususkan keumuman ayat ini, yaitu firman Allah ta’ala:

وَأُولاتُ الْأَحْمالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Artinya: “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 4)

Ayat ini menetapkan batas ‘iddah perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sampai ia melahirkan kandungannya, baik waktunya mencapai empat bulan sepuluh hari atau kurang dari itu.

Misal untuk pengkhususan ayat Al-Qur’an yang ‘aamm oleh Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merajam pezina muhshan (yang sudah menikah). Hadits ini mengkhususkan keumuman ayat di surah An-Nuur berikut ini:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ واحِدٍ مِنْهُما مِائَةَ جَلْدَةٍ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. An-Nuur [24]: 2)

Selesai dengan izin Allah ta’ala.

Rujukan:
Al-Manaar fii ‘Uluumil Qur’aan Ma’a Madkhal fii Ushuulit Tafsiir wa Mashaadirih, karya Dr. Muhammad ‘Ali Al-Hasan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *