Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Ilmu dan Pemikiran Islam

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Ada beberapa hal penting dan sikap yang harus dipegang oleh seorang pengkaji ilmu dan pemikiran Islam, agar hasil kajian ilmu dan pemikirannya layak dipegang dan diikuti. Di antaranya adalah:

1. Al-Qur’an dan as-Sunnah Sebagai Rujukan Utama

Memang benar, dalam tradisi keilmuan Islam, tak semua orang mampu merujuk langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang untuk bisa mengambil sebuah kesimpulan hukum dan pemahaman dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Ini tak perlu dipersoalkan.

Yang jadi masalah, di masa sekarang, banyak sekali orang yang melontarkan gagasan, ide dan pendapat, yang sebagiannya bertentangan bahkan bertolak belakang dengan yang lain. Menghadapi kondisi seperti ini, bagaimana sikap kita seharusnya? Di posisi inilah, al-Qur’an dan as-Sunnah harus menjadi rujukan utama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah an-Nisaa ayat 59:

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

Artinya: “Jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.

Makna ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ dalam ayat di atas adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, sebagaimana disampaikan oleh Imam Mujahid yang dikutip oleh Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya. Lebih lanjut, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah ‘azza wa jalla untuk merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah dalam setiap perkara yang diperselisihkan oleh manusia, baik dalam hal pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya.

Dalam praktiknya, bagi kebanyakan orang yang derajat keilmuannya belum mencapai mujtahid, yang bisa dilakukan adalah mencoba membandingkan beberapa pendapat yang ada, yang mana yang lebih dekat dengan al-Qur’an dan as-Sunnah maka itulah yang diambil. Yang dimaksud lebih dekat dengan al-Qur’an dan as-Sunnah ini tentu sebatas yang dipahami olehnya, dari sedikit ilmu yang pernah dia pelajari.

Jika ada pendapat yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang mudah dipahami oleh kebanyakan orang, seperti tentang kepastian adanya hari kiamat dan perhitungan amal manusia, kekuasaan Allah atas segala sesuatu, atau tentang status Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi, maka pendapat yang menyelisihi prinsip-prinsip ini bisa dipastikan keliru, bahkan sesat dan menyesatkan.

Jika ada dua pendapat yang dua-duanya memiliki hujjah yang kuat, yang sulit bagi kebanyakan orang untuk memilah mana yang lebih kuat, maka yang perlu dilakukan adalah mengambil salah satu pendapat berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya pendapat tersebut lebih banyak diamalkan oleh para ulama, atau yang mengemukakan pendapat tersebut kapasitas keilmuannya lebih diakui oleh para ulama, dan lain-lain. Dengan catatan, pendapat yang berbeda dengan pendapat yang kita ikuti tidak boleh dicela, karena faktanya kita sendiri sebenarnya tak mengetahui pendapat manakah yang lebih kuat.

2. Jujur dan Bertanggung Jawab dalam Penukilan

Kekeliruan mendasar yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang adalah mengutip suatu perkataan, baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shahabat, tabi’in maupun para ulama setelah mereka, tanpa menyebutkan dari mana kata-kata tersebut mereka dapatkan.

Jika seorang ahli Hadits yang berkata ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’, tentu pernyataan tersebut bisa dipertanggung jawabkan, namun jika orang awam atau thalibul ‘ilm ‘kemarin sore’ yang berkata ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’ tanpa menyebutkan dari kitab mana dia ambil kata-kata tersebut, kita patut ragu dan curiga, jangan-jangan perkataan yang dia sandarkan kepada Nabi tersebut bukanlah perkataan Nabi. Wal ‘iyadzu billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” [Hadits mutawatir, dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim dan selain mereka. Menurut Dr. Mahmud ath-Thahhan, hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 orang shahabat, dan jumlah yang banyak ini terus berlangsung sepanjang thabaqat sanad.]

Hadits di atas mengancam orang-orang yang berdusta atas nama Nabi, mengatakan bahwa Nabi berkata begini dan begini, padahal Nabi tidak pernah mengatakan demikian. Termasuk dalam hal ini adalah mengatakan ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’, padahal ia tidak mengetahui apakah perkataan tersebut benar-benar berasal dari Nabi atau bukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

Artinya: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menyampaikan semua yang ia dengar.” [Dikeluarkan oleh Muslim (I/10).]

Mengomentari hadits ini, Ibn Hibban berkata, “khabar ini berupaya mencegah seseorang menyampaikan semua yang ia dengar, sampai ia yakin atas keshahihannya.” (pernyataan Ibn Hibban ini dikutip oleh al-Albani dalam kitab Tamamul Minnah fi at-Ta’liq ‘ala Fiqh as-Sunnah hal. 33).

Ada lagi kekeliruan yang juga masih sering dilakukan, yaitu mengutip suatu perkataan atau teks, kemudian menyebutkan sumber rujukannya, yang sebenarnya tak pernah diaksesnya. Misalnya seperti ini, “Imam asy-Syafi’i berkata, ‘siapa saja yang melakukan istihsan, sesungguhnya ia telah membuat syari’at sendiri’. (al-Mustashfa hal. 171).”, apa yang salah dari kutipan tersebut? Tidak ada yang salah, jika ia memang mengutipnya langsung dari kitab al-Mustashfa-nya al-Ghazali. Menjadi keliru, jika sebenarnya ia sama sekali tak pernah membaca isi kitab tersebut, ia ternyata hanya melakukan copy-paste dari tulisan orang lain.

Kekeliruan semacam ini, walaupun terkesan sepele, namun tetaplah penting. Dalam ilmu hadits, orang yang melakukan kekeliruan semacam ini serupa dengan perawi yang mudallis. Perawi tersebut mengatakan ‘fulan A berkata’, padahal ia tak pernah mendengarnya langsung dari fulan A tersebut. Sebenarnya, hadits tersebut ia dengar dari fulan C, fulan C sendiri mendengarnya dari fulan B, dan fulan B lah yang benar-benar mendengar dari fulan A. Jadi si perawi mudallis menghilangkan dua orang sekaligus (yaitu fulan C dan B). Dalam ilmu Hadits, seorang perawi mudallis seperti ini secara umum dikategorikan dha’if.

Sebenarnya, dalam karya-karya ilmiah standar yang berlaku saat ini pun, kekeliruan semacam ini tak dapat ditoleransi.

Dari sisi lain, kejujuran dalam penukilan juga bisa dilihat dari kesamaan pemahaman si penukil dengan maksud dan tujuan sebenarnya dari teks atau perkataan yang ia kutip. Saat ini, kalangan liberal seringkali mengutip ayat al-Qur’an, al-Hadits maupun qaul ‘ulama untuk mendukung pemahaman mereka, padahal yang dimaksud oleh teks atau perkataan tersebut tidaklah mendukung pemahaman mereka.

Sebagai contoh, makna rahmatan lil ‘aalamiin yang disandingkan dengan Islam –menjadi Islam rahmatan lil ‘aalamiin– sering dimaknai oleh kalangan liberal sebagai Islam yang sangat toleran, anti kekerasan (termasuk kekerasan pemikiran), dan tidak formalistik. Frase Islam rahmatan lil ‘aalamiin ini mereka ambil dari al-Qur’an surah al-Anbiyaa’ ayat 107. Benarkah pemahaman kalangan liberal ini? Silakan baca tulisan saya yang berjudul ‘Makna Rahmatan Lil ‘Aalamiin, Antara Pluralisme dan Islam‘.

3. Berlapang Dada Terhadap Perbedaan Pendapat dan Terbuka Terhadap Kemungkinan Kebenaran dari Pihak Lain

Dalam perkara-perkara ijtihadiyah, peluang terjadinya perbedaan pendapat terbuka lebar. Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama kontemporer, menyebutkan beberapa kondisi yang menyebabkan para fuqaha berbeda pendapat (baca: Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat di Kalangan Fuqaha Menurut Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili), dan ini wajar terjadi.

Namun sangat disayangkan, sebagian orang, yang bahkan keilmuannya pun belum matang, menjadikan perbedaan pendapat semacam ini sebagai dasar untuk menghujat pihak lain. Seakan-akan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang ia ikuti adalah mutlak salah, sesat dan menyesatkan. Juga tak jarang terjadi, antar kelompok, antar madzhab fiqih, atau antar pengikut ulama tertentu, bermusuhan hanya karena perbedaan dalam perkara-perkara furu’i.

Bagaimana teladan dari generasi salafus shalih? Mari kita simak pernyataan Imam Malik ibn Anas berikut ini:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في قولي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوا به وما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

Artinya: “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah.” [Dikutip dari kitab I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin, Juz 1 hal. 60 karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah]

Lihatlah perkataan Imam Malik di atas, beliau yang kapasitas keilmuannya tak diragukan lagi, Imam Darul Hijrah, guru para ulama besar, ternyata tak memonopoli kebenaran. Beliau, dengan rendah hati, mengakui bahwa beliau hanyalah manusia biasa, yang bisa jadi benar, bisa juga keliru. Coba bandingkan dengan sikap sebagian orang saat ini, keilmuannya belum sampai setengah dari yang dimiliki Imam Malik, namun lagaknya sudah seperti ulama besar. Dengan gampangnya mereka meremehkan, menghujat dan bahkan menyesatkan pihak lain yang mengikuti pendapat berbeda dengan yang dianutnya.

Dalam riwayat yang masyhur, disebutkan di banyak kitab, Imam asy-Syafi’i pernah mengatakan, “Siapa saja yang melakukan istihsan, sesungguhnya ia telah membuat syari’at sendiri.” (Penisbahan ini misalnya disebutkan oleh al-Ghazali dalam al-Mustashfa [171], al-Amidi dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam [IV/156] dan al-Qarafi dalam al-Furuq [IV/145]). Dan sudah masyhur, Imam Malik adalah ulama yang menggunakan istihsan dalam ushul fiqihnya (lihat al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [I/46]). Apakah Imam asy-Syafi’i pernah menghujat atau menyesatkan Imam Malik? Tak pernah sama sekali.

Imam Ahmad berpendapat bahwa wajib wudhu karena keluar darah dari hidung dan karena berbekam. Kemudian beliau ditanya, “Jika imam shalat keluar darah, dan ia tidak berwudhu lagi, apakah saya tetap shalat di belakangnya?”, imam Ahmad menjawab, “Mengapa engkau tidak mau shalat di belakang Sa’id ibn al-Musayyib dan Malik?” (cerita ini saya dapatkan di Fatawa Mu’ashirah Juz I karya Dr. Yusuf al-Qaradhawi, baca online di: http://www.qaradawi.net/library/50/2284.html, dan di Adab al-Ikhtilaf fi al-Islam karya Dr. Thaha Jabir Fayadh al-‘Alwani, baca online di: http://www.islamweb.net/newlibrary/display_umma.php?lang=A&BabId=10&ChapterId=10&BookId=209&CatId=201&startno=0; keduanya diakses pada tanggal 11 Februari 2012).

Lihatlah Imam Ahmad, walaupun beliau berbeda pendapat dengan Imam Malik dan Sa’id ibn al-Musayyib, tidak sedikitpun beliau merendahkan kedudukan mereka berdua.

Perbedaan pendapat, dalam perkara ijtihadiyah, sangat memungkinkan melahirkan beragam pendapat. Menghadapi hal ini, seharusnya kita bisa berlapang dada. Walaupun kita menganggap pendapat yang kita ikuti lebih kuat, kita tetap harus menghormati orang lain yang pendapatnya berbeda. Adanya keragaman pendapat ini juga seharusnya membuka cakrawala berpikir kita, jika ternyata kebenaran ada pada orang lain, kita harus siap untuk menerima kebenaran tersebut dan meninggalkan pendapat kita sebelumnya.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Agustus 16, 2015

    […] Untuk melihat sedikit gambaran bagaimana para ulama panutan kita menghadapi perbedaan pendapat, silakan baca tulisan saya yang berjudul “Beberapa Sikap Ilmiah dalam Pengkajian Ilmu dan Pemikiran Islam”. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *