Cara Turunnya Wahyu Allah Kepada Para Rasul

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Dalam istilah syara’, wahyu adalah kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi yang agak sedikit berbeda disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam Risalah At-Tauhid, menurut beliau wahyu adalah, “Pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, baik melalui perantara ataupun tidak, melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.”

Ada dua cara Allah menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya, yaitu (1) Melalui perantaraan Jibril, malaikat pembawa wahyu, dan (2) tanpa melalui perantara.

A. Wahyu yang Disampaikan Tanpa Melalui Perantara

Wahyu yang disampaikan tanpa perantara ada yang didapatkan dari mimpi yang benar dalam tidur, ada juga kalam ilahi dari balik tabir tanpa perantara.

Tentang mimpi yang benar, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أول ما بُدِئَ به -صلى الله عليه وسلم- الرؤيا الصالحة في النوم، فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح

Artinya: “Yang mula-mula terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi, kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari.” (muttafaq ‘alaih)

Dasar yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para nabi adalah wahyu yang wajib diikuti adalah mimpi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar menyembelih putranya, Ismail ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ, فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين

Artinya: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar. Tatkala anak itu telah sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. Ash-Shaffatt [37]: 101-102)

Adapun wahyu yang disampaikan di balik tabir tanpa perantara, itu terjadi pada Musa ‘alaihis salam. Allah ta’ala berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Artinya: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisaa [4]: 164)

Demikian pula, menurut pendapat yang paling shahih, Allah ta’ala pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada malam isra’ mi’raj.

B. Wahyu yang Disampaikan Melalui Perantaraan Jibril ‘Alaihis Salam

Dengan cara inilah, Al-Qur’an Al-Karim diturunkan. Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, wahyu datang kepada Rasul dengan suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi kesadaran, sehingga ia siap menerima wahyu tersebut. Cara ini yang paling berat bagi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suara ini mungkin berasal dari kepakan sayap malaikat, sebagaimana diisyaratkan oleh hadits:

إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانًا لقوله كالسلسلة على صفوان

Artinya: “Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua, Jibril menjelma sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan bagi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua cara di atas disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ

Artinya: “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Terkadang juga, malaikat menjelma di hadapanku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan aku pun memahami apa yang dia katakan.”

Demikianlah cara penyampaian wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.

Marja’:
Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, karya Manna’ al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *