Hadits Dhaif Karena Terputusnya Sanad Secara Zhahir

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Pengantar

Hadits dhaif secara umum disebabkan oleh dua hal, yaitu terputusnya jalur sanad (jalur periwayatan hadits) dan cacatnya rawi.

Masing-masing sebab di atas memiliki istilah-istilah khusus, untuk yang terputusnya sanad misalnya kita kenal istilah hadits mu’allaq, hadits mursal khafi, dan lain-lain. Sedangkan untuk yang cacatnya rawi, kita kenal istilah hadits maudhu’ (palsu), hadits munkar, hadits matruk, dan lain sebagainya.

Hadits dhaif yang disebabkan terputusnya jalur sanad pun terbagi dua, yaitu yang tampak keterputusan sanadnya dan yang tersembunyi. Untuk yang tampak keterputusan sanadnya, para pengkaji hadits mudah mengetahuinya, sedangkan untuk yang tersembunyi hanya diketahui oleh sedikit ahli hadits yang sangat cermat dan teliti dalam menelusuri jalur-jalur periwayatan hadits.

Tulisan kali ini akan membahas macam-macam hadits yang tampak jelas keterputusan sanadnya, yaitu hadits mu’allaq, mursal, mu’dhal, dan munqathi’.

B. Hadits Mu’allaq

Hadits mu’allaq adalah hadits yang terputus jalur sanadnya dari awal sanad, baik yang terputus itu satu maupun beberapa rawi sekaligus secara berurutan.

Yang dimaksud dengan awal sanad adalah guru atau syaikh dari penulis kitab hadits, karena darinya lah penulis hadits menerima periwayatan hadits.

Contoh Hadits Mu’allaq

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam muqaddimah Bab “Maa Yudzkaru fil Fakhdzi”, Abu Musa berkata:

غطى النبي صلى الله عليه وسلم ركبتيه حين دخل عثمان

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupi kedua lututnya ketika ‘Utsman masuk.”

Hadits di atas merupakan hadits mu’allaq karena Al-Bukhari menghilangkan seluruh jalur sanadnya, kecuali shahabat, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu.

Hukum Hadits Mu’allaq

Hadits mu’allaq hukumnya mardud (tertolak/dhaif), karena salah satu syarat hadits maqbul hilang, yaitu bersambungnya sanad.

Adapun hadits mu’allaq yang terdapat dalam kitab Shahihayn (khususnya Shahih Al-Bukhari), ada hukum khusus tentangnya, yaitu:

(a) Jika ia diriwayatkan dengan bentuk lafazh tegas, seperti ‘qaala’, ‘dzakara’, dan semisalnya, maka hukumnya shahih.

(b) Jika diriwayatkan dengan bentuk lafazh yang tidak tegas, seperti ‘qiila’, ‘dzukira’, dan semisalnya, maka ia bisa shahih, hasan, atau dhaif.

C. Hadits Mursal

Hadits mursal adalah hadits yang terputus akhir sanadnya, setelah seorang tabi’in.

Gambarannya, seorang tabi’in berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Contoh Hadits Mursal

Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya pada kitab “al-Buyu’”, ia berkata: Telah menceritakan pada kami Muhammad ibn Rafi’, telah menceritakan pada kami Hajin, telah menceritakan pada kami al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibn Syihab, dari Sa’id ibn al-Musayyab:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع المزابنة

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli muzabanah.”

Sa’id ibn al-Musayyab adalah seorang tabi’in senior, dan ia meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Definisi Mursal Menurut Ahli Fiqih dan Ahli Ushul Fiqih

Definisi mursal di atas merupakan definisi menurut para ahli hadits, sedangkan mursal menurut ahli fiqih dan ahli ushul lebih umum dari itu. Menurut mereka, hadits mursal adalah hadits yang terputus jalur sanadnya, di bagian manapun terputusnya tersebut.

Ini perlu diperhatikan, agar kita bisa memahami jika seorang ahli fiqih atau ahli ushul fiqih menyebut istilah mursal, bisa jadi yang ia maksud bukan mursal berdasarkan definisi ahli hadits.

Hukum Hadits Mursal

Pada dasarnya hukum hadits mursal adalah mardud, karena terputusnya jalur sanad. Namun, para ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun lainnya berbeda pendapat tentang hukum hadits mursal ini.

Sebab perbedaan ini adalah karena adanya kemungkinan sanad yang hilang pada hadits mursal ini adalah seorang shahabat. Dan kita pahami bersama, seluruh shahabat adil, hingga jika diketahui hadits tersebut dari shahabat (walaupun nama shahabat tersebut tak disebutkan) haditsnya tetap shahih. Namun, keterputusan hadits mursal ini juga ada kemungkinan bukan hanya di shahabat, karena bisa saja seorang tabi’in meriwayatkan hadits dari tabi’in lainnya, bukan langsung dari shahabat.

Ada tiga pendapat ulama tentang hadits mursal ini, yaitu:

(1) Dhaif dan tertolak. Ini adalah pendapat mayoritas ahli hadits dan kebanyakan ahli fiqih dan ahli ushul. Argumen mereka adalah tidak diketahuinya keadaan rawi yang dihilangkan dalam jalur sanad, dan ada kemungkinan ia bukan shahabat.

(2) Shahih dan bisa dijadikan hujjah. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Ahmad (berdasarkan riwayat yang masyhur dari beliau), dan sekelompok ulama. Syaratnya adalah yang meriwayatkan secara mursal tersebut (yaitu tabi’in) haruslah seorang yang tsiqah (terpercaya, adil dan dhabith). Seorang yang tsiqah tidak mungkin berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’, kecuali ia juga mendengarnya langsung dari orang yang sama-sama terpercaya.

(3) Haditsnya maqbul dengan syarat-syarat tertentu. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan sebagian ulama lainnya. Ada 4 syarat yang diajukan, yaitu:

– Rawi yang meriwayatkan secara mursal tersebut haruslah seorang tabi’in senior (usianya dekat dengan usia shahabat);
– Jika perawi mursal tadi ditanya tentang nama rawi yang dihilangkan, ia akan menyebut nama seorang yang tsiqah;
– Jika perawi mursal ini meriwayatkan hadits yang juga diriwayatkan oleh para perawi yang hafizh terpercaya, riwayatnya tidak bertentangan. Artinya, ia seorang yang sangat kuat kedhabithannya (hafalan dan rekam tulisannya);
– Dan tiga syarat di atas harus berbarengan dengan salah satu hal berikut ini: (a) hadits tersebut diriwayatkan melalui jalur lain secara musnad (tidak mursal), atau (b) hadits tersebut diriwayatkan melalui jalur lain secara mursal juga namun bukan berasal dari rawi mursal yang sebelumnya (artinya rawi mursalnya berbeda lagi), atau (c) hadits tersebut sesuai dengan qaul shahabi (pendapat salah seorang shahabat Nabi), atau (d) hadits tersebut sesuai dengan isi fatwa yang dikeluarkan oleh mayoritas ulama.

Mursal Shahabi

Ada lagi istilah yang terkait dengan hadits mursal, yaitu mursal shahabi. Mursal shahabi adalah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik perkataan maupun perbuatan, sedangkan mereka tidak mendengar atau melihat langsung Nabi melakukan hal tersebut. Ini bisa jadi karena usia mereka yang masih sangat muda di masa Nabi atau karena mereka masuk Islam di masa-masa terakhir hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits mursal shahabi ini shahih dan boleh dijadikan hujjah, karena seorang shahabat (yang tidak langsung melihat atau mendengar hadits Nabi tersebut) tentu meriwayatkan dari shahabat lainnya. Kemungkinan ia meriwayatkan dari tabi’in sangat kecil. Dan periwayatan dari shahabat, walaupun namanya tak disebutkan, hukumnya shahih.

D. Hadits Mu’dhal

Hadits mu’dhal adalah hadits yang putus atau hilang jalur sanadnya, dua sanad atau lebih sekaligus secara berurutan.

Contoh Hadits Mu’dhal

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Ma’rifah ‘Uluum al-Hadits, berdasarkan sanadnya dari Al-Qa’nabi, dari Malik, bahwa ia menyampaikan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

للمملوك طعامه وكسوته بالمعروف، ولا يكلف من العمل إلا ما يطيق

Artinya: “Seorang mamluuk berhak mendapatkan makanan dan pakaian secara ma’ruf, dan ia tidak boleh dibebani kerja, kecuali yang ia sanggup lakukan.”

Al-Hakim berkata: Hadits ini mu’dhal dari Malik, ia me-mu’dhal-kannya dalam al-Muwaththa.

Hadits ini mu’dhal karena terdapat dua rawi yang dihilangkan antara Malik dan Abu Hurairah. Dan ini diketahui setelah melihat periwayatan hadits yang sama di luar kitab al-Muwaththa, yang jalurnya adalah dari Malik, dari Muhammad ibn ‘Ajlan, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.

Hukum Hadits Mu’dhal

Hadits mu’dhal adalah hadits dhaif, dan ia lebih buruk dari hadits mursal dan munqathi’, karena banyaknya rawi yang dihilangkan.

Sedangkan dengan hadits mu’allaq, ia bisa bersamaan. Artinya pada kondisi tertentu, hadits mu’dhal juga adalah hadits mu’allaq, yaitu saat dua atau lebih rawi yang dihilangkan itu terletak di awal sanad.

E. Hadits Munqathi’

Hadits munqathi’ adalah hadits yang terputus atau hilang jalur sanadnya, di manapun letak keterputusan atau hilangnya tersebut.

Jadi hadits munqathi’ bisa saja sanadnya terputus di awal sanad, di tengah sanad, maupun di akhir sanad. Berdasarkan definisi ini, hadits munqathi’ bisa mencakup hadits mu’allaq, bisa juga mursal, atau mu’dhal.

Namun, ulama mushthalahul hadits mutaakhkhirin menggunakan istilah munqathi’ untuk hadits yang terputus sanadnya yang tidak memenuhi ketentuan hadits mu’allaq, hadits mursal, dan hadits mu’dhal. Artinya jika ada hadits yang terputus sanadnya, namun ia bukan mu’allaq, bukan mursal, bukan juga mu’dhal, maka ia adalah hadits munqathi’.

Contoh Hadits Munqathi’

Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Zaid ibn Yutsai’, dari Hudzaifah secar marfu’:

إن وليتموها أبا بكر فقوي أمين

Artinya: “Kalau kalian menjadikan Abu Bakar sebagai pemimpin, sungguh dia itu kuat dan terpercaya”.

Ada rawi yang dihilangkan pada jalur sanad ini di tengah-tengah sanadnya, yaitu Syarik. Ia berada di antara Ats-Tsauri dan Abu Ishaq. Ats-Tsauri tidak mendengar hadits ini dari Abu Ishaq secara langsung, ia mendengarnya dari Syarik, dan Syarik mendengarnya dari Abu Ishaq.

Hadits ini disebut munqathi’ karena tidak memenuhi ketentuan hadits mu’allaq, mursal, maupun mu’dhal.

Hukum Hadits Munqathi’

Hadits munqathi’ hukumnya dhaif berdasarkan ijma’ ulama, karena ia telah kehilangan salah satu syarat maqbulnya sebuah hadits, yaitu ketersambungan sanad.

Selesai dengan izin Allah ta’ala.

Rujukan:
Taysir Mushthalah al-Hadits karya Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *