Apakah Nabi Bermaksiat? (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Ahzaab, Ayat 1)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: “Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Ahzaab [33]: 1)

Ikhwah fillah, jika kita membaca sekilas ayat ini, bisa jadi terlintas di pikiran kita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cenderung pada keinginan orang-orang kafir dan munafik, hingga Allah ta’ala menegur beliau dan mengingatkan beliau untuk bertakwa kepada-Nya. Benarkah ini? Mari kita simak penjelasan dari Syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni hafizhahullah dalam kitab beliau Tafsiir Aayaat Al-Ahkaam berikut ini.

Kita mulai dengan sababun nuzul (sebab turunnya) ayat ini dulu. Salah satu riwayat menyatakan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah sekelompok kafir Quraisy beserta orang-orang munafik Madinah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menawarkan beliau beberapa hal, sekaligus meminta Nabi berhenti menjelek-jelekkan Latta dan ‘Uzza. Nabi tidak menyukai hal ini, kemudian turun ayat ini.

Ash-Shabuni menyatakan bahwa kemaksuman para Nabi shalawaatullahi wa salaamuhu ‘alaihim merupakan hal yang sudah diketahui bersama. Tidak mungkin seorang Nabi terjatuh pada kemaksiatan atau menyelisihi perintah Allah ‘azza wa jalla. Hal ini karena mereka merupakan teladan (qudwah) bagi kita, dan kita diperintahkan untuk mengikuti dan menaati mereka.

Seandainya mereka bisa jatuh pada kemaksiatan, maka tentu ketaatan kepada mereka tidak diwajibkan, atau berarti kita diperintahkan untuk mengikuti dan menaati mereka dalam kebaikan dan keburukan. Tentu ini tak boleh terjadi. Karena itu, Allah ta’ala menjadikan mereka terpelihara dari dosa dan kemaksiatan.

Kemaksuman para Nabi ‘alaihimus salam, termasuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan prinsip pokok dan berlaku umum. Setiap perkara yang terlihat menyelisihi prinsip kemaksuman Nabi ini harus dipahami dengan pemahaman yang benar, agar ia tidak bertentangan dengan prinsip ini.

Jadi, jika ada ayat Al-Qur’an yang secara zhahir terlihat menyelisihi prinsip kemaksuman Nabi, kita harus memahaminya dengan pemahaman yang tidak mengarah pada penyelisihan prinsip pokok ini. Karena itu, apa yang disebutkan dalam Surah Al-Ahzaab ayat 1 di atas, tidak bisa disimpulkan bahwa Nabi cenderung untuk mengikuti keinginan orang-orang kafir dan munafik, atau beliau menyukai kesepakatan dengan mereka dalam kemunafikan dan kesesatan. Pemahaman seperti ini jelas keliru dan batil, karena bertentangan dengan prinsip kemaksuman Nabi.

Ash-Shabuni menyatakan bahwa ayat ini sebenarnya merupakan peringatan untuk umat Islam, namun peringatan ini disampaikan dalam bentuk ucapan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, Allah ta’ala sedang memperingatkan umat Islam untuk tidak cenderung kepada orang-orang kafir dan munafik, serta bersepakat dengan mereka dalam kemunafikan dan kesesatan. Inilah pemahaman yang benar dan sesuai dengan prinsip kemaksuman Nabi.

Pemahaman seperti ini didukung oleh firman Allah ta’ala di ayat berikutnya:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Ahzaab [33]: 2)

Pada redaksi ayat di atas, Allah menggunakan shighat jamak (ta’lamuun), dan ini menunjukkan bahwa yang diseru adalah umat Islam.

Ikhwah fillah, dari sini paling tidak ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil. Pertama, Islam mempunyai prinsip-prinsip umum yang disepakati. Inilah yang menjadi pondasi dan panduan dalam memahami konsep-konsep yang sifatnya cabang dan terperinci dalam Islam. Kedua, untuk memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an memerlukan wawasan Islam yang komprehensif dan mendalam, terutama dalam bahasan yang cukup rumit atau yang terlihat adanya pertentangan. Inilah nilai penting otoritas ulama dalam Islam, bahwa untuk memahami makna-makna ayat yang seperti ini kita harus merujuk pada ulama, tidak boleh main tafsir sendiri tanpa ilmu yang memadai.

Wallahu ‘aliimun hakiim.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *