Al-Maziid Fii Muttashilil Asaaniid

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Definisi

Al-Maziid fii muttashilil asaaniid artinya tambahan seorang rawi di tengah-tengah sanad, yang secara zhahir sanad tersebut telah tersambung.

Maksudnya, suatu jalur sanad hadits sebenarnya secara zhahir (yang tampak) telah bersambung, tidak terputus. Namun, ternyata datang jalur sanad lain untuk hadits yang sama, dan di tengah-tengah sanadnya terdapat tambahan rawi yang tidak terdapat pada jalur sanad yang lain.

B. Contoh

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak. Beliau berkata: Telah menceritakan pada kami Sufyan, dari Abdurrahman ibn Yazid, telah menceritakan pada saya Busr ibn ‘Ubaidullah, ia berkata, saya mendengar Abu Idris, ia berkata, saya mendengar Watsilah, ia berkata, saya mendengar Abu Martsad, ia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجلسوا على القبور ولا تصلوا إليها

Artinya: “Janganlah kalian duduk di atas kubur, dan jangan pula shalat menghadapnya.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi. Keduanya diriwayatkan dengan tambahan Abu Idris dan tanpa tambahan)

Pada contoh di atas, terdapat dua tambahan, yang pertama adalah pada “Sufyan”, dan yang kedua pada “Abu Idris”.

Tambahan pada “Sufyan” terjadi karena keraguan perawi di bawah Ibnul Mubarak. Hal ini berbeda dengan sejumlah rawi yang tsiqah, yang meriwayatkan hadits dari Ibnul Mubarak, dari ‘Abdurrahman ibn Yazid, tanpa menyebutkan nama “Sufyan”. Bahkan sebagian rawi tsiqah tersebut menyebutkan riwayat Ibnul Mubarak dari ‘Abdurrahman ibn Yazid dengan lafazh ikhbar yang jelas.

Sedangkan tambahan pada “Abu Idris” terjadi karena keraguan Ibnul Mubarak. Sejumlah rawi tsiqah selain Ibnul Mubarak meriwayatkan hadits dari ‘Abdurrahman ibn Yazid tanpa menyebutkan “Abu Idris” dalam sanadnya. Bahkan sebagian dari mereka meriwayatkan dari Busr langsung dari Watsilah secara sama’ (menggunakan lafazh sami’tu, yang artinya ia benar-benar mendengar langsung dari rawi di atasnya).

Kesimpulan, tambahan nama “Sufyan” disebutkan oleh rawi di bawah Ibnul Mubarak, dan nama “Abu Idris” disebutkan oleh Ibnul Mubarak. Dua nama ini tidak disebutkan oleh rawi-rawi tsiqah yang lain. Tambahan inilah yang disebut al-maziid fii muttashilil asaaniid.

C. Syarat Ditolaknya Ziyadah

Ada dua syarat ditolaknya ziyadah (tambahan rawi dalam sanad), yaitu:

1. Orang yang tidak memasukkan ziyadah tersebut lebih mutqin (cermat dan teliti) hafalan dan ingatannya, dibandingkan orang yang memasukkan ziyadah.

2. Lafazh dalam sanad yang terletak di sekitar ziyadah itu diucapkan dengan bentuk yang jelas dan sama’ (mendengar langsung).

Jika dua syarat tersebut terpenuhi, maka ziyadah yang ada tertolak dengan sendirinya.

Sebaliknya, jika dua syarat, atau salah satu syarat di atas, tidak terpenuhi, maka yang dikuatkan dan diterima adalah sanad yang mengandung ziyadah. Sedangkan yang tidak terdapat ziyadah dianggap terputus sanadnya secara tersembunyi, dan dinamakan mursal khafi.

D. Kitab yang Membahas Tema Ini

Salah satu kitab paling populer yang membahas tema ini, adalah kitab “Tamyiiz Al-Maziid fii Muttashil Al-Asaaniid”, karya Al-Khathib Al-Baghdadi.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
Taysiir Mushthalah Al-Hadiits, karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *