Berkah Orangtua yang Shalih (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Kahfi, Ayat 82)

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Artinya: “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan tidaklah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Ayat ini merupakan bagian dari cerita panjang pertemuan Nabi Musa dan Khidhr ‘alaihimas salam. Khidhr melakukan tiga hal yang tidak bisa dipahami oleh Musa. Beliau merusak perahu milik nelayan, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki dinding rumah di sebuah kota, di mana penduduknya tidak mau menjamu mereka berdua, dan beliau pun tidak meminta upah atas pekerjaannya memperbaiki dinding rumah tersebut.

Ayat ini berisi penjelasan Khidhr kepada Musa, mengapa beliau memperbaiki dinding rumah tersebut. Dinding rumah ini ternyata adalah milik dua anak yatim, yang di bawahnya terdapat ‘kanzun’ (harta simpanan) milik mereka. Tentang hakikat dari ‘kanzun’ ini, para ahli tafsir berbeda pendapat, sebagaimana direkam oleh Ibnu Katsir.

‘Ikrimah, Qatadah, dan banyak ulama lainnya menyatakan bahwa maksudnya adalah ‘harta benda yang terpendam milik mereka berdua’. Pendapat ini sesuai dengan zhahir ungkapan yang terdapat pada ayat ini. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Ibnu ‘Abbas dalam satu riwayat, dan Sa’id ibn Jubair, menyatakan ‘kanzun’ yang dimaksud adalah perbendaharaan ilmu. Mujahid menyatakan maksudnya adalah shuhuf (lembaran-lembaran) yang berisi ilmu. Ibnu Katsir menyatakan bahwa pendapat ini dikuatkan oleh hadits marfu’.

Terdapat penjelasan-penjelasan lain tentang maksud dari ‘kanzun’ di ayat ini. Jika ingin memperdalamnya, silakan buka kitab-kitab tafsir.

Ikhwah fillah, Ada hal yang sangat menarik di ayat ini. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kebaikan atau amal shalih yang dilakukan oleh orangtua, itu bermanfaat bagi anak-anaknya. Inilah yang dimaksud oleh redaksi: وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا. Ibn Katsir berkata tentang redaksi ini: “Di dalamnya terdapat dalil bahwa seorang laki-laki yang shalih akan menjaga keturunannya, dan keberkahan ibadahnya ini akan dirasakan oleh keturunannya di dunia dan akhirat.”

Bahkan, ia tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak kandungnya saja, namun bisa sampai tujuh turunan. Hal ini sesuai dengan penjelasan para ulama tafsir –misalnya Ibnu Katsir dan Az-Zuhaili– bahwa, yang dimaksud ‘ayah mereka’ di ayat ini adalah ayah generasi ke tujuh. Ayah pertama kita adalah ayah kandung kita, ayah generasi kedua adalah kakek kita (ayah dari ayah kita), ayah generasi ketiga adalah ayah dari kakek kita, dan seterusnya.

Jadi, kebaikan yang kita lakukan, itu bermanfaat untuk keturunan kita, sampai cicit dan buyut kita. Mereka akan meraih kebaikan dari nenek moyang mereka yang shalih, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah kemurahan Allah ta’ala bagi manusia.

Semoga Allah tabaaraka wa ta’ala memudahkan langkah kita menjadi pribadi-pribadi yang shalih dan mushlih, hingga kita dan keturunan kita –dengan kemurahan Allah– mendapatkan manfaatnya dunia dan akhirat.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *