Gangguan Jin dan Hukum Meminta Bantuan Jin

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Mungkinkah Jin Mengganggu Manusia?

Jumhur ulama Ahlus sunnah -bahkan ada yang mengatakan ijma’ mereka- mengakui mungkinnya jin mengganggu manusia bahkan merasuki tubuhnya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah, saat menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 275 menyatakan:

“Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan fasadnya pengingkaran orang yang mengingkari fenomena kesurupan karena jin, dan menganggap bahwa itu hanya murni penyakit badan, sedangkan setan tidak bisa mengalir di dalam tubuh manusia dan tidak bisa menyentuhnya.”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya, juz ke-24, meriwayatkan bahwa Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal pernah berkata pada ayahnya, “Beberapa orang menyatakan jin tidak bisa masuk ke tubuh orang yang kesurupan”, Imam Ahmad menjawab, “Wahai anakku, mereka berbohong. Jin itulah yang berbicara dengan lisannya”.

Setelah menyampaikan riwayat di atas, Ibnu Taimiyyah berkata:

“Yang dikatakan (Imam Ahmad) ini adalah perkara yang masyhur. Orang yang kerasukan berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami maknanya. Kadang ia dipukul dengan sangat keras di badannya, yang seandainya dipukulkan ke unta, unta tersebut tentu akan sangat kesakitan. Namun orang yang kesurupan ini tidak merasakan sakitnya pukulan tersebut dan tidak menyadari kata-kata yang telah ia keluarkan.”

Beliau bahkan menegaskan bahwa tidak ada seorang pun ulama kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin ke tubuh orang yang kesurupan

Bolehkah Berobat dengan Bantuan Jin?

Misalnya fenomena sebagian orang yang mendatangi ‘tuan guru’ atau ‘tukang tetambaan’, dan telah masyhur mereka menggunakan jin dalam prakteknya. Penulis sendiri menduga kuat kebanyakan mereka memang menggunakan jin dalam prakteknya, berdasarkan pengalaman penulis bersinggungan dengan dunia ini belasan tahun.

Ulama ikhtilaf dalam hal ini. Ibnu Taimiyyah, dalam kitab Daqaiq at-Tafsir, menyatakan hukum berinteraksi dan meminta bantuan jin terbagi tiga, yaitu (1) haram, yaitu meminta bantuan mereka pada perkara yang diharamkan, semisal syirik, berbuat kezhaliman, dan semisalnya; (2) Mubah, yaitu meminta bantuan mereka pada perkara yang mubah, misal menghadirkan hartanya, menunjukkan tempat yang terdapat harta tak bertuan, melindunginya dari orang-orang jahat, dan semisalnya; (3) Menggunakan mereka dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah aktivitas yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang mengikuti beliau.

Sedangkan beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Shalih Al-Fauzan melarang meminta bantuan jin secara mutlak (fatwa mereka bisa di baca di sini: http://www.al-afak.com/showthread.php?t=6018, diakses tanggal 13 November 2014). Dan inilah yang diikuti kebanyakan peruqyah.

Namun, walaupun ulama ikhtilaf di dalamnya, lebih baik kita berhati-hati dan menghindari meminta bantuan kepada ‘tukang tetamba’ yang berteman dengan jin tersebut. Apalagi jika belum jelas bagi kita kelurusan aqidah dan keterikatannya terhadap Syariah. Jangan sampai berniat berobat, yang ada malah terjerat dengan ritual yang tidak Islami dan dekat pada kesyirikan. Na’udzubillahi min dzaalik.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *