Cinta Dunia (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Ar-Ra’d, Ayat 26)

Ikhwah fillah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِر

Artinya: “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 26)

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam At-Tafsiir Al-Muniir, saat menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa Allah ta’ala-lah yang meluaskan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki, dan menyempitkannya bagi yang Dia kehendaki. Hal ini mengandung hikmah dan keadilan di sisi Allah. Dia melakukan hal ini tanpa memperhatikan apakah orang tersebut mukmin atau kafir.

Kadang Allah menyempitkan rezeki orang yang beriman, sebagai cobaan dan ujian, serta peluang tambahan pahala baginya. Kadang juga Allah meluaskan rezeki orang yang kufur kepada-Nya, sebagai istidraj dan hal itu akan diharamkan baginya di akhirat kelak.

Jadi, kelapangan rezeki yang didapatkan orang kafir bukanlah petunjuk bahwa ia dimuliakan dan diridhai Allah. Sebaliknya, sempitnya rezeki yang dialami orang yang beriman, bukanlah petunjuk bahwa ia sedang dihinakan dan dimurkai Allah.

Ayat ini kemudian berlanjut:

وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Artinya: “Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia. Padahal kehidupan di dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 26)

Syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shabuni, dalam Shafwah At-Tafaasir, menyatakan bahwa orang-orang musyrik sangat bergembira dengan kenikmatan dunia yang mereka miliki, kegembiraan yang disertai kesombongan dan sikap melampaui batas. Sikap mereka ini merupakan sikap yang tercela.

Kedudukan dunia sangat rendah dibandingkan akhirat, dan nikmat di dunia sangat sedikit dibandingkan nikmat akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِع

Artinya: “Demi Allah, perumpamaan antara dunia dengan akhirat ibarat seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah apa yang menempel padanya?” (HR. Muslim)

Ikhwah fillah, semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memposisikan dunia sebagaimana mestinya. Tak terlarang kita mencari harta dunia, namun itu harus ditujukan untuk memenuhi kewajiban nafkah dan infaq, serta sebagai bekal untuk meraih kejayaan di akhirat. Tak layak bagi orang yang beriman meletakkan kecintaan terhadap dunia di hatinya, hingga mengabaikan kehidupan hakiki di akhirat. Sikap seperti ini adalah sikap orang-orang kafir, bukan sikap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *