Haramnya Takabbur (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Luqmaan, Ayat 18)

Surah Luqmaan berisi cerita tentang wasiat seorang kekasih Allah dan ahli hikmah, bernama Luqmaan, kepada anaknya. Wasiat Luqmaan terhadap anaknya ini benar-benar menjadi panduan berharga bagi kita saat ini dalam mendidik anak kita secara khusus, dan mendidik generasi secara umum.

Salah satu wasiat Luqmaan pada anaknya adalah yang termaktub di ayat 18 surah ini, yaitu firman Allah:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah menyatakan bahwa ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan haramnya sikap takabbur (membesarkan diri sendiri).

Salah satu bentuk sikap takabbur yang disebutkan di ayat ini adalah memalingkan wajah saat berbicara dengan orang lain, karena perasaan takabbur dan kagum pada diri sendiri sembari menganggap rendah lawan bicara. Ini adalah hal yang diharamkan oleh Allah ta’ala. Seharusnya ketika ia berbicara dengan orang lain, ia menghadapkan wajahnya ke orang tersebut dengan perasaan tawadhu’ dan hormat kepada orang lain.

Bentuk ketakabburan berikutnya yang disebutkan di ayat ini adalah berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan dan kebanggaan pada diri sendiri. Orang yang berjalan dengan perasaan sombong, merasa lebih baik dari orang lain, dan ingin dihormati lebih dari yang lain, haram hukumnya. Seharusnya ia berjalan dengan tenang, tawadhu’, dan menunjukkan penghormatan pada orang lain.

Dua hal di atas adalah contoh yang disebutkan oleh Luqmaan Al-Hakim pada anaknya. Pada hakikatnya, seluruh bentuk sikap takabbur diharamkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa menyeret (memanjangkan) pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, lafazh milik Al-Bukhari)

Hadits ini kembali mempertegas haramnya sikap takabbur dan sombong, termasuk dalam berpakaian. Seluruh ulama sepakat, isbaal (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki) karena kesombongan, haram hukumnya dan mendapat ancaman siksa yang berat di hari kiamat, sedangkan isbaal tanpa kesombongan terdapat perbedaan pendapat di dalamnya.

Tentu kita bisa pahami di sini, sebagaimana ditegaskan oleh Az-Zuhaili sebelumnya, semua bentuk sikap takabbur haram hukumnya, termasuk dalam berpakaian. Misal, jika seseorang memakai pakaian mahal dengan niat menyombongkan diri di hadapan orang lain, haram hukumnya. Demikian pula, memakai pakaian sederhana, sembari takjub pada diri sendiri, menganggap diri lebih baik dari orang lain karena kesederhanaannya tersebut, haram juga hukumnya.

Mengendarai mobil mewah dengan tujuan membanggakan diri, menunjukkan kesuksesan karirnya di hadapan orang lain, sembari merendahkan orang lain yang tak sesukses dirinya, jelas haram hukumnya. Demikian pula, mengendarai sepeda butut sembari menganggap diri besar, mampu hidup sederhana, sembari merendahkan orang lain yang dianggapnya tak mampu hidup sederhana, haram juga hukumnya. Sikap takabbur dalam setiap keadaan haram hukumnya.

Kita memohon bimbingan dan petunjuk kepada Allah ta’ala, agar dijauhkan dari sikap takabbur, menganggap diri besar dan merendahkan orang lain, pada setiap keadaan.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *