Jalan Kebenaran Itu Satu (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-A’raaf, Ayat 178)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُون

Artinya: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf [7]: 178)

Makna ayat ini, menurut Al-Maraghi rahimahullah, adalah, barangsiapa yang mendapat taufik dari Allah untuk berjalan di atas jalan petunjuk dengan mengikuti bimbingan diin serta menggunakan akal dan panca inderanya sesuai dengan fitrahnya, dialah orang yang mendapatkan petunjuk. Ia bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padanya, serta menunaikan hak-hak Allah atasnya. Orang inilah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sedangkan yang ditinggalkan Allah dan diharamkan taufik atasnya, yaitu yang mengikuti syaithan dan hawa nafsunya, serta tidak menggunakan akal dan panca inderanya untuk memahami ayat-ayat-Nya dan bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan-Nya, maka ia kufur dan sesat, merugi di dunia dan akhirat.

Dari penjelasan Al-Maraghi di atas, dan penjelasan mufassirun lainnya, kita bisa pahami bahwa walaupun memang pada hakikatnya Allah-lah yang memberi petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki, dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, namun Allah tidaklah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Allah memberikan potensi akal dan panca indera bagi manusia, memberikan petunjuk Diin yang dibawa oleh para utusan-Nya, serta memperlihatkan ayat-ayat kauniyah, agar manusia bisa berpikir, yang dengannya ia memahami hakikat kehidupan dan tujuan keberadaannya di dunia ini. Inilah keadilan sekaligus kasih sayang Allah kepada kita.

Ikhwah fillah, ada pelajaran lain dari ayat ini. Mari perhatikan redaksi ayat ini. Saat menyebut orang yang mendapat petunjuk, Allah menggunakan kata ‘huwa’ yang menunjukkan satu. Sedangkan saat menyebut orang yang disesatkan-Nya, Dia menggunakan kata ‘ulaaika’ yang menunjukkan banyak. Menurut Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah, ini menunjukkan bahwa hidayah Allah itu satu, sedangkan kesesatan itu banyak dan beragam.

Terdapat ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa al-haq itu mufrad (satu), sedangkan kesesatan itu jamak (plural), di antaranya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena ia mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-An’aam [6]: 153)

Pada ayat ini, jalan yang lurus disebut secara mufrad (shiraath), sedangkan jalan kesesatan disebut secara jamak (subul). Menurut Al-Maraghi, ini karena al-haq itu satu, sedangkan kebatilan itu adalah apa saja yang menyelisihi al-haq, dan ia banyak.

Allah ta’ala juga berfirman:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaithan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 257)

Pada ayat ini, kata ‘kegelapan’ yang menunjuk pada kekafiran disebut dalam bentuk jamak (zhulumaat), sedangkan kata ‘cahaya’ yang menunjuk pada keimanan disebut dalam bentuk mufrad (nuur). Menurut Ibn Katsir rahimahullah, hal ini karena al-haq itu satu, sedangkan kekufuran itu bermacam-macam, dan seluruhnya batil.

Ikhwah fillah, dari sini kita bisa pahami bahwa jalan yang akan membawa kita pada keselamatan dunia dan akhirat itu hanya satu, yaitu jalan lurus yang telah ditempuh oleh para Nabi, shiddiqin, orang-orang yang syahid di jalan Allah, dan orang-orang yang shalih. Sedangkan jalan kesesatan itu sangat banyak, namun semuanya berujung pada satu hal, kesengsaraan dunia dan akhirat.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya pada kita untuk bisa menempuh jalan yang lurus tersebut, serta mengaruniakan kita keistiqamahan di atasnya hingga akhir hayat kita.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *