Keterputusan Sanad yang Tersembunyi

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Dalam ilmu hadits, salah satu syarat suatu hadits dianggap shahih adalah bersambungnya sanad. Misalnya dalam sebuah hadits di kitab Shahih Bukhari terangkai jalur sanad dari Imam al-Bukhari sang penulis kitab sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

Al-Bukhari –> Abdullah ibn Yusuf –> Malik ibn Anas –> Ibn Syihab –> Muhammad ibn Jubair –> Jubair ibn Muth’im –> Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jalur sanad di atas dianggap tersambung (muttashil) jika al-Bukhari memang benar-benar mendengar atau menerima hadits tersebut dari Abdullah ibn Yusuf, Abdullah ibn Yusuf benar-benar mendengar atau menerima dari Malik ibn Anas, dan seterusnya sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada periwayat hadits yang tidak mendengar atau menerima langsung hadits tersebut dari orang di atasnya, maka hadits tersebut dianggap terputus, dan berarti dihukumi dhaif.

Misalnya dari jalur sanad di atas, (seandainya) Ibn Syihab tak pernah mendengar atau menerima hadits tersebut dari Muhammad ibn Jubair, entah karena (1) Ibn Syihab tak sezaman dengan Muhammad ibn Jubair, atau (2) sezaman tapi tak pernah bertemu, atau (3) pernah bertemu namun Ibn Syihab tak pernah mendengar atau menerima riwayat hadits dari Ibn Jubair, atau (4) ia pernah mendengar beberapa riwayat hadits dari Ibn Jubair namun untuk hadits tersebut (yang dimisalkan di jalur sanad) ia tak pernah mendengar atau menerimanya dari Ibn Jubair, maka hadits tersebut (dengan jalur sanad di atas) otomatis menjadi dhaif.

Nah, berkaitan dengan terputusnya sanad, ada keterputusan sanad yang tampak jelas bagi para ahli hadits, dan ada juga yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh sebagian ahli hadits yang sangat cermat. Maksud tersembunyi di sini adalah pada penampakannya jalur sanad pada hadits tersebut tersambung, namun setelah dilakukan penelitian dengan cermat oleh para pakar, terbukti jalur sanad pada hadits tersebut terputus.

Ada dua istilah untuk menunjukkan keterputusan sanad yang tersembunyi ini. Istilah pertama adalah mudallas dan yang kedua mursal khafi.

Hadits mudallas secara umum terbagi dua, yaitu tadlisul isnad dan tadlisusy syuyukh. Maksud Tadlisul isnad adalah seorang periwayat hadits (rawi A) meriwayatkan suatu hadits dari periwayat hadits di atasnya (rawi B), padahal ia (rawi A) tak pernah mendengar hadits tersebut dari rawi B, namun ia meriwayatkan dengan ungkapan yang tidak tegas yang menunjukkan kemungkinan ia memang mendengar dari rawi B atau mungkin juga tidak. Jadi dalam tadlisul isnad, rawi A tidak menyatakan misalnya ‘saya telah mendengar rawi B berkata (sami’tu)’ atau ‘rawi B telah menyampaikan kepada kami (haddatsana)’, namun ia menyatakannya dengan redaksi yang mengandung dua kemungkinan, kemungkinan ia mendengar langsung atau ia tak mendengarnya secara langsung, misalnya dengan redaksi ‘rawi B telah berkata (qaala)’ atau ‘dari rawi B (‘an)’.

Sebagai contoh adalah riwayat al-Hakim melalui jalur ‘Ali ibn Khasyram, beliau berkata, ‘Ibn ‘Uyainah berkata kepada kami, dari az-Zuhri’, ketika ditanyakan kepada Ibnu ‘Uyainah apakah beliau mendengarnya langsung dari az-Zuhri, beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan tidak dari orang yang mendengarnya langsung dari az-Zuhri. Yang menyampaikan kepada saya adalah ‘Abdur Razzaq dari Ma’mar dari az-Zuhri’. Dalam riwayat ini, Ibnu ‘Uyainah menyampaikan hadits dari az-Zuhri, padahal beliau tidak mendengarnya langsung dari az-Zuhri, beliau mendengarnya dari ‘Abdur Razzaq, ‘Abdur Razzaq dari Ma’mar, dan kemudian Ma’mar dari az-Zuhri. Keterputusan sanad antara Ibn ‘Uyainah dan az-Zuhri ini tersembunyi karena Ibn ‘Uyainah memang semasa dengan az-Zuhri dan pernah mendengarkan beberapa riwayat dari az-Zuhri selain riwayat yang di-tadlis-kan beliau tadi.

Adapun tadlisusy syuyukh, ia berbeda dengan tadlisul isnad, dalam tadlisusy syuyukh tidak ada seorang rawi pun yang dihilangkan. Yang dilakukan mudallis (orang yang melakukan tadlis) dalam tadlisusy syuyukh hanyalah menyamarkan identitas gurunya, misalnya dengan menyebutkan kunyah guru tersebut yang tidak dikenal oleh kebanyakan orang, atau yang semisalnya.

Contoh tadlisusy syuyukh adalah yang diucapkan oleh Abu Bakar ibn Mujahid, beliau berkata, ‘telah menyampaikan kepada kami ‘Abdullah ibn Abi ‘Abdillah’, padahal nama guru beliau tersebut yang dikenal oleh kebanyakan orang adalah Abu Bakar ibn Abi Dawud as-Sijistani. Salah satu penyebab dilakukannya tadlisusy syuyukh adalah karena lemah atau dhaifnya guru dari rawi mudallis tersebut, sehingga si rawi perlu menyembunyikan nama atau panggilan yang masyhur dari guru tersebut dan menyebutnya dengan panggilan/kunyah yang tidak dikenal.

Jenis lain dari hadits yang terputus sanadnya secara tersembunyi adalah mursal khafi. Mursal khafi memiliki kesamaan dengan mudallas khususnya tadlisul isnad, yaitu si rawi meriwayatkan sebuah hadits dari rawi di atasnya, padahal mereka tak pernah mendengarnya langsung dari rawi di atasnya tersebut, dengan redaksi yang mengandung dua kemungkinan, mungkin ia mendengarnya langsung atau mungkin tidak. Bedanya, jika pada tadlisul isnad si rawi memang pernah menerima beberapa hadits dari rawi di atasnya tersebut, selain hadits yang di-tadlis. Sedangkan pada mursal khafi, si rawi belum pernah menerima hadits dari rawi di atasnya tersebut, tidak pernah sama sekali, walaupun hanya satu hadits. Tersembunyinya keterputusan sanad pada mursal khafi adalah karena rawi yang melakukan irsal khafi tersebut memang sezaman bahkan mungkin pernah bertemu dengan rawi di atasnya, jadi bagi kebanyakan orang terlihat tersambung sanadnya.

Contoh mursal khafi misalnya pada hadits riwayat Ibn Majah melalui jalur ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz dari ‘Uqbah ibn ‘Amir secara marfu’, ‘Allah merahmati orang yang menjaga pasukan (rahimaLlahu haarisal haras)’. Al-Mizzi dalam al-Athraf menyatakan bahwa ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz tak pernah bertemu dengan ‘Uqbah ibn ‘Amir.

Rujukan: Taysiir Mushthalah al-Hadiits karya Dr. Mahmud ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *