Belajar Keteguhan Iman dari Imam Al-Buwaithi

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Salah satu ulama yang dizhalimi oleh Al-Ma’mun, khalifah Bani ‘Abbasiyah, terkait fitnah khalqul Qur’an, adalah Imam Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi, murid utama dari Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, sekaligus yang menggantikan beliau dalam halqah ilmu di Mesir.

Beliau rahimahullah wafat tahun 231 Hijriyyah dalam tahanan, di kota Baghdad.

Walaupun dalam tahanan, beliau tak pernah mengabaikan sedikitpun hak Allah atas beliau. Dalam salah satu riwayat disebutkan (sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abu Zahrah dalam Asy-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Ashruhu Araa’uhu wa Fiqhuhu, mengutip dari Imam As-Subki), Imam Al-Buwaithi dalam penjara selalu mandi tiap jum’at, memakai wewangian, dan mencuci pakaiannya, kemudian menuju pintu keluar penjara saat mendengar adzan jum’at. Namun petugas penjara menyuruh beliau kembali. Lalu beliau bermunajat, “Ya Allah, sungguh aku telah menjawab panggilan-Mu, tapi mereka melarangku.”

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dalam riwayat tentang Al-Buwaithi ini, di antaranya:

1. Para ahli ilmu tetap teguh dalam keislamannya, dan komitmen terhadap kewajibannya kepada Allah ta’ala, walaupun sedang dalam kesulitan, bahkan dalam kungkungan orang-orang zhalim. Imam Al-Buwaithi tetap berusaha menunaikan panggilan Allah ta’ala untuk shalat jum’at, walaupun keadaan sulit bagi beliau saat itu.

2. Para ahli ilmu teguh memegang kebenaran dan melawan kebathilan, walaupun harus berhadapan dengan penguasa zhalim sekalipun. Ini yang ditunjukkan oleh Imam Al-Buwaithi dan ulama lainnya. Tokoh paling terkenal dalam hal ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah ta’ala merahmati mereka semuanya.

3. Walaupun suatu negara itu bernama Khilafah, bukan berarti tak ada kezhaliman. Kezhaliman dari Al-Ma’mun ini hanya salah satu contoh. Kezhaliman-kezhaliman lain dari ‘Abbasiyyah, Umawiyyah, maupun ‘Utsmaniyyah juga bisa disebutkan. Dan semua valid, disebutkan dalam berbagai buku sejarah yang ditulis oleh ulama tarikh.

Kita tak memungkiri, umat Islam di masa Khilafah dulu memiliki ‘izzah, kemuliaan dan kehormatan, lebih dari sekarang. Peradaban Islam di masa Khilafah dulu memang menjulang tinggi, menjadi mercusuar dunia. Namun, bukan berarti kemudian kita boleh ghuluw, dengan menutup-nutupi aib yang ada.

Berbagai cacat yang ada itu harus terlihat di mata kita, agar kita sadar bahwa sebaik-baiknya dasar negara, ia tetap berpeluang cacat, karena ia disetir oleh manusia, yang kadang baik, kadang buruk. Karenanya, menyiapkan individu-individu yang shalih dan berilmu harus diperhatikan, agar tak lahir Hajjaj bin Yusuf atau Al-Ma’mun yang baru.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *