Ayat Al-Qur’an yang Pertama dan yang Terakhir Kali Turun

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Yang Pertama Kali Turun

Pendapat yang paling shahih mengenai yang pertama kali turun adalah firman Allah ta’ala:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

Pendapat ini berdasarkan hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan tentang malaikat yang menemui Nabi di gua hira dan memintanya untuk membaca.

Ada juga yang berpendapat bahwa surah yang pertama kali turun adalah surah Al-Muddatstsir. Ini didasarkan pada hadits Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim yang mengindikasikan pernyataan Jabir bahwa surah yang pertama kali turun adalah surah Al-Muddatstsir. Namun, berdasarkan penelitian berbagai riwayat, para ulama muhaqqiq menjelaskan bahwa surah Al-Muddatstsir ini maksudnya adalah surah yang turun pertama kali secara lengkap, sedangkan surah Al-‘Alaq di awal hanya turun sebagiannya saja. Atau bisa juga, Al-Muddatstsir ini adalah surah yang pertama kali turun setelah wahyu sempat terhenti beberapa lama.

Ada juga pendapat lain yang bisa dilihat di kitab-kitab ‘Ulumul Qur’an, namun kembali lagi, pendapat yang paling shahih dan paling jelas riwayatnya adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5 yang merupakan ayat atau surah yang pertama kali turun.

B. Yang Terakhir Kali Turun

Ada yang berpendapat, ayat yang terakhir kali turun adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum diambil).” (QS. Al-Baqarah [2]: 278)

Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ada juga yang berpendapat bahwa ayat yang terakhir kali turun adalah ayat:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ

Artinya: “Dan peliharalah diri kalian dari azab yang terjadi pada suatu hari yang waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 281)

Ini berdasarkan hadits riwayat An-Nasai dan lainnya dari Ibnu ‘Abbas dan Sa’id ibn Jubair.

Ada juga yang berpendapat bahwa ayat yang terakhir kali turun adalah ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)

Ini berdasarkan riwayat dari Sa’id ibn Al-Musayyib.

Berdasarkan pengkajian, para ulama muhaqqiq kemudian mencoba mengumpulkan tiga riwayat di atas dan menyatakan bahwa tiga ayat di atas diturunkan secara bersamaan, dan urutannya sebagaimana di mushhaf. Hal ini karena tiga ayat tersebut membahas satu cerita dan saling berhubungan. Sedangkan riwayat-riwayat yang ada di atas merupakan penyebutan bagian dari yang terakhir kali diturunkan tersebut.

Adapun tentang ayat ketiga surah Al-Maidah berikut ini:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian diin kalian, telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai diin kalian.” (QS. Al-Maaidah [5]: 3)

Ayat ini turun di ‘Arafah pada saat haji wada’. Dan berdasarkan riwayat yang ada, ayat-ayat yang telah disebutkan sebelumnya turun setelah surah Al-Maaidah ayat 3 ini.

Para ulama muhaqqiq kemudian menjelaskan maksud penyempurnaan diin di ayat ini adalah Allah ta’ala telah memberikan nikmat yang cukup pada kaum muslimin saat itu dengan menempatkan mereka di Tanah Haram, menjauhkan orang-orang musyrik daripadanya, dan menghajikan mereka tanpa ada satu pun orang musyrik yang ikut serta, padahal sebelumnya orang-orang musyrik selalu ikut serta dalam berhaji. Wallahu a’lam bish shawwab.

C. Ayat yang Pertama Kali Turun Berdasarkan Pembahasan Tertentu

Ayat yang pertama kali turun tentang makanan adalah firman Allah:

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah, dalam wahyu yang disampaikan kepadaku, aku tidak mendapati suatu makanan yang diharamkan bagi seseorang kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau hewan yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak melampaui batas dan tidak pula menginginkannya, sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al-An’aam (6): 145)

Yang pertama kali turun tentang minuman:

يَسْأَلونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Setelah itu turun beberapa ayat lain tentang khamr, dan di ayat terakhir khamr diharamkan dengan sangat tegas, jelas dan tanpa kesamaran.

Yang pertama kali turun tentang perang:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِير

Artinya: “Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dianiaya. Dan Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (QS. Al-Hajj [22]: 39)

D. Faedah Pembahasan Ini

(1) Turunnya Al-Qur’an ayat demi ayat ini membuat para shahabat begitu menghayatinya. Mereka mengerti kapan, di mana dan tentang apa ayat itu diturunkan. Dengannya, mereka bisa menerima Al-Qur’an sepenuh hati, menjadikannya dasar dalam beragama dan menjalani kehidupan serta sumber kemuliaan dan kehormatan mereka.

(2) Mengetahui rahasia perundang-undangan Islam menurut sejarah sumbernya yang pokok. Ayat-ayat Al-Qur’an dapat mengatasi persoalan kejiwaan manusia dengan petunjuk ilahi, dan mengantarkannya dengan cara-cara yang bijaksana dan menempatkan mereka ke tingkat kesempurnaan.

(3) Membedakan ayat yang nasikh dan yang mansukh. Kadang terdapat dua ayat atau lebih dalam satu masalah, tetapi ketentuan hukumnya berbeda antara satu ayat dengan ayat lainnya. Dengan mengetahui mana yang pertama diturunkan dan mana yang kemudian, maka ketentuan hukum dalam ayat yang diturunkan kemudian menasakh (menghapus) ketentuan ayat yang diturunkan sebelumnya.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’an karya Syaikh Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *