Apakah Basmalah Salah Satu Ayat dari Al-Fatihah?

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Seluruh ulama sepakat bahwa basmalah yang disebutkan di surah an-Naml merupakan bagian dari ayat dalam Al-Qur’an, yaitu:

إِنَّهُ مِن سُلَيْمنَ وَإِنَّهُ بِسْمِ الله الرحمن الرحيم

Namun mereka berbeda pendapat tentang apakah ia merupakan ayat dari al-Fatihah dan awal dari seluruh surah atau tidak. Muhammad ‘Ali ash-Shabuni, dalam Rawa-i’ul Bayaan, menyebutkan pendapat-pendapat tersebut, yaitu:

(1) Pendapat pertama, basmalah merupakan salah satu ayat dari al-Fatihah, dan dari seluruh surah. Ini merupakan pendapat dari madzhab asy-Syafi’i.

Az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir menyatakan bahwa ada dua qaul dari Imam asy-Syafi’i tentang hal ini, yaitu bahwa Basmalah merupakan salah satu ayat dari seluruh surah, dan qaul kedua menyatakan bahwa Basmalah merupakan ayat dari al-Fatihah saja dan tidak pada surah-surah yang lain. Ibnu Katsir menambahkan satu lagi qaul dari asy-Syafi’i, basmalah adalah bagian dari ayat (bukan ayat) di awal setiap surah. Dan dua pendapat terakhir ini, menurut Ibnu Katsir adalah pendapat yang gharib.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa sebagian ulama salaf dari kalangan shahabat dan setelahnya dihikayatkan mendukung pendapat bahwa Basmalah merupakan salah satu ayat dari seluruh surah, kecuali surah Bara’ah, di antaranya adalah: Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Atha, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Makhul, az-Zuhri, ‘Abdullah ibn al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal (dalam salah satu riwayat), Ishaq ibn Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Salam.

Kelompok ini berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya:

إذا قرأتم الحمد لله رب العالمين، فاقرؤوا بسم الله الرحمن الرحيم، إنها أمّ القرآن، وأمّ الكتاب، والسبعُ المثاني، وبسم الله الرحمن الرحيم أحدُ آياتها

Artinya: “Jika kalian membaca alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim. Sesungguhnya ia adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, Tujuh yang Berulang. Dan bismillaahirrahmaanirrahiim adalah salah satu ayatnya” (HR. ad-Daraquthni dari Abu Hurairah. Az-Zuhaili menyatakan isnadnya shahih).

أنّ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كان يفتتح الصلاة ببسم الله الرحمن الرحيم

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan shalatnya dengan bismillaahirrahmaanirrahiim” (HR. At-Tirmidzi dari Ibn ‘Abbas, dan ia berkata, ‘laysa isnaaduhu bi-dzalik’, yang menunjukkan isnadnya tidak kuat).

Hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ketika ia ditanya tentang bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (di dalam shalat), ia menjawab, ‘Bacaannya panjang-panjang… Kemudian ia membaca: bismillaahirrahmaanirrahiim, alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, ar-rahmaanirrahiim, maaliki yawmid diin…’. (Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari. Ad-Daraquthni berkata: isnadnya shahih).

Juga hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu hari Rasulullah berada di hadapan kami, dan ia menunduk, kemudian beliau mengangkat kepala sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?’, beliau menjawab, ‘Baru saja turun surah kepadaku’, kemudian beliau membaca, ‘bismillaahirrahmaanirrahiim, innaa a’thaynaakal kautsar, fa shalli lirabbika wanhar, inna syaani-aka huwal abtar’. (HR. Muslim, an-Nasaai, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah. At-Tirmidzi berkata: hasan shahih).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa basmalah merupakan ayat dari al-Fatihah, sekaligus ayat dari setiap surah dalam Al-Qur’an, dengan dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya dalam surah al-Kautsar.

Mereka juga berargumen bahwa dalam mushhaf al-Imam (mushhaf standar yang ditulis di masa ‘Utsman) ditulis di dalamnya basmalah di awal al-Fatihah, dan di awal setiap surah, kecuali surah Baraa’ah. Demikian juga basmalah tersebut ditulis di mushhaf-mushhaf yang dikirim ke berbagai negeri yang disalin dari mushhaf al-Imam. Hal ini diterima dan diakui secara mutawatir, sedangkan mereka paham bahwa dalam mushhaf tidak boleh ditulis apapun selain Al-Qur’an, dan mereka sangat ketat dalam hal ini, hingga nama surah dan penanda-penanda penting pun tidak dimasukkan. Jadi, ketika dalam mushhaf tersebut tertulis basmalah di awal surah al-Fatihah dan surah-surah lainnya, itu menunjukkan basmalah tersebut memang bagian darinya.

(2) Pendapat kedua, basmalah bukan merupakan ayat dalam Al-Qur’an, bukan bagian al-Fatihah, bukan juga bagian dari surah yang lain. Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik rahimahullah.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa yang berpendapat seperti ini adalah Malik, Abu Hanifah dan pengikut keduanya. Sedangkan az-Zuhaili menjelaskan bahwa walaupun Malikiyyah dan Hanafiyyah sama-sama menganggap basmalah bukan bagian dari surah al-Fatihah dan surah-surah lainnya (tentu kecuali yang terdapat di tengah surah an-Naml), namun ada perbedaan di antara mereka. Malikiyyah menyatakan basmalah memang bukan bagian dari Al-Qur’an, sedangkan Hanafiyyah menyatakan ia bagian dari Al-Qur’an, tapi tidak berada dalam surah, melainkan ia adalah pemisah antar surah.

Pendapat Hanafiyyah ini lebih tepat diletakkan di pendapat ketiga nanti, bukan di pendapat kedua ini.

Kalangan Malikiyyah, dalam menguatkan pendapatnya yang menyatakan basmalah bukan merupakan ayat dari surah al-Fatihah dan bukan bagian dari Al-Qur’an, dan dibaca serta ditulisnya ia hanyalah untuk tabarruk, berdalil dengan beberapa hadits berikut ini:

كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يفتتح الصلاة بالتكبير، والقراءة بالحمد لله ربِّ العالمين

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalatnya dengan takbir, dan bacaannya dengan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Mereka semuanya membuka bacaan shalatnya dengan alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam redaksi Muslim, dikatakan: Mereka tidak menyebut bismillaahirrahmaanirrahiim, tidak di awal bacaan, tidak juga di akhir.

Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: Aku bagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta… (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Kemudian disebutkan ayat-ayat al-Fatihah, dan tidak disebutkan basmalah padanya. Pendukung pendapat ini menyatakan, firman Allah, ‘Aku bagi shalat’ maksudnya adalah al-Fatihah. Surah ini dinamakan ‘shalat’ karena shalat tak sah tanpanya. Seandainya basmalah salah satu ayat dari al-Fatihah, tentu ia disebutkan dalam hadits qudsi ini.

Mereka juga berargumen bahwa seandainya basmalah bagian dari al-Fatihah, maka terjadi pengulangan pada frase ‘arrahmaanirrahiim’ di surah tersebut. Pengulangan seperti ini merupakan cela dari sisi kefasihan bahasa, dan tidak layak terdapat pada Al-Qur’an.

Tentang penulisannya di awal setiap surah, itu adalah untuk tabarruk (meraih berkah), mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya untuk menulisnya, serta ia memang diminta diletakkan di awal setiap perkara, bukan berarti ia adalah bagian dari Al-Qur’an. Meskipun penulisannya di awal setiap surah diriwayatkan secara mutawatir, namun keberadaannya dalam mushhaf tersebut sebagai bagian dari Al-Qur’an tidaklah mutawatir.

Al-Qurthubi dan Ibnul ‘Arabi merajihkan pendapat kedua ini.

(3) Pendapat ketiga, basmalah merupakan ayat yang sempurna dan tersendiri dalam Al-Qur’an, diturunkan sebagai pemisah antar surah, dan bukan ayat dari Al-Fatihah. Ini adalah madzhabnya Abu Hanifah dan pengikutnya.

Ini juga merupakan pendapat Dawud dan salah satu riwayat dari Ahmad ibn Hanbal.

Kelompok ini menyatakan bahwa penulisannya dalam mushhaf menunjukkan bahwa basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an, namun tidak menunjukkan bahwa ia adalah ayat dari setiap surah. Sedangkan hadits-hadits yang menunjukkan tidak dibacanya basmalah secara jahr (nyaring) dalam shalat saat membaca al-Fatihah menunjukkan bahwa ia bukanlah bagian dari al-Fatihah. Jadi kesimpulannya, basmalah merupakan ayat yang sempurna dari Al-Qur’an (selain dari surah an-Naml yang sudah disebutkan di awal), dan ia diturunkan untuk menjadi pemisah antar surah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan riwayat dari para shahabat, mereka berkata, “Dulu kami tidak mengetahui akhir setiap surah, hingga turun bismillaahirrahmaanirrahiim” (Riwayat Abu Dawud).

Demikian juga, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu tidak mengetahui pemisah surah hingga turun kepadanya bismillaahirrahmaanirrahiim (HR. Abu Dawud dan al-Hakim, dengan isnad yang shahih).

Pendapat ini juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa surah al-Mulk terdiri dari 30 ayat, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ahli qiraat dan lainnya juga sepakat bahwa surah al-Mulk terdiri dari 30 ayat, jika basmalah tidak dimasukkan. Jika basmalah dimasukkan, maka ia menjadi 31 ayat, dan ini menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ahli qiraat dan ahli fiqih dari berbagai penjuru negeri sepakat bahwa surah al-Kautsar terdiri dari 3 ayat, dan surah al-Ikhlash terdiri dari 4 ayat. Jika ditambah basmalah, maka jumlahnya akan lebih dari itu, dan ini menyelisihi kesepakatan ulama qiraat dan fiqih.

Berdasarkan argumentasi di atas, Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menguatkan pendapat ketiga ini. Dan beliau menyatakan bahwa ini adalah madzhab pertengahan di antara dua pendapat sebelumnya yang kontradiktif.

***

Apakah Basmalah Dibaca Saat Shalat?

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Berikut pendapat-pendapat yang ada:

(1) Pendapat pertama, tidak boleh membaca basmalah dalam shalat wajib, baik jahr (nyaring) maupun sirr (pelan), tidak pada awal al-Fatihah, tidak juga pada awal setiap surah. Namun mereka membolehkan membacanya di shalat nafilah. Ini adalah pendapat Imam Malik rahimahullah dan para pengikutnya.

(2) Pendapat kedua, basmalah dibaca di awal al-Fatihah di setiap raka’at shalat secara sirr. Ini adalah pendapat Imam Abi Hanifah rahimahullah dan para pengikutnya.

(3) Pendapat ketiga, basmalah wajib dibaca, dalam shalat jahr dibaca secara jahr, dalam shalat sirr dibaca secara sirr. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya.

(4) Pendapat keempat, basmalah dibaca secara sirr dalam shalat, dan tidak disunnahkan men-jahr-nya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

Perbedaan pendapat ini disebabkan oleh perbedaan mereka memahami apakah basmalah bagian dari al-Fatihah atau bukan.

Maraji’:
1. Rawaai’ul Bayaan Tafsir Aayaat al-Ahkaam Min Al-Qur’aan, karya Muhammad ‘Ali ash-Shabuni
2. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir
3. at-Tafsir al-Muniir, karya Wahbah az-Zuhaili

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *