Hadits Qudsi, Marfu’, Mauquf dan Maqthu’

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Berdasarkan kepada siapa penyandaran suatu khabar atau hadits, khabar atau hadits terbagi menjadi 4, yaitu:

1. Hadits Qudsi (الحديث القدسي)
2. Marfu’ (المرفوع)
3. Mauquf (الموقوف)
4. Maqthu’ (المقطوع)

***

Hadits Qudsi

A. Ta’rif

Bahasa:

Qudsi merupakan nisbah dari al-quds yang artinya suci. Hadits qudsi adalah hadits yang dinisbahkan pada zat yang Maha Suci, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Istilah:

ما نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل

Artinya: “Segala yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sanad yang sampai kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla.”

B. Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an Al-Karim

1. Al-Qur’an lafazh dan maknanya dari Allah ta’ala, sedangkan Hadits Qudsi maknanya saja yang dari Allah ta’ala, sedangkan lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Membaca al-Qur’an dinilai ibadah, sedangkan Hadits Qudsi tidak.

3. Al-Qur’an disyaratkan sumbernya harus mutawatir, sedangkan Hadits Qudsi tidak disyaratkan.

4. Al-Qur’an merupakan mukjizat hingga hari akhir dan tantangan bagi orang-orang kafir, sedangkan Hadits Qudsi tidak.

5. Dan beberapa perbedaan lainnya.

C. Perbedaan Hadits Qudsi dengan Hadits Nabawi

Hadits Qudsi dinisbahkan kepada Allah ta’ala, seperti قال الله تعالى dan yang semisalnya, sedangkan Hadits Nabawi tidak.

D. Contoh Hadits Qudsi

Hadits shahih riwayat Imam Muslim no. 2577:

عن أبي ذر رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم، فيما روى عن الله تبارك وتعالى أنه قال: “يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرما، فلا تظالموا … “

Artinya: Dari Abi Dzar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau riwayatkan dari Allah tabaraka wa ta’ala, yang Dia berfirman: “Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Kujadikan ia haram bagi kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi…”

***

Marfu’

A. Ta’rif

Bahasa:

Marfu’ merupakan isim maf’ul dari kata rafa’a (mengangkat/meninggikan), lawan dari kata wadha’a (meletakkan sesuatu). Dinamakan dengan marfu’ karena ia dinisbahkan ke pemilik kedudukan yang tinggi, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Istilah:

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول، أو فعل، أو تقرير، أو صفة

Artinya: “Segala yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifat beliau.”

B. Contoh Marfu’

Riwayat Imam al-Bukhari di kitab Shahih-nya no. 1, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ketika di atas mimbar berkata, ‘saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda’:

إنما الأعمال بالنيات…

Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…”

***

Mauquf

A. Ta’rif:

Bahasa:

Mauquf merupakan isim maf’ul dari kata waqafa (berhenti). Dinamakan dengan mauquf karena rawi menghentikan hadits pada shahabat, dan tidak melanjutkannya ke Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Istilah:

ما أضيف إلى الصحابي من قول، أو فعل، أو تقرير

Artinya: “Segala yang disandarkan kepada shahabat, berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir-nya.”

B. Contoh Mauquf

Riwayat Imam al-Bukhari di kitab Shahih-nya no. 127:

قال علي : حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون أن يكذب الله ورسوله

Artinya: ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan pemahaman mereka. Apakah kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

C. Mauquf, Tapi Dihukumi Marfu’

1. Shahabat mengatakan sesuatu yang bukan merupakan hasil ijtihad, dan ia tidak mengambilnya dari Ahli Kitab, juga bukan dalam rangka menjelaskan makna bahasa dan makna yang gharib. Misal:

(a) Informasi tentang masa lampau, seperti awal penciptaan.
(b) Informasi tentang masa depan, seperti huru-hara dan fitnah menjelang kiamat.
(c) Informasi tentang pahala atau sanksi tertentu atas suatu perbuatan.

2. Shahabat melakukan sesuatu yang bukan merupakan hasil ijtihad. Misalnya shalat kusuf dengan lebih dari dua ruku’ tiap rakaat yang dilakukan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu.

3. Shahabat menginformasikan bahwa ia mengatakan atau melakukan sesuatu, atau yang semisalnya.

(a) Jika ia menyandarkannya ke masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka khabar tersebut dihukumi marfu’. Misalnya perkataan Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Kami dulu melakukan ‘azl di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Al-Bukhari [5207] dan Muslim [1440])

(b) Jika tidak disandarkan ke masa Nabi, maka hukumnya mauquf menurut jumhur. Misalnya perkataan Jabir: “Dulu jika kami naik, kami bertakbir. Dan jika turun, kami bertasbih” (HR. Al-Bukhari [2993])

4. Perkataan shahabat seperti ‘Kami diperintahkan begini’, atau ‘Kami dilarang melakukan ini’, atau ‘Termasuk sunnah adalah ini’. Misalnya perkataan sebagian shahabat: “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan azan dan mengganjilkan iqamah” (HR. Al-Bukhari [607] dan Muslim [378])

5. Shahabat menafsirkan suatu ayat yang berhubungan dengan turunnya ayat tersebut. Misalnya perkataan Jabir: “Dulu Yahudi berkata, ‘barangsiapa mendatangi istri dari duburnya pada qubulnya, anaknya akan terlahir juling’, kemudian Allah menurunkan firman-Nya ‘nisaa-ukum hartsun(l) lakum” (HR. Muslim [1435])

D. Apakah Khabar Mauquf Bisa Dijadikan Hujjah?

1. Khabar mauquf walaupun shahih, ia hanyalah perkataan dan perbuatan shahabat, tidak wajib beramal dengannya.

2. Khabar mauquf bisa digunakan untuk menguatkan sebagian hadits dhaif, karena shahabat dikenal dengan komitmennya dalam mengamalkan sunnah.

3. Jika khabar mauquf secara lafazh, namun hukumnya marfu’, maka kedudukannya sama dengan khabar marfu’, maka ia adalah hujjah, dan wajib beramal dengannya.

***

Maqthu’

A. Ta’rif

Bahasa:

Maqthu’ merupakan isim maf’ul dari kata qatha’a (memutus), lawan dari washala (menyambung).

Istilah:

ما أضيف إلى التابعي أو من دونه من قول أو فعل

Artinya: “Segala yang disandarkan kepada tabi’in atau yang di bawahnya, berupa perkataan maupun perbuatan.”

B. Contoh Maqthu’

Riwayat Imam al-Bukhari di Shahih-nya di awal Bab Imamah al-Maftun wa al-Mubtadi’, Kitab al-Adzan. Yaitu perkataan Imam al-Hasan al-Bashri tentang shalat di belakang seorang ahli bid’ah:

صلِّ وعليه بدعته

Artinya: “Shalatlah, dan dia yang akan mendapatkan dosa bid’ah yang dia lakukan.”

C. Beda Maqthu’ dan Munqathi’

1. Maqthu’ adalah sifat matan, yaitu matannya disandarkan kepada tabi’in atau yang di bawahnya, sedangkan munqathi’ pada sifat sanad. Khabar maqthu’ bisa saja muttashil, tapi muttashilnya hanya sampai tabi’in. Sedangkan jika munqathi’ berarti sanadnya tidak muttashil, dan ia tidak ada hubungannya dengan matan.

2. Sebagian ahli Hadits, seperti asy-Syafi’i dan ath-Thabrani, menggunakan istilah maqthu’ untuk munqathi’, namun penggunaan ini tidak masyhur.

D. Apakah Khabar Maqthu’ Bisa Dijadikan Hujjah?

1. Khabar maqthu’, walaupun shahih penisbahannya ke yang mengatakan, bukanlah hujjah, karena ia hanyalah perkataan atau perbuatan dari salah seorang kaum muslimin.

2. Jika ada indikasi khabar maqthu’ tersebut adalah marfu’, maka ia dihukumi khabar marfu’ yang mursal.

***

Tambahan

1. Pembagian khabar menjadi hadits qudsi, marfu’, mauquf dan maqthu’ adalah dari sisi matannya, ke siapa matan tersebut dinisbahkan, dan tidak berhubungan dengan sanad.

2. Dari sisi sanad, bisa saja hadits qudsi, marfu’, mauquf dan maqthu’ tersebut munqathi’ atau muttashil, dan/atau shahih, hasan atau dha’if.

Selesai dengan izin Allah ta’ala.

Rujukan:
Taysiir Mushthalah Al-Hadiits, karya Mahmud Ath-Thahhan, ditambah beberapa referensi lainnya

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *