Apakah Anjing Najis?

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang kenajisan anjing. Dan ikhtilaf ini dikenal di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu, hanya orang yang matanya tertutup dari ilmu saja yang mengingkari adanya perbedaan pendapat ini.

Kalangan Hanafiyyah berpendapat bahwa yang najis dari anjing hanyalah air liur dan saat ia basah saja. Sedangkan tubuh anjing secara umum saat kering tidaklah najis.

Mereka menyatakan hal ini karena anjing biasa dan boleh dimanfaatkan untuk menjadi penjaga rumah dan semisalnya, serta untuk berburu. Adapun najisnya air liur anjing adalah berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Syaikhan:

إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا

Artinya: “Jika seekor anjing minum di bejana milik salah seorang dari kalian, cucilah bejana tersebut tujuh kali”.

Dan hadits riwayat Muslim dan Ahmad:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

Artinya: “Sucinya bejana milik salah satu dari kalian, jika telah dijilat anjing, adalah dengan mencucinya tujuh kali dan yang pertama dengan tanah”.

Najisnya air liur anjing ini, menurut kalangan Hanafiyyah, tidak bisa diqiyaskan dengan anggota tubuhnya yang lain.

Adapun Malikiyyah berpendapat bahwa seluruh anjing itu suci, tidak najis, baik anjing yang terlatih untuk menjaga rumah dan berburu maupun anjing liar. Adapun perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencuci bekas jilatan anjing tujuh kali tetap diikuti, tapi bukan karena anjing tersebut najis, melainkan sebagai bentuk ta’abbudi (ketaatan kita terhadap perintah Rasul) saja.

Sedangkan kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah menyatakan tubuh anjing najis, begitu juga dengan air liur dan keringatnya.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang sudah disebutkan di atas. Menurut mereka, jika mulut anjing yang minum dari bejana saja dihukumi najis, padahal mulutnya adalah bagian tubuhnya yang paling baik, maka anggota tubuh yang lain tentu najis juga.

Mereka juga melandasi pendapatnya dengan hadits dari ad-Daraquthni dan al-Hakim berikut ini:

أنه صلّى الله عليه وسلم دعي إلى دار قوم، فأجاب، ثم دعي إلى دار أخرى فلم يجب، فقيل له في ذلك، فقال: إن في دار فلان كلباً، قيل له: وإن في دار فلان هرة، فقال: إن الهرة ليست بنجسة

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diundang ke rumah suatu kaum, kemudian beliau penuhi undangan tersebut. Beberapa waktu kemudian beliau diundang ke rumah yang lain, namun tidak beliau penuhi. Hal ini kemudian ditanyakan kepada beliau, maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di rumah si fulan terdapat anjing’. Dikatakan kepada beliau: ‘Dan di rumah fulan (yang pertama) terdapat kucing’. Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya kucing tidaklah najis’.”

Dari hadits di atas dipahami bahwa anjing adalah najis.

Pendapat Mana yang Diikuti?

Penulis secara pribadi lebih memilih pendapat kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah, karena sebatas pengetahuan kami hujjah mereka lebih kuat. Namun, karena ini perkara ikhtilaf, kita harus berlapang dada atas perbedaan pendapat ini.

Dan bagi yang mengikuti pendapat kalangan Hanafiyyah, apalagi Malikiyyah, seharusnya tak terlalu provokatif mempraktekkan pendapat yang diikutinya, terlebih di negeri ini yang mayoritas penduduknya mengikuti madzhab Syafi’i. Perbedaan pendapat dalam fiqih adalah kemudahan yang diberikan oleh Allah bagi kita, namun ia bisa menjadi bencana jika menyebabkan konflik di tubuh umat Islam.

Wallahu a’lam bish shawwab.

***

Maraji’:
1. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah
2. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *