Mari Ber-Tafaqquh fid Diin!

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنكم أصبحتم في زمان كثير فقهاؤه، قليل خطباؤه، قليل سؤاله، كثير معطوه، العمل فيه خير من العلم.وسيأتي زمان قليل فقهاؤه، كثير خطباؤه، كثير سؤاله، قليلمعطوه، العلم فيه خير من العمل

Artinya: “Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang meminta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang fuqahanya sedikit dan penceramahnya banyak, yang meminta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir. Disebutkan juga oleh Ibn ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah karena banyaknya jalur, syawahid dan mutaba’ah-nya. Seandainya pun hadits ini dianggap dhaif, namun maknanya diterima oleh para ulama. Wallahu a’lam.

***

Jika kita melihat fenomena di zaman kita sekarang, bisa kita simpulkan di zaman kita inilah zaman yang penceramahnya banyak namun fuqahanya sedikit, yang berbicara persoalan agama banyak namun yang benar-benar berilmu sangat sedikit. Begitu banyak orang yang sudah berani bicara hal-hal besar dalam Islam tanpa dasar ilmu yang mumpuni. Begitu banyak juru dakwah dengan ribuan pengikut, namun ia tak memberikan fawaid ‘ilmiyyah pada para pengikutnya, hanya retorika, putar-pelintir kata dan lelucon saja yang diberikan.

Sebagaimana disebutkan oleh Hadits di atas, saat ini ilmu lebih baik dari amal. Umat memerlukan orang-orang yang berilmu, yang akan membimbing mereka agar tidak terjerumus pada keburukan, syubhat dan beramal tanpa ilmu. Saat ini, di mana aktivitas menuntut ilmu banyak diabaikan, bahkan oleh para juru dakwah, mau tidak mau harus ada sekelompok orang yang bergerak untuk serius menuntut ilmu sampai menjadi faqih fid diin, agar nantinya mereka menjadi pelita umat, menunjukkan mereka jalan yang lurus serta menghindarkan mereka dari terjerumus pada jurang kesesatan.

Aktivitas tafaqquh fid diin hukumnya fardhu kifayah. Hal ini misalnya disebutkan oleh az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir (11/77) saat menafsirkan surah at-Taubah ayat 122 yang berbunyi:

وما كان المؤمنون لينفروا كافة فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلهم يحذرون

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Az-Zuhaili menyatakan, ‘Maka hendaknya sekelompok orang dari mereka memperdalam agama, dan sekelompok lainnya pergi berjihad, karena jihad hukumnya fardhu kifayah bagi manusia, sebagaimana menuntut ilmu juga fardhu kifayah’.

Bahkan Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (1/165) ketika menjelaskan makna Hadits من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين menyatakan, ‘Dan mafhum dari hadits ini adalah siapa saja yang tidak ber-tafaqquh fid diin, yaitu mempelajari prinsip-prinsip Islam dan yang berkaitan dengannya berupa perkara-perkara cabang (furu’), maka diharamkan baginya kebaikan’.

Aktivitas tafaqquh fid diin dihubungkan dengan kebaikan –disebutkan secara nakirah, menurut Ibn Hajar menunjukkan itu mencakup seluruh kebaikan sekaligus besarnya kebaikan tersebut– yang akan diberikan oleh Allah, seharusnya sudah memotivasi kita untuk ber-tafaqquh fid diin. Tambah lagi, hukumnya adalah fardhu kifayah, wajib bagi umat Islam mewujudkannya, sampai sebagian orang menunaikannya dan mencukupi kebutuhan umat Islam terhadapnya.

Dan siapa yang paling layak ber-tafaqquh fid diin saat ini? Jawabannya adalah para da’i. Tidak bisa kita tutupi, sebagian juru dakwah saat ini berdakwah hanya dengan modal semangat. Seandainya mereka hanya berbicara perkara-perkara umum yang sudah diketahui umat Islam, seperti kewajiban shalat lima waktu, wajibnya puasa Ramadhan dan semisalnya, tentu tidak masalah.

Namun, sebagian juru dakwah tersebut berani bicara hal-hal besar, njlimet dan ijtihadiyah tanpa ilmu yang memadai. Mereka bahkan berani berdebat perkara-perkara khilafiyah, baik dalam konteks manhaj dakwah, perkara ibadah dan muamalah, dan lain-lain, padahal mereka belum layak mendiskusikannya apalagi berdebat. Semangat tinggi, namun ilmu tak mencukupi, akhirnya mereka berbicara tanpa ilmu, bahkan berfatwa tanpa ilmu.

Sebagian mereka sibuk mengkritik hasil ijtihad seorang ulama, yang bertentangan dengan yang mereka pahami, padahal ia sendiri jangankan mampu berijtihad, membedakan marfu’, manshub dan majrur saja tak bisa. Mereka sibuk melafalkan ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi untuk menguatkan pendapat yang dipegangnya, seakan ia sudah mampu ber-istidlal dengan keduanya, padahal nasikh-mansukh, ‘am-khash, dan muthlaq-muqayyad sama sekali tak paham.

Jangan karena tafaqquh fid diin hanya fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain, lalu kita mengabaikannya. Juru dakwah perlu memperhatikan dua hal ini, sebelum berani mengabaikan aktivitas tafaqquh fid diin:

1. Sikap yang benar bagi seorang muslim adalah berlomba-lomba menunaikan kewajiban, walaupun ia ‘hanya’ fardhu kifayah. Inilah teladan para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in serta ulama dan tokoh terbaik umat, salaf maupun khalaf. Kecuali jika ia sudah disibukkan dengan aktivitas fardhu kifayah lainnya yang menghabiskan waktunya.

2. Banyak ulama –misalnya az-Zuhaili dalam at-Tafsir al-Munir saat menjelaskan makna Ali ‘Imran ayat 104– yang menegaskan bahwa syarat seorang da’i adalah memiliki ilmu terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, dan ini tentu tidak bisa diwujudkan kecuali melalui aktivitas tafaqquh fid diin.

Jangan sampai seorang da’i hanya menjadi penceramah, pengkhutbah atau orator yang memukau kata-katanya, namun tidak ada ilmu di dalamnya. Ini adalah sebuah keburukan, bukan kebaikan. Amal tanpa ilmu adalah keburukan. Dakwah tanpa ilmu adalah keburukan.

‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, sebagaimana diriwayatkan dalam Tarikh ath-Thabari (6/572), menyatakan, ‘Barangsiapa yang beramal tanpa landasan ilmu, maka ia lebih banyak memberikan kerusakan daripada kebaikan’. Na’udzubillahi min dzalik.

Akhirul kalam, mari kita ber-tafaqquh fid diin!

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *