Kurikulum Sederhana Masjid/Mushalla Kampus Umum

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Banyak masjid/mushalla kampus umum di negeri ini yang berfungsi sebagai perekrut kader-kader dakwah. Hal ini tentu saja sangat bagus. Setiap kebaikan harus kita apresiasi. Namun, sangat disayangkan, sebagian (besar?) hanya berfungsi sebagai lembaga perekrut, belum benar-benar sebagai lembaga pembinaan. Hasilnya, ada (banyak?) pendakwah alumni dari wadah ini hanya bisa beretorika, namun minim ilmu keislaman. Tidak mengerti bahasa Arab, namun lancang mengkritik Al-Albani yang sudah fasih berbahasa Arab sejak kecil. Berani maju jadi imam shalat, padahal membedakan hamzah dengan ‘ain saja tidak bisa.

Keadaan ini tentu tak boleh dibiarkan. Harus ada upaya perbaikan, walaupun secara bertahap, karena perubahan memang meniscayakan proses dan penahapan. Jika da’i-nya saja tidak paham Islam dengan baik, bagaimana mad’u-nya?

Pada catatan pendek ini, saya ingin menawarkan program pembinaan yang bisa diaplikasikan oleh masjid/mushalla kampus umum, agar mampu melahirkan kader-kader dakwah yang militan sekaligus paham Islam dengan baik, kulit dan isinya sekaligus.

S1 saat ini biasanya ditempuh selama 3,5-4 tahun. Maka, agar program ini benar-benar efektif, ia disusun untuk dijalankan selama 3 tahun.

Tahun Pertama

Ini adalah tahun mahasiswa baru mendaftar sebagai remaja masjid/mushalla kampus umum.

Kader baru ini kita bisa pilah menjadi dua:

(1) Yang sudah mahir baca Al-Qur’an. Biasanya alumni ponpes atau pernah berguru dengan guru ngaji yang kapabel.

(2) Yang belum mahir (dengan seluruh tingkatannya). Berdasarkan pengalaman, mayoritas kader baru ada di poin 2 ini.

Untuk yang belum mahir, tahun pertama ini fokus utama harus pada program tahsin tilawah Al-Qur’an. Sedangkan yang sudah mahir bisa diperbantukan untuk mengajar teman-teman seangkatannya yang belum mahir.

Selain tahsin tilawah Al-Qur’an, di tahun pertama ini kader-kader baru juga perlu belajar fiqih ibadah praktis, terutama bab thaharah, shalat dan puasa. Aneh kan kalau ada da’i yang mahir bicara analisis politik dan konstelasi politik dunia, tapi saat ditanya apakah thuma’ninah itu rukun shalat atau bukan, ia hanya ‘melongo’?

Belajar fiqih ibadah itu wajib, kapanpun, di manapun, terlebih lagi bagi seorang calon da’i.

Selain itu, yang tak boleh dilupakan tentu adalah materi tauhid, yang akan menentukan lurus tidaknya keimanan kita. Kemudian juga materi seputar ihsan, yaitu akhlaq dan tazkiyatun nafs.

Yang juga bisa diajarkan di tahun pertama ini adalah dasar-dasar kaidah bahasa Arab. Ini sebagai pijakan untuk tahun-tahun setelahnya. Tentu kita ingin, da’i-da’i kita memang orang-orang yang mampu mengakses khazanah ilmu-ilmu keislaman langsung dari sumber-sumber aslinya.

Jadi, kurikulum untuk tahun pertama adalah:

1. Tahsin Tilawah Al-Qur’an
2. Fiqih Ibadah
3. Tauhid
4. Akhlaq dan Tazkiyatun nafs
3. Dasar-dasar Kaidah Bahasa Arab

Tahun Kedua

Pada tahun kedua ini (jika program tahun pertama berjalan dengan baik), kita akan berhadapan dengan kader-kader yang bacaan Al-Qur’an-nya sudah lumayan bagus, lurus tauhidnya, paham fiqih ibadah, memiliki sifat ihsan baik pada Allah ta’ala maupun sesamanya, dan memiliki kemampuan dasar kaidah bahasa Arab. Inilah saatnya kita mulai akrabkan mereka dengan kitab-kitab berbahasa Arab.

Pada tahun kedua ini, kader-kader ini perlu belajar kaidah bahasa Arab lanjutan, sebagai pematangan.

Mereka juga perlu belajar fiqih muamalah, karena –setelah ibadah– mereka pun harus mampu memahami ketentuan-ketentuan syariah dalam muamalah.

Mereka pun perlu mempelajari konsep dan pemikiran Islam yang syaamil, kaamil dan mutakaamil. Salah satu yang bisa ‘ditengok’ adalah kitab karya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, Al-Madkhal li Ma’rifatil Islam.

Idealnya, semua materi di atas menggunakan kitab berbahasa Arab sebagai rujukannya.

Jika masih sanggup, bisa ditambah dengan hafalan Al-Qur’an Juz 30 dan hadits Arba’in An-Nawawiyyah.

Jadi, kurikulum untuk tahun kedua adalah:

1. Kaidah Bahasa Arab Lanjutan
2. Fiqih Muamalah
3. Pemikiran Islam
4. Hafalan Al-Qur’an Juz 30 dan Hadits Arba’in

Tahun Ketiga

Pada tahun terakhir program pembinaan ini, (jika program tahun-tahun sebelumnya berjalan dengan baik) kita sudah berhadapan dengan kader yang menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab secara baik, mampu membaca dan memahami kitab Arab dengan baik, lurus tauhidnya, memahami fiqih ibadah dan fiqih muamalah, memiliki sifat ihsan pada Allah ta’ala dan sesama manusia, memiliki dasar-dasar pemikiran Islam yang komprehensif, serta memiliki 1 juz hafalan Al-Qur’an dan 42 hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saatnya kader-kader setengah matang ini kita ajak pada kajian yang lebih luas, yang secara garis besar berkisar pada dua hal: (1) Menguasai ilmu-ilmu dasar untuk berijtihad, dan (2) Memahami peta perbedaan pendapat ulama.

Jika masih sanggup, bisa ditambah dengan hafalan 1 juz Al-Qur’an lagi, bisa Juz 29 atau Juz 1.

Jadi, kurikulum untuk tahun ketiga adalah:

1. Ushul Fiqih dan Qawa’id Fiqhiyyah
2. Pengantar Fiqih Perbandingan Madzhab
3. Dasar-dasar Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadits
4. Hafalan Al-Qur’an, Juz 1 atau Juz 29

Catatan Tambahan

1. Untuk semua program di atas, carilah pengajar yang memiliki kifayah ‘ilmiyyah, yang benar-benar berilmu. Berinvestasilah di sini. Jangan membatasi diri hanya mencari pengajar dari organisasi tertentu, kelompok atau pengajian tertentu. Hal-hal semacam ini harusnya tidak perlu diperhatikan. Carilah yang benar-benar berilmu dan berislam dengan baik, dari kelompok pengajian manapun, selama bukan dari firqah yang disepakati kesesatannya.

Bahkan, seandainya untuk berinvestasi pada pengajar ini kita harus keluar banyak uang, maka itu tidak apa-apa. Lebih baik keluar uang untuk menggaji pengajar yang kapabel, dibanding membuang-buang uang untuk keperluan-keperluan yang sebenarnya tidak urgen. Toh, biasanya dana masjid hasil infaq umat cukup besar, tinggal dialokasikan saja dananya.

2. Kurikulum di atas disusun secara sederhana dan sudah memperhatikan kesibukan remaja masjid/mushalla kampus umum yang harus kuliah dan melaksanakan aktivitas-aktivitas lainnya. InsyaaLlah selama dikoordinir dengan baik dan dikelola oleh orang-orang yang memiliki visi yang kuat dan jelas, program ini bisa berjalan dengan baik.

Semoga catatan pendek ini bermanfaat. Saya tak memaksa siapapun untuk setuju dengan apa yang saya tulis di sini, yang saya bisa lakukan hanya mengajak untuk berpikir dan merenung. Jika yang saya tulis ini terdapat kebenaran, maka ikutilah kebenaran tersebut. Jika terdapat kekeliruan, itu murni dari saya dan dari syaithan, jangan ikuti.

HadaanaLlaahu wa iyyaakum ajma’iin.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *