Makna ‘Unzhur Maa Qaala Wa Laa Tanzhur Man Qaala’

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Ungkapan ‘unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala’ (lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan), yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ini sering digunakan secara serampangan, hingga makna sebenarnya lepas dari genggaman.

Misal, ketika dinyatakan bahwa dalam Islam ada konsep otoritas, yang berhak bicara persoalan-persoalan rinci dan mendalam dalam Islam hanyalah para ulama, karena merekalah ahlul ‘ilmi, pewaris ilmunya para Nabi. Pernyataan ini disampaikan ketika melihat sebagian orang awam menyibukkan diri dalam pembahasan (bahkan perdebatan) hal-hal yang rinci dan mendalam dalam agama, padahal itu bukan hak mereka. Kemudian ada yang menimpali, ‘lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan’.

Mereka membawa perkataan hikmah ‘unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala’ ini pada kesimpulan, setiap orang berhak berbicara hal-hal yang rinci dan mendalam dalam persoalan agama, dan tak boleh ada yang melarangnya. Benarkah hal ini?

Mari kita perhatikan kalam para ulama. Imam Mujahid, seorang ulama tabi’in pernah berkata, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berbicara tentang Kitabullah jika ia bukan seorang yang ‘alim dalam bahasa Arab”.

Diriwayatkan juga, ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah melewati seorang ‘tukang cerita’ di masjid, dan ‘tukang cerita’ tersebut sedang berbicara di hadapan orang-orang’. ‘Ali kemudian bertanya kepadanya: “Apakah Anda mengetahui nasikh-mansukh”, orang tersebut menjawab: “Tidak”, ‘Ali kemudian mengatakan: “Anda telah binasa dan membinasakan orang lain”.

Dua riwayat di atas disebutkan oleh Dr. Muhammad Ali Al-Hasan dalam kitab beliau “Al-Manaar fii ‘Uluumil Qur’aan Ma’a Madkhal fi Ushuulit Tafsiir wa Mashaadirih”.

Ulama salaf dulu memang biasa memilah-milah informasi yang mereka terima, tak semua mereka ambil. Ibn Sirin, salah seorang ulama tabi’in, berkata, “Dulu mereka tidak bertanya tentang isnad. Namun kemudian terjadi fitnah, dan setelah itu mereka berkata: sebutkan pada kami nama rijal kalian. Dan dilihat, jika rijalnya adalah dari ahlus sunnah, diambil haditsnya. Dan jika rijalnya termasuk ahli bid’ah, haditsnya tidak diterima.” (Riwayat ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)

Tidak semua orang berhak bicara agama, apalagi persoalan yang rumit dan njelimet. Jika semua orang dibiarkan berbicara, umat ini akan menjadi rusak dan semakin terpuruk. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Para ahli ilmu mengatakan, ungkapan ‘lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan’, ini adalah bentuk ‘peringatan’ terhadap orang-orang yang ta’ashshub (fanatik buta) terhadap kelompok. Orang-orang yang ta’ashshub ini sudah terbiasa hanya menerima perkataan orang-orang yang satu kelompok, satu madzhab, satu aliran atau satu guru dengan mereka. Perkataan orang-orang di luar mereka, mereka tolak, tanpa penelitian yang memadai, apakah pendapat orang tersebut memang keliru, atau jangan-jangan itulah yang benar.

Sikap seperti ini jelas salah. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun datangnya. Imam Asy-Syafi’i mengajarkan kita hal ini. Beliau berkata, “Jika telah shahih suatu hadits, maka itu adalah madzhabku. Dan jika telah shahih suatu hadits, lemparkanlah kata-kataku (yang menyelisihinya) ke dinding.” Beliau juga berkata, “Setiap yang saya katakan, jika terdapat hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertentangan dengan pendapatku, maka hadits shahih itu lebih utama (untuk diikuti), dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku.” (Perkataan Imam Asy-Syafi’i ini termaktub dalam banyak kitab, salah satunya kitab “Siyaar A’laam An-Nubalaa” karya Adz-Dzahabi)

Sikap ini juga diajarkan oleh Imam Malik. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Perkataan Imam Malik ini dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab “I’laam Al-Muwaqqi’iin”)

Inilah yang diajarkan oleh dua ulama besar ini, yang berkah ilmunya telah dirasakan oleh umat Islam lebih dari seribu tahun. Mereka dan ulama-ulama lainnya pun terkenal dengan ungkapan, “Pendapatku benar, namun ada kemungkinan salah. Pendapat selainku salah, namun ada kemungkinan benar.”

Adapun orang-orang yang ta’ashshub, mereka berprinsip sebaliknya. Bagi mereka, “Pendapat yang kuikuti pasti benar, tak mungkin salah. Pendapat yang menyelisihiku pasti salah, tak mungkin benar.” Jika ada ayat Al-Qur’an atau Hadits Nabi yang terlihat bertentangan dengan pendapat yang mereka ikuti, mereka akan ta’wil ayat dan hadits tersebut agar sesuai dengan paham yang mereka ikuti, walaupun ta’wil mereka tersebut bertentangan dengan zhahir makna ayat dan hadits tersebut, walau tak ada seorang pun ulama mu’tabar sebelumnya yang memahami ayat dan hadits tersebut sebagaimana yang mereka pahami.

Pada tingkat akut, orang-orang sejenis ini bisa saja membuat kerusakan parah terhadap diin, misal dengan membuat hadits-hadits palsu, sebagaimana pernah dilakukan orang-orang sebelum mereka. Wal ‘iyaadzu billaah.

Ungkapan ‘unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala’, bisa dikatakan maknanya adalah lihatlah kebenaran dari kebenaran itu sendiri, bukan dari tokoh yang membawanya. Dan kebenaran dalam Islam adalah apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika suatu perkataaan/pendapat sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka itulah kebenaran, walaupun yang membawanya bukan tokoh yang kita kagumi.

Bagaimana cara mengetahui suatu pendapat sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak? Jawabannya adalah dengan ilmu. Yang bisa menimbang sesuatu sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak, terutama dalam hal-hal yang rinci dan mendalam adalah ahli ilmu, bukan semua orang, bukan pekerjaan orang awam.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *