Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Dilihat dari sampainya suatu hadits pada kita, hadits terbagi menjadi dua, yaitu mutawatir dan ahad. Hadits mutawatir (المتواتر) adalah hadits yang memiliki jalan periwayatan yang banyak dan tidak dibatasi jumlah tertentu. Sedangkan hadits ahad (الآحاد) adalah hadits yang memiliki jalan periwayatan yang terbatas pada jumlah tertentu. Ada juga yang membagi menjadi tiga, yaitu mutawatir, masyhur dan ahad.

Hadits Mutawatir

(a) Definisi

Bahasa:

Isim fa’il, bentukan dari kata at-tawatur (التواتر), yang berarti at-tatabu’ (berturut-turut/berterusan). Misalnya dikatakan tawataral mathar, artinya hujannya turun secara terus-menerus.

Istilah:

ما رواه عدد كثير، تحيل العادة تواطؤهم على الكذب

Artinya: “Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang, dan menurut kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat berbohong.”

Maksudnya hadits atau khabar mutawatir ini adalah hadits yang diriwayatkan di setiap tingkatan sanad (jalur periwayatan hadits) oleh banyak sekali periwayat hadits (rawi), hingga secara akal tidak ada kemungkinan seluruh rawi tersebut bersepakat dalam membuat-buat atau memalsukan hadits tersebut.

(b) Syarat Terwujudnya

Dari definisi di atas, hadits mutawatir tak terwujud kecuali memenuhi syarat-syarat berikut ini:

1) Diriwayatkan oleh sejumlah besar orang. Ulama berbeda pendapat tentang jumlah batas minimalnya.

2) Jumlah yang banyak ini terdapat di setiap tingkatan sanad (jalur periwayatan hadits).

3) Menurut kebiasaan tidak mungkin mereka sepakat berbohong. Misalnya karena rawi-rawi tersebut berasal dari negeri yang berbeda, bangsa yang berbeda, atau madzhab yang berbeda.

4) Penyandarannya melalui panca indra, misal ‘kami dengar’, ‘kami lihat’, dan yang semisalnya. Jika penyandarannya melalui perenungan, mimpi atau yang semisalnya, ia tidak dianggap mutawatir.

(c) Hukumnya

Hadits mutawatir yufidu al-’ilm adh-dharuri, pasti benarnya. Manusia wajib membenarkannya dengan pembenaran yang bersifat pasti (tashdiqan jaaziman), sebagaimana kebenaran perkara yang ia lihat sendiri secara langsung. Oleh karena itu, seluruh hadits mutawatir hukumnya maqbul (diterima dan menjadi hujjah), tanpa perlu ada penelitian lagi terhadap keadaan para perawinya.

Az-Zuhaili bahkan menegaskan, yang mengingkari hadits mutawatir divonis kafir.

(d) Pembagiannya

Hadits mutawatir terbagi menjadi dua, yaitu:

1) Mutawatir lafzhi

Yaitu hadits yang mutawatir lafazh dan maknanya.

Misalnya hadits:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: “Barangsiapa berdusta atasku secara sengaja, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Keterangan:

Dalam Taysir Mushthalah al-Hadits disebutkan hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 orang shahabat, dan jumlah periwayat hadits ini terus bertambah di tingkatan selanjutnya. Yang juga menyatakan hal ini misalnya adalah al-‘Iraqi.

Sedangkan menurut Ibn ash-Shalah, hadits ini diriwayatkan oleh 62 shahabat.

2) Mutawatir maknawi

Yaitu hadits yang maknanya mutawatir, namun lafazhnya tidak.

Misalnya hadits tentang mengangkat tangan saat berdoa. Terdapat sekitar 100 hadits, dengan redaksi berbeda-beda, namun di dalamnya mengandung informasi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan saat berdoa. Masing-masing haditsnya tidak mutawatir, namun informasi tentang Rasul yang mengangkat tangan saat berdoa pada hadits-hadits tersebut mutawatir.

Contoh mutawatir maknawi lainnya adalah hadits tentang al-haudh dan mengusap khuf saat berwudhu.

(e) Jumlahnya

Hadits mutawatir jumlahnya sangat sedikit, baik yang maknawi apalagi yang lafzhi.

Hadits Ahad

(a) Definisi

Bahasa:

Ahad (الآحاد) merupakan jamak dari أحد yang berarti wahid (satu). Khabar wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh satu orang.

Istilah:

ما لم يجمع شروط المتواتر

Artinya: “(Hadits) yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir.”

(b) Hukumnya

Menurut Mahmud ath-Thahhan, hadits ahad berfaidah ilmu nazhari (yufidu al-’ilm an-nazhari), yaitu ilmu yang didapatkan melalui nazhar dan istidlal. Perlu penelitian dan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui apakah hadits ahad tersebut bisa diterima atau tertolak.

Para ulama berbeda pendapat tentang hadits ahad, apakah ia berfaidah ‘ilmu atau berfaidah zhann:

1) Hadits ahad berfaidah ‘ilmu. Ini merupakan pendapat sebagian kalangan zhahiri dan salah satu riwayat dari imam Ahmad.

2) Hadits ahad berfaidah ‘ilmu jika dikuatkan oleh qarinah tertentu. Ini adalah pendapat Ibn Taimiyyah dan sebagian ahli hadits. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Amidi dari kalangan ulama ushul.

Qarinah apa saja yang bisa menjadikan hadits ahad berfaidah ilmu, ini perlu perincian, dan dalam perinciannya, yang memegang pendapat ini pun bisa jadi berbeda pendapat.

3) Hadits ahad berfaidah zhann, tidak berfaidah ‘ilmu yaqini. Menurut az-Zuhaili ini adalah pendapat mayoritas ulama dan sejumlah fuqaha.

Perlu dijelaskan, maksud berfaidah ‘ilmu atau zhann di sini adalah apakah hadits tersebut benar-benar bisa dipastikan (tanpa keraguan sedikit pun) berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Jika ia benar-benar berasal dari Rasulullah tanpa keraguan sedikit pun, maka yang mengingkarinya bisa divonis kafir, karena ia mengingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu kalangan Asya’irah –sebagaimana dijelaskan Hasan Hitu– dan yang mengikuti manhaj mereka tidak menjadikan hadits ahad hujjah dalam perkara aqidah. Makna aqidah versi Asya’irah adalah perkara yang menjadi pemisah antara keimanan dan kekufuran. Jika seseorang meyakini seluruh persoalan aqidah dalam Islam, ia berarti mukmin, sebaliknya jika ia mengingkari sebagian atau salah satunya, ia kafir. Persoalan iman dan kufur ini tak bisa dibangun di atas landasan yang tidak qath’i (pasti, tanpa keraguan sedikit pun), dan hadits ahad tidak berfaidah ‘ilmu qath’i, hanya zhanni, sehingga hadits ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara aqidah.

Perkara ini perlu pembahasan yang panjang dan lumayan rumit, bukan di sini tempat untuk berpanjang lebar membahasnya.

(c) Pembagiannya

Jika ditinjau dari jumlah jalan periwayatannya, hadits ahad terbagi menjadi tiga, yaitu masyhur, ‘aziz dan gharib.

Ditinjau dari kuat lemahnya hadits tersebut, hadits ahad terbagi menjadi dua, yaitu maqbul dan mardud.

Maklumat Tambahan

Pembahasan hadits terbagi menjadi mutawatir dan ahad ini tidak murni pembahasan para ahli hadits, bahkan yang lebih banyak perhatiannya terhadap hal ini adalah ulama ushul fiqih. Oleh karena itu, pembahasan ini cukup banyak tersaji di kitab-kitab ushul fiqih, baik klasik semisal al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam karya al-Amidi, maupun kontemporer seperti Ushul al-Fiqh al-Islami karya az-Zuhaili.

Bahkan secara tegas, as-Suyuthi menyatakan pembagian mutawatir menjadi mutawatir lafzhi dan mutawatir ma’nawi merupakan pembagian dari ulama ushul fiqih.

Termasuk persoalan krusial yang sering jadi perdebatan, apakah hadits ahad yufidul ‘ilm atau yufiduzh zhann, ia merupakan pembahasan ushul fiqih yang terpengaruh kuat oleh ilmu kalam. Siapapun yang pernah mempelajari perkembangan ilmu ushul fiqih tentu tahu, tokoh yang paling berperan dalam memasukkan pembahasan ilmu kalam dalam ushul fiqih adalah Imam al-Haramain dan muridnya, al-Ghazali.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Maraji’:
(1) Taysir Mushthalah al-Hadits karya Mahmud ath-Thahhan
(2) Ushul al-Fiqh al-Islami karya Wahbah az-Zuhaili
(3) Tadrib ar-Rawi karya as-Suyuthi
(4) Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam karya al-Amidi
(5) Dan lainnya

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *