Baca Basmalah atau Tidak?

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pendapat masyhur di kalangan Malikiyyah, basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, dan ia tidak dibaca ketika shalat baik secara sirr maupun jahr, baik mushalli sebagai imam, makmum atau shalat sendirian. Dan menurut mereka, makruh hukumnya pada shalat fardhu membaca basmalah di awal al-Fatihah maupun surah setelah al-Fatihah.

Mereka berdalil dengan hadits riwayat Muslim (1/299) dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

صَلَّيْتُ خَلَفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا

“Aku shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, mereka membuka shalatnya dengan ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, dan tidak membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’ di awal bacaan maupun di akhirnya.”

Sedangkan pendapat yang azhhar di kalangan Syafi’iyyah menyatakan wajib bagi imam, makmum maupun yang shalat sendirian membaca basmalah di setiap raka’at shalat di awal surah al-Fatihah, baik shalat fardhu maupun nafilah, baik shalat sirriyyah maupun jahriyyah.

Mereka berdalil dengan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ سَبْعُ آيَاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Surah Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (surah al-Fatihah) ada tujuh ayat, dan salah satu ayatnya adalah ‘bismillahirrahmanirrahim’.”

Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid (2/109) menyatakan ‘hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan rijalnya tsiqat’.

Juga hadits riwayat al-Bukhari (1/151-152) dan Muslim (1/295), dari ‘Ubadah ibn Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surah al-Fatihah.”

Ikuti yang Mana?

Jika Anda tak memahami dalil dan cara berhujjah dengannya, silakan bertaqlid kepada salah satu pendapat di atas atau pendapat lainnya. Dan untuk muqallid, sebagian ulama menganjurkan bertaqlid dengan madzhab yang masyhur di negerinya.

Jika Anda punya kapasitas memahami dalil dan cara berhujjah dengannya, dan/atau mampu melakukan tarjih dari beberapa pendapat yang ada, silakan ikuti pendapat yang terkuat menurut Anda.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

*****

Rujukan Fiqih:
Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (8/86-88) [Maktabah Syamilah]

Rujukan Hadits:
Shahih al-Bukhari (1/151-152) [Maktabah Syamilah]
Shahih Muslim (1/295) dan (1/299) [Maktabah Syamilah]
Majma’ az-Zawaid (2/109) [Maktabah Syamilah]

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *