Allah Tidak Ingin Mempersulit Kita (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Maaidah, Ayat 6)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَا يُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

Artinya: “Allah tidak ingin menimpakan kesulitan pada kalian.”

Potongan ayat di atas merupakan bagian dari ayat wudhu yang cukup masyhur. Di ayat ini Allah ta’ala menjelaskan tata cara wudhu, serta pengganti dari wudhu, yaitu tayammum, jika seseorang tidak memungkinkan untuk berwudhu. Setelahnya, Allah ta’ala menyatakan bahwa Dia tidak menginginkan kesulitan bagi kita, hamba-hamba-Nya.

Ibnu Katsir, dalam Tafsirnya, menyatakan bahwa dibolehkannya tayammum ketika seseorang sakit, atau ketika tidak tersedianya air, merupakan kelapangan dan rahmat dari Allah untuk kita. Allah ta’ala tidak ingin menyulitkan kita, malah Dia ingin memberikan kemudahan bagi kita.

Hal ini jelas dari rukhshah (keringanan) digantinya wudhu dengan tayammum ini. Seandainya Allah menginginkan, bisa saja Dia ‘memaksa’ kita untuk tetap mencari air untuk wudhu, dan tidak menggantikannya dengan tayammum. Namun, Dia dengan rahmat dan kasih-sayang-Nya, malah memberikan keringanan pada kita. Jika memang tak memungkinkan untuk berwudhu, shalatlah dengan tayammum. Itu cukup dan sah untuk kita.

Al-Maraghi, dalam Tafsirnya, menyatakan bahwa Allah tidak menginginkan kesulitan bagi kita dalam syariat-Nya, baik dalam bahasan wudhu dan tayammum di ayat ini, maupun dalam bahasan-bahasan lainnya. Syariat Islam tidak diturunkan untuk mempersulit umat manusia, malah syariat-Nya berisi kebaikan dan manfaat bagi kita. Allah ta’ala tidak memerlukan apa-apa dari kita, sebaliknya kita yang perlu pada rahmat-Nya, karenanya Dia tak berkepentingan untuk menimpakan kesulitan apalagi keburukan bagi kita. Seluruh syariat yang diturunkan-Nya untuk kita, merupakan kebaikan untuk kita.

Dalam fiqih Islam, kita juga menemukan banyak rukhshah (keringanan) yang diberikan oleh Allah untuk kita. Misalnya, dibolehkannya tayammum sebagai pengganti wudhu, sebagaimana dijelaskannya di ayat ini. Misal yang lain, dibolehkannya kita meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat, dan menggabungkan dua shalat wajib dalam satu waktu, saat kita bepergian. Allah ta’ala juga mengizinkan kita untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan ketika kita sakit atau sedang safar. Banyak lagi keringanan-keringanan yang diberikan oleh Allah ta’ala pada kita, pada kondisi-kondisi tertentu. Bahkan, syariat Islam itu sendiri, secara keseluruhan, rukhshah (keringanan) maupun ‘azimah-nya (hukum asal tanpa rukhshah), merupakan syariat yang mudah dan mampu untuk kita laksanakan.

Ini merupakan bukti yang sangat jelas bahwa syariat yang diturunkan Allah ta’ala kepada kita ini, sama sekali tidak ditujukan untuk mempersulit dan membebani kita. Ia malah memberikan banyak kebaikan dan manfaat bagi kita. Walhamdulillah.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *