Manthuq dan Mafhum

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Manthuq

Manthuq adalah “apa yang ditunjukkan oleh lafazh pada saat penyampaian” (ما دل عليه اللفظ في محل النطق). Maksud definisi ini, manthuq adalah makna tersurat yang dipahami seseorang dari sebuah ucapan.

Jika ia menunjukkan suatu makna saja, dan tidak mengandung kemungkinan makna lain, ia disebut dengan “nash”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

فَصِيامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كامِلَةٌ

Artinya: “Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kalian telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna.” (QS. Al-Baqarah [2]: 196)

Jika ia menunjukkan satu makna yang kuat (raajih), namun mengandung kemungkinan makna lain, tapi kemungkinan ini lemah (marjuuh), ia disebut dengan “zhahir”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ

Artinya: “Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 173)

Makna (بَاغٍ) menunjukkan makna “jahil”, juga makna “zhalim”. Namun makna “zhalim” lebih kuat, maka makna ini yang disebut zhahir.

Jika maknanya dibawa ke makna yang lemah (marjuuh) karena ada petunjuk tertentu, maka ia dinamakan “ta’wil”, dan makna yang lemah yang digunakan tadi dinamakan “muawwal”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Artinya: “Dia bersama kalian di manapun kalian berada.” (QS. Al-Hadiid [57]: 4)

Ayat ini tidak bisa dipahami bahwa ‘kebersamaan’ Allah itu adalah kedekatan secara dzat, maka wajib mengalihkan maknanya pada ‘kekuasaan’, ‘ilmu, atau ‘penjagaan’.

Jika kebenaran dalalah (petunjuk) suatu lafazh tergantung pada sesuatu yang tersembunyi, maka ia disebut “dalalah iqtidha”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ

Artinya: “Dan tanyakanlah pada desa.” (QS. Yuusuf [12]: 82)

Maksud ‘desa’ di sini adalah penduduknya.

Misal lain:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ayat di atas memerlukan suatu lafazh yang tidak disebutkan, yaitu “kemudian ia berbuka” (فأفطر), karena kewajiban qadha puasa bagi orang yang sakit atau musafir hanya jika ia berbuka pada saat itu.

Jika kebenaran dalalah tidak bergantung pada sesuatu yang tersembunyi, dan lafazh menunjukkan suatu makna yang tidak dimaksud pada awalnya, ia dinamakan “dalalah isyaarah”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Artinya: “Dihalalkan bagi kalian bercampur dengan istri-istri kalian pada malam hari bulan puasa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat di atas menunjukkan sahnya puasa orang yang junub di waktu shubuh. Dibolehkannya bercampur (jimak) dengan istri hingga terbitnya fajar, meniscayakan ia dalam keadaan junub di waktu shubuh.

B. Mafhum

Mafhum adalah “apa yang ditunjukkan oleh lafazh tidak pada saat penyampaian” (ما دل عليه اللفظ لا في محل النطق). Maksud definisi ini, mafhum adalah makna tersirat (bukan tersurat) yang dipahami oleh seseorang dari sebuah ucapan.

Mafhum terbagi menjadi dua: mafhum muwaafaqah dan mafhum mukhaalafah.

Mafhum muwaafaqah adalah mafhum yang hukumnya sesuai dengan manthuq-nya. Jika hukumnya lebih utama dari manthuqnya, ia dinamakan “fahwal khithaab”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Artinya: “Maka janganlah kamu mengatakan ‘cih’ pada keduanya.” (QS. Al-Israa [17]: 23)

Ayat ini menunjukkan keharaman memukul kedua orangtua, karena itu lebih berat dari sekedar mengatakan ‘cih’ kepada mereka berdua.

Jika hukumnya sama nilainya dengan manthuq-nya, ia dinamakan “lahnul khithaab”.

Misalnya firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim.” (QS. An-Nisaa [4]: 10)

Ayat ini, selain menunjukkan keharaman memakan harta anak yatim secara zhalim (sesuai manthuq-nya), juga menunjukkan keharaman membakar harta anak yatim, karena ia sama dengan memakan harta anak yatim dari sisi kerugian yang diderita anak yatim tersebut.

Adapun mafhum mukhaalafah adalah mafhum yang hukumnya berbeda dengan manthuq-nya. Ia terbagi menjadi:

(a) Mafhum sifat, baik na’at, hal, zharf, maupun ‘adad.

Misalnya firman Allah ta’ala:

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya: “Jika datang kepada kalian seorang yang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Mafhum dari ayat ini adalah, jika yang datang membawa suatu berita bukan orang yang fasiq, maka tidak wajib diteliti beritanya. Ini berarti berita yang disampaikan oleh satu orang yang adil wajib diterima.

Misal lain:

ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian membunuhnya secara sengaja, maka dendanya adalah mengganti dengan hewan ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.” (QS. Al-Maaidah [5]: 95)

Ayat ini menunjukkan orang yang membunuh hewan buruan tanpa kesengajaan, tidak wajib membayar denda.

Misal lain:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Artinya: “Berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram.” (QS. Al-Baqarah [2]: 198)

Ayat ini menunjukkan dzikir di tempat lain belum memenuhi tuntutan yang diinginkan di ayat ini.

Misal lain:

فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

Artinya: “Maka deralah mereka (yang menuduh berzina itu) delapan puluh kali dera.” (QS. An-Nuur [24]: 4)

Ayat ini menunjukkan bilangan delapan puluh kali, tidak boleh lebih dari itu, tidak boleh juga kurang.

(b) Mafhum syarath.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ

Artinya: “Jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 6)

Mafhumnya, istri yang ditalak tapi tidak sedang hamil, tidak wajib diberi nafkah.

(c) Mafhum ghayah.

Misalnya firman Allah ta’ala:

فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجاً غَيْرَهُ

Artinya: “Maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga ia menikah lagi dengan suami yang lain.” (QS. Al-Baqarah [2]: 230)

Mafhumnya, istri tersebut halal bagi suami pertama sesudah ia menikah dengan suami yang lain, dengan memenuhi syarat-syaratnya.

(d) Mafhum hashr.

Misalnya firman Allah ta’ala:

إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ

Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Allah.” (QS. Thaahaa [20]: 98)

Mafhumnya, selain Allah bukanlah ilah.

C. Syarat Menggunakan Mafhum Sebagai Hujjah

Ulama berselisih pendapat tentang berhujjah dengan mafhum-mafhum di atas, dan pendapat yang paling shahih adalah seluruhnya hujjah dengan memenuhi beberapa syarat. Di antara syarat tersebut adalah:

(1) Yang disebutkan bukanlah dalam kerangka ‘kebiasaan yang umum’.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ

Artinya: “Dan anak-anak perempuan dari istri-istri kalian yang ada dalam pemeliharaan kalian.” (QS. An-Nisaa [4]: 23)

Ayat di atas tidak ada mafhumnya, dan tidak bisa dipahami bahwa jika anak-anak tersebut bukan dalam pemeliharaan kalian, berarti mereka halal bagi kalian. Hal ini karena ungkapan “yang ada dalam pemeliharaan kalian” hanya menunjukkan kebiasaan umum yang berlaku.

(2) Yang disebutkan tidak untuk menjelaskan suatu realita.

Misalnya firman Allah ta’ala:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ

Artinya: “Barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 117)

Ayat di atas tidak bisa dipahami bahwa jika ada dalil (burhaan) tentang menyembah tuhan yang lain, maka boleh menyembah tuhan yang lain. Hal ini karena realita menunukkan bahwa tuhan ilah manapun selain Allah memang tidak ada dalilnya. Jadi, ungkapan “padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu”, hanya untuk menunjukkan realita dan sekaligus menghinakan orang-orang yang menyembah ilah selain Allah ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
1. Al-Itqaan fii ‘Uluumil Qur’aan, karya ‘Abdurrahman ibn Abi Bakr Jalaluddin As-Suyuthi
2. Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *