Ketakwaan Membawa Berkah (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-A’raaf, Ayat 96)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-A’raaf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.”

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya, At-Tafsir Al-Munir, menyatakan bahwa salah satu sunnatullah pada hamba-hamba-Nya adalah seandainya penduduk negeri-negeri beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul-Nya, dan hari kiamat, sekaligus memelihara diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah ta’ala, Allah akan menurunkan kebaikan yang begitu banyak dari langit, seperti hujan misalnya, dan mengeluarkan berbagai kebaikan dari dalam bumi, berupa tumbuhan, harta dan lain sebagainya. Allah juga akan memberikan mereka ilmu pengetahuan dan ilham rabbani yang akan mengarahkan mereka pada jalan kebaikan dan memahamkan mereka berbagai sunnatullah yang berlaku di alam ini.

Sebaliknya, jika penduduk negeri tersebut melanggar hal ini, Allah akan menimpakan mereka kesulitan, kerusakan dan kehancuran. Inilah ketetapan Allah bagi kita.

Ikhwah fillah, ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan bahwa berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita, seperti kelaparan dan kekeringan, atau sebaliknya kemakmuran dan kesejahteraan, itu erat hubungannya dengan ketakwaan atau kefajiran orang-orang yang ada di dalamnya.

Bagi orang yang tak memiliki iman di hatinya, atau terlalu mengedepankan rasionya, mungkin akan berkata dengan pongahnya, bahwa semua itu tak ada hubungannya dengan ketakwaan atau keburukan penduduk negeri tersebut. Itu semua hanya fenomena alam, tak ada hubungannya dengan iman dan takwa atau kufur dan maksiat.

Namun bagi kita yang beriman terhadap ayat-ayat Allah, tentu tak berpikir seperti itu.

Ingatkah kita ikhwah fillah, Allah mensyariatkan kita melakukan shalat istisqa saat kemarau tak kunjung berhenti. Saat hewan-hewan kelaparan dan kehausan. Saat tumbuhan kering-kerontang. Apa hubungannya shalat dengan tak turunnya hujan? Seseorang yang tak punya iman tak akan mampu menjawabnya. Sebaliknya, orang beriman akan mudah menjawabnya.

Wallahu a’lam wa ahkam.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *