Bolehkah Taqlid dalam Perkara Furu’?

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Yang dimaksud perkara furu’ di sini adalah hukum ‘amaliyah yang ditetapkan melalui jalur yang zhanni.

Dalam Ushul al-Fiqh al-Islami (2/406-410), Wahbah az-Zuhaili menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum taqlid dlm perkara furu’ ini, yang secara garis besar terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Wajib ijtihad bagi setiap mukallaf dlm setiap urusan agamanya, tidak boleh bertaqlid sama sekali.

Ini adalah pendapat Zhahiriyyah, Mu’tazilah Baghdad dan sekelompok orang dari kalangan Imamiyyah.

Ibn Hazm dalam al-Ihkam (6/150) berkata: “Taqlid haram dalam seluruh bagian syari’ah, awalnya hingga akhirnya, dalam perkara tauhid, nubuwwah, al-qadr, iman, al-wa’id, imamah, mufadhalah, serta seluruh ibadah dan hukum.”

2. Tidak boleh melakukan ijtihad dan penelitian, taqlid wajib hukumnya setelah masa para imam mujtahidin.

Ini adalah pendapat kelompok sesat Hasyawiyyah dan Ta’limiyyah. Hasyawiyyah termasuk dari kalangan Mujassimah, sedangkan Ta’limiyyah adalah salah satu sekte Bathiniyyah.

3. Ijtihad bukan perkara yang terlarang, adapun taqlid ia haram bagi seorang mujtahid dan wajib bagi seorang ‘aammi. Yg dimaksud ‘aammi di sini adalah orang yang tidak memiliki kemampuan berijtihad, walaupun ia seorang alim.

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama muhaqqiq dan para pengikut imam yang empat.

Salah satu hujjah mereka adalah ijma’ Shahabat dan Tabi’in. Para mujtahid dari kalangan shahabat dan tabi’in biasa memberikan fatwa kepada orang awam yang bertanya kepada mereka tentang persoalan-persoalan baru, tanpa ada pengingkaran dari salah seorang di antara mereka atas hal ini.

Mereka pun tidak melarang kalangan awam bertanya kepada mereka, atau memerintahkan mereka mencapai derajat mujtahid. Dan ini, menurut az-Zuhaili merupakan perkara yang sudah ma’lum bidh dharurah, dan mutawatir di kalangan ulama dan awam.

Pendapat ketiga inilah pendapat yang benar.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *