Abu Marlo dan Fenomena Kajian Ilmu di Negeri Ini

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat ‘dihebohkan’ dengan munculnya sosok bernama Abu Marlo yang dengan ‘sangat berani’ menjadi narasumber sebuah program keislaman di salah satu TV nasional, menjelaskan tafsir al-Qur’an dengan sangat lancar, seakan-akan ia adalah seorang ahli tafsir. Hal ini ‘menghebohkan’ karena Abu Marlo menurut jejak kehidupan yang sempat direkam media dulunya adalah seorang pesulap, alumni sebuah audisi sulap di negeri ini. Sebagai pesulap, ia memang fasih, tapi sebagai ustadz apalagi ulama, terlalu banyak hal yang meragukan padanya.

Yang sempat mendengarkan cara dan isi ceramahnya, tentu akan mengakui bahwa ia sebenarnya belum layak untuk menjadi penafsir al-Qur’an. Sebagai contoh, ketika ia melafalkan beberapa kalimat Arab, seperti ta’awwudz, terasa sekali bahwa tajwidnya masih sangat bermasalah. Hal yang tentu sangat aib bagi pengajar al-Qur’an. Kemudian, saat ia menjelaskan tafsir al-Qur’an, sama sekali ia tak merujuk tafsiran para ulama tafsir. Bagi sebagian orang ini mungkin tak terlalu bermasalah, tapi bagi yang peduli terhadap otoritas ulama, hal ini sangat bermasalah. Siapa Abu Marlo sehingga ia merasa layak menafsirkan al-Qur’an sendiri tanpa merujuk ulama?

Saya tak tahu apakah acara yang diasuhnya ini masih ada atau sudah di-cut pihak TV terkait, karena saya memang tak mengikuti perkembangannya. Bagi saya, hal yang lebih penting disoroti pada kasus ini adalah kacaunya struktur kajian keilmuan di negeri ini. Setiap orang merasa berhak berbicara agama, berhak menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi, sekehendaknya sendiri.

Kalau kita mengamati ceramah-ceramah agama di TV nasional, banyak yang fenomenanya mirip Abu Marlo ini. Misal, ada penceramah yang isi ceramahnya kosong, tak ada ilmu di dalamnya, tapi banyak yang suka, setelah ditelisik, ternyata salah satu faktornya adalah karena ustadznya masih muda dan ganteng. Ada juga penceramah yang sepanjang acara berlagak seperti badut, putar sana, putar sini, dan kembali lagi, isi ceramahnya minim ilmu.

Dan fenomena ini bukan hanya terjadi di TV nasional. Di sebagian majelis taklim di sekitar kita, baik yang diselenggarakan di masjid, mushalla ataupun di tempat lain, sering kita temukan penceramah yang begitu lihai mengolah kata, begitu pandai melucu, hingga ceramahnya disukai banyak orang, namun ternyata hampir tak ada ilmu yang disampaikan. Ada penceramah yang mengutip ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi, kemudian men-syarah-nya sesuai pemahamannya sendiri, yang ternyata tidak sesuai dengan tafsir dan syarah yang diberikan para ulama yang kompeten di bidangnya.

Kita juga kadang menemukan ada tokoh yang di-’ustadz’-kan dan di-‘ulama’-kan, hanya karena ia sering bicara agama. Ia kemudian diberi jadwal pengajian, diminta mengisi ceramah di mana-mana, padahal pemahaman Islamnya jauh dari layak untuk disebut ulama. Ia hanyalah orang yang suka bicara agama, dan bukan orang yang faqih dalam agama.

Kadang kita juga menemukan seorang motivator atau trainer yang memang fasih berbicara di depan orang banyak, kata-katanya begitu memukau, gerak-geriknya di panggung begitu memikat, kemudian oleh pengagumnya ia diberi label ‘ustadz’. Ia dianggap ustadz hanya karena saat mengisi training atau motivasi, terkadang mengutip ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi, serta menjelaskan ‘sekenanya’. Terkadang saat manggung, ia begitu fasih memotivasi orang lain untuk lebih dekat kepada Islam, percaya diri dengan keislamannya. Hal ini tentu tak salah. Ini positif. Yang tidak positif adalah sikap pengagumnya yang mendudukkannya pada posisi orang yang paham agama. Seakan-akan setiap orang yang pernah berbicara agama, berarti ia ulama atau ustadz yang faqih fid diin.

Fenomena semacam ini harusnya disikapi dengan kesedihan yang mendalam. Bagi yang bercita-cita mewujudkan kembali peradaban Islam yang unggul, yang akan memimpin dunia, memperbaiki struktur kajian keilmuan haruslah menjadi salah satu perhatian. Dulu, saat peradaban Islam unggul, yang memimpin majelis taklim adalah para ulama besar, yang sudah puluhan tahun thalabul ‘ilmi. Yang ilmunya masih setengah matang, dicegah untuk memimpin majelis taklim, apalagi yang masih mentah. Dulu para ulama besar ini punya majelis taklim besar, yang murid-muridnya datang dari berbagai penjuru negeri, untuk mendapatkan dan menyerap ilmu dari sang ulama.

Memang dulu juga ada fenomena ‘minim ilmu banyak bicara’, mereka dulu dikenal dengan istilah qushshash (tukang cerita). Namun mereka hanya bisa menarik perhatian orang-orang bodoh saja, sedangkan thalibul ‘ilmi tidak memperhatikan mereka, dan mereka di-tahdzir oleh para ulama. Dulu ada fenomena qushshash, namun kebanyakan orang masih jelas membedakan antara ulama dengan qushshash. Adapun sekarang, qushshash didudukkan pada posisi ulama, diberi majelis taklim, dan umat mengikuti mereka. Sedangkan ulama beneran malah dicueki, tidak didengarkan ilmunya, karena mereka tak semenarik para qushshash.

Tulisan ini memang tidak memberikan solusi praktis menghadapi fenomena ini. Solusinya ada pada diri kita masing-masing. Jika kita ternyata terlibat dalam mendudukkan sosok-sosok seperti Abu Marlo pada kedudukan ulama, berarti salah satu sumber masalahnya ada pada kita. Jika kita masih memilih mendengarkan ceramah yang rame, lucu dan penuh retorika mengguncang panggung, daripada menghadiri majelis ilmu yang benar-benar berisi kajian ilmu syar’i yg mendalam, walaupun kadang-kadang menjemukan, berarti salah satu sumber masalahnya ada pada kita. Jika kita begitu semangat mendakwahkan Islam, begitu semangat berbicara tentang Islam di hadapan banyak orang, namun kita tak memiliki semangat yang sama saat diajak menuntut ilmu syar’i, saat diajak memperbaiki bacaan Qur’an kita, berarti salah satu sumber masalahnya ada pada kita.

Mari merenung.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *