Keharaman Seluruh Bagian Tubuh Babi Menurut Madzhab Zhahiri

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Sebagian kalangan ada yang menduga bahwa madzhab Zhahiri hanya mengharamkan memakan daging babi, sedangkan tulang dan bagian tubuh lain selain dagingnya halal. Asumsi ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam al-Qur’an yang menjadi dalil akan keharaman babi hanya menyebut ungkapan lahmul khinziir dan bukan al-khinziir secara mutlak, sedangkan madzhab Zhahiri dikenal menolak qiyas dan hanya mengikuti zhahir nash. Benarkah dugaan mereka tersebut? Mari kita tanyakan langsung ke rujukan mu’tamad dalam madzhab Zhahiri.

Imam Ibn Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri rahimahullah (w. 456 H), ulama besar madzhab Zhahiri, dalam kitab beliau al-Muhalla (6/55) menyatakan:

لَا يَحِلُّ أَكْلُ شَيْءٍ مِنْ الْخِنْزِيرِ، لَا لَحْمِهِ، وَلَا شَحْمِهِ، وَلَا جِلْدِهِ، وَلَا عَصَبِهِ، وَلَا غُضْرُوفِهِ، وَلَا حَشْوَتِهِ، وَلَا مُخِّهِ، وَلَا عَظْمِهِ، وَلَا رَأْسِهِ، وَلَا أَطْرَافِهِ، وَلَا لَبَنِهِ، وَلَا شَعْرِهِ – الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ سَوَاءٌ – وَلَا يَحِلُّ الِانْتِفَاعُ بِشَعْرِهِ لَا فِي خَرَزٍ، وَلَا فِي غَيْرِهِ.

Dari redaksi di atas, Imam Ibn Hazm dengan tegas menyatakan seluruh bagian tubuh babi, termasuk tulang, kulit, rambut dan susunya haram dikonsumsi. Bahkan beliau juga menyatakan haram memanfaatkan rambut babi untuk manik-manik atau untuk yang lainnya. Lalu, apa dalil Ibn Hazm menyatakan keharaman mengkonsumsi seluruh bagian tubuh babi? Berikut pernyataan beliau di kitab yang sama (6/57):

وَأَمَّا الْخِنْزِيرُ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: {أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا} [الأنعام: 145] وَالضَّمِيرُ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ الَّتِي نَزَلَ بِهَا الْقُرْآنُ رَاجِعٌ إلَى أَقْرَبِ مَذْكُورٍ إلَيْهِ فَصَحَّ بِالْقُرْآنِ أَنَّ الْخِنْزِيرَ بِعَيْنِهِ رِجْسٌ فَهُوَ كُلُّهُ رِجْسٌ وَبَعْضُ الرِّجْسِ رِجْسٌ، وَالرِّجْسُ حَرَامٌ وَاجِبٌ اجْتِنَابُهُ. فَالْخِنْزِيرُ كُلُّهُ حَرَامٌ لَا يَخْرُجُ مِنْ ذَلِكَ شَعْرُهُ وَلَا غَيْرُهُ حَاشَا مَا أَخْرَجَهُ النَّصُّ مِنْ الْجِلْدِ إذَا دُبِغَ فَحَلَّ اسْتِعْمَالُهُ.

Beliau menggunakan dalil surah al-An’aam ayat 145 sebagai dalil keharaman seluruh bagian tubuh babi. Menurut beliau, kata ganti pada ungkapan fa-innahu rijsun kembali pada kata khinziir dan bukan lahm, karena kata ganti dalam bahasa Arab kembali pada kata terdekat yang disebutkan sebelumnya. Jadi, nash al-Qur’an menyatakan bahwa babi berdasarkan zatnya sendiri adalah rijsun (najis), bagian dari najis berarti juga najis, dan najis hukumnya haram.

Beliau juga menggunakan hadits riwayat Imam Muslim tentang turunnya Nabi ‘Isa ibn Maryam ‘alaihis salam di akhir zaman. Ketika Nabi ‘Isa turun, nanti beliau akan menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, menghentikan jizyah, dan harta akan melimpah. Dari riwayat ini, Ibn Hazm mengambil kesimpulan bahwa babi keseluruhannya adalah haram. Menurut beliau, yang dilakukan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam tentu disepakati oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi ‘Isa ketika turunnya nanti berhukum dengan Syariah Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, Islam setuju dengan pembunuhan babi yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa, padahal di sisi lain Islam melarang penyia-nyiaan harta. Seandainya babi boleh dimanfaatkan, atau sebagian anggota tubuhnya boleh dimakan, tentu pembunuhan babi yang menyebabkan babi-babi tersebut binasa dan tidak bisa lagi dimanfaatkan, tidak diperbolehkan.

Dan untuk menegaskan madzhab yang beliau anut, beliau mengkritik penggunaan qiyas untuk menunjukkan keharaman bagian tubuh babi selain dagingnya, sebagaimana dikemukakan oleh ulama-ulama lain. Ulama-ulama penganut qiyas menyatakan bahwa keharaman lemak babi diqiyaskan dari keharaman dagingnya. Hal ini dikritik oleh Ibn Hazm, pertama jelas karena beliau menolak penggunaan qiyas, dan yang kedua karena seandainya pun qiyas boleh digunakan, tetap saja lemak tidak bisa diqiyaskan ke daging, karena tidak memiliki ‘illah yang menyamakan keduanya.

Semoga bermanfaat.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *