Jahalah Bir Rawi (Ketidaktahuan Terhadap Rawi)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Definisi

Bahasa:

Jahaalah merupakan mashdar dari kata ‘jahila’, lawan dari kata ‘alima’ (mengetahui). Jahaalah bir rawi artinya ketiadaan pengetahuan terhadap seorang rawi.

Istilah:

Ketiadaan pengetahuan terhadap diri seorang rawi atau keadaan rawi tersebut.

B. Sebab Ketidaktahuan Terhadap Rawi

Sebab ketidaktahuan terhadap rawi ada tiga, yaitu:

(1) Banyaknya sebutan untuk rawi tersebut, baik nama, kunyah, laqab (gelar), sifat, profesi, atau nasab. Ia dikenal dengan salah satu sebutan ini, dan kurang dikenal dengan sebutan yang lain, kemudian ia dipanggil/disebut dengan sebutan yang tidak dikenal karena tujuan tertentu, sehingga orang-orang mengira bahwa ia adalah rawi yang lain, akhirnya ia menjadi rawi yang tidak diketahui.

Contohnya:

Seorang rawi bernama: Muhammad ibn As-Saib ibn Bisyr Al-Kalbi.

Sebagian orang menisbatkannya kepada kakeknya, sehingga ia disebut ‘Muhammad ibn Bisyr’. Sebagian lagi menyebutnya ‘Hammad ibn As-Saib’. Sebagian lagi memberikannya kunyah ‘Abu An-Nadhr’. Sebagian lagi memberikannya kunyah ‘Abu Sa’id’. Sebagian lagi memanggilnya ‘Abu Hisyam’. Akhirnya ia dikira orang yang berbeda-beda, padahal ia orang yang sama.

(2) Riwayatnya terlalu sedikit. Karena itu, tidak banyak orang yang mengambil riwayat darinya, bahkan kadang hanya ada satu orang yang meriwayatkan darinya.

Contohnya:

Seorang rawi bernama: Abu Al-‘Usyara Ad-Darimi.

Beliau adalah seorang tabi’in, dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Hammad ibn Salamah.

(3) Namanya tidak disebutkan dengan jelas, karena ingin meringkas riwayat atau semisalnya. Rawi yang tidak disebut namanya dengan jelas ini disebut juga ‘mubham’.

Contohnya adalah, saat seorang rawi berkata: Telah mengabarkan kepadaku si ‘fulan’, atau ‘seorang syaikh’, atau ‘seorang laki-laki’, dan semisalnya.

C. Definisi Majhul

Rawi majhul adalah rawi yang tidak diketahui dirinya atau sifatnya. Maksudnya rawi tersebut tidak diketahui orangnya, atau diketahui orangnya, namun sifatnya (keadilan dan kedhabithannya) tidak diketahui.

D. Macam-Macam Majhul

(1) Majhul Al-‘Ain (Majhul Dirinya)

Yaitu rawi yang disebut namanya, tetapi hanya ada satu orang yang meriwayatkan darinya.

Riwayat dari orang yang majhul al-‘ain ini tidak diterima, kecuali jika ia di-tsiqah-kan.

Ia di-tsiqah-kan dengan salah satu dari dua cara berikut ini:

a) Ia di-tsiqah-kan oleh orang yang bukan meriwayatkan darinya.
b) Ia di-tsiqah-kan oleh orang yang meriwayatkan darinya, dengan syarat orang ini merupakan ulama jarh wa ta’dil.

Apakah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang majhul al-‘ain ini punya nama khusus? Jawabannya, tidak ada. Ia hanya disebut sebagai hadits dhaif secara umum.

(2) Majhul Al-Haal (Majhul Keadaannya)

Ia disebut juga dengan istilah ‘Mastur’. Rawi yang majhul al-haal adalah rawi yang meriwayatkan darinya dua orang atau lebih, namun tidak ada satu orangpun yang men-tsiqah-kannya.

Hadits yang diriwayatkan oleh rawi majhul al-haal ini tertolak menurut jumhur.

Apakah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang majhul al-haal ini punya nama khusus? Jawabannya, tidak ada. Ia hanya disebut sebagai hadits dhaif secara umum.

(3) Al-Mubham

Walaupun ulama hadits memberikan nama khusus untuk hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang mubham, namun ia bisa juga dimasukkan sebagai bagian dari rawi yang majhul, karena hakikat mubham serupa hakikat majhul.

Rawi yang mubham adalah rawi yang tidak disebutkan namanya secara jelas dalam hadts.

Hukum riwayat dari seorang rawi yang mubham tidak diterima, hingga nama rawi tersebut disebutkan dengan jelas, atau namanya diketahui secara jelas melalui jalur riwayat yang lain.

Riwayat dari rawi yang mubham tertolak karena dirinya tidak diketahui. Orang yang tidak jelas namanya, berarti tidak diketahui orangnya. Tidak diketahui orangnya, tentu saja berarti tidak diketahui keadilannya, karena itu riwayatnya tertolak.

Jika rawi mubham ini disebut dengan lafazh ta’dil (pemberian sifat adil), misalnya seseorang berkata, ‘Telah mengabarkan kepadaku seorang yang tsiqah’, apakah riwayatnya diterima? Jawabannya, menurut pendapat yang paling shahih riwayatnya tetap tidak diterima, karena bisa saja rawi tersebut hanya dinilai tsiqah oleh orang yang meriwayatkan darinya, sedangkan menurut orang lain rawi tersebut tidak tsiqah.

Apakah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang mubham ini punya nama khusus? Ya, ia punya nama khusus, yaitu ‘Mubham’. Hadits mubham adalah hadits yang di dalamnya terdapat rawi yang tidak disebutkan namanya secara jelas.

E. Kitab-Kitab Khusus Yang Membahas Sebab-Sebab Majhulnya Rawi

(1) Banyaknya sebutan untuk rawi. Al-Khathib menulis kitab yang membahas hal ini dengan judul ‘Mudhih Awhaam Al-Jam’i wa At-Tafriq’.

(2) Sedikitnya riwayat dari rawi tersebut. Banyak kitab yang membahas hal ini, yang dinamakan ‘Al-Wuhdaan’, ia membahas tentang rawi-rawi yang haditsnya hanya diriwayatkan oleh satu orang. Salah satu dari kitab-kitab ‘Al-Wuhdaan’ ini, adalah kitab ‘Al-Wuhdaan’ karya Imam Muslim.

(3) Tidak jelasnya nama rawi. Banyak kitab yang membahas hal ini, yang dinamakan ‘Al-Mubhamaat’. Misalnya kitab ‘Al-Asmaa Al-Mubhamah fi Al-Anbaa Al-Muhkamah’ karya Al-Khathib Al-Baghdadi, dan kitab ‘Al-Mustafaad min Mubhamaat Al-Matn wa Al-Isnaad’ karya Waliyuddin Al-‘Iraqi.

Alhamdulillah, selesai dengan izin Allah ta’ala.

Rujukan:
Taysiir Mushthalah Al-Hadiits, karya Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *