Buta Terhadap Hujjah dari Allah (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-Israa, Ayat 72)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Artinya: “Barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat nanti ia akan buta pula dan lebih tersesat dari jalan yang benar.” (QS. Al-Israa [17]: 72)

Apakah yang dimaksud buta di ayat ini? Apakah ia buta sebagaimana yang kita pahami secara umum? Yang berarti, seseorang yang matanya buta di dunia, maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan buta pula di akhirat dan merugi?

Dalam ilmu ushul fiqih dijelaskan bahwa jika dalam suatu nash terdapat lafazh yang mengandung makna hakiki dan makna majazi, maka secara umum yang didahulukan adalah makna hakiki. Artinya, kita harus memahami makna suatu kata dalam nash dengan makna hakiki-nya, dan tidak boleh mengalihkannya ke makna majazi, kecuali ada indikasi yang mengarahkan ke sana. Artinya, jika makna hakiki dari buta adalah “tidak bisa melihat dengan mata fisik”, maka kita harus memahami kata buta dengan makna ini, kecuali ada indikasi yang mencegah kita menggunakannya.

Di ayat ini, kata buta tidak bisa dipahami maknanya secara hakiki. Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan, di antaranya karena ayat ini konteksnya berbicara tentang keadaan orang-orang kafir di akhirat kelak, berarti kata buta di sini adalah kata untuk menyifati orang-orang kafir, dan hanya sedikit orang-orang kafir yang buta mata fisiknya di dunia. Alasan lainnya, buta mata secara fisik bukanlah sesuatu yang bisa dipilih dan diinginkan oleh seseorang, dan jika orang-orang ini kembali buta di akhirat dan mendapat kerugian di sana, tentu ini bertentangan dengan keadilan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ini sejalan dengan penafsiran para ulama tafsir mu’tabar terhadap makna buta di ayat ini, bahwa maksud buta di sini bukanlah buta mata secara fisik, melainkan buta hati dan buta terhadap hujjah dan penjelasan dari Allah. Ini merupakan makna buta secara majazi. Makna majazi digunakan di ayat ini, karena ia lebih dekat pada makna yang diinginkan oleh ayat tersebut.

Menurut Az-Zuhaili, ayat ini sekaligus menunjukkan adanya majaz dalam Al-Qur’an.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *