Memahami Konsep Asbabun Nuzul

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Pengantar

Al-Qur’an Al-Karim kadang diturunkan oleh Allah tanpa sebab tertentu yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in, dan orang-orang yang bertemu dengan mereka, kadang juga turun karena sebab tertentu.

Pembahasan asbabun nuzul ini adalah pembahasan mengenai sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya sebagian ayat Al-Qur’an. Perlu ditekankan kembali di sini, hanya sebagian ayat Al-Qur’an yang turunnya karena sebab tertentu, sedangkan yang lain turun tanpa sebab tertentu yang melatarbelakanginya. Al-Ja’bari berkata, “Al-Qur’an diturunkan dalam dua kategori: yang turun tanpa sebab, dan yang turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan.”

B. Sebab Turunnya Ayat

Ada dua hal yang melatarbelakangi turunnya sebagian ayat Al-Qur’an, yaitu:

1. Terjadi suatu peristiwa di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian turun ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa tersebut.

Misalnya riwayat muttafaq ‘alaih dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Ketika turun ayat (وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ), Nabi pergi dan naik ke bukit Shafa, lalu berseru, ‘Wahai kaumku!’. Maka mereka berkumpul ke dekat Nabi. Beliau berkata lagi, ‘Bagaimana pendapat kalian bila kuberitahukan kepada kalian bahwa di balik gunung ini ada sepasukan berkuda yang hendak menyerang kalian, percayakah kalian apa yang kukatakan?’. Mereka menjawab, ‘Kami belum pernah melihat engkau berdusta’. Dan Nabi kembali berkata, ‘Aku memperingatkan kalian akan siksa yang pedih’. Abu Lahab kemudian berkata, ‘Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?’, lalu ia berdiri. Kemudian turunlah surah ini (تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ).”

2. Bila Rasulullah ditanya tentang suatu hal, maka turunlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hukumnya.

Hal ini seperti ketika Khaulah binti Tsa’labah dikenakan zhihar (seorang suami mengatakan pada istrinya, ‘Engkau bagiku seperti punggung ibuku’) oleh suaminya, Aus ibn Shamit. Lalu ia datang kepada Rasulullah mengadukan hal itu. ‘Aisyah berkata, “Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Tsa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah. Katanya, ‘Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya. Sekarang, setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi, ia menjatuhkan zhihar kepadaku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu’.”

‘Aisyah berkata lagi, “Tiba-tiba Jibril turun membawa ayat-ayat ini (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا).”

C. Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul

Di antara faidah mengetahui asbabun nuzul adalah:

1. Mengetahui hikmah disyariatkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kemaslahatan umum saat memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi, sebagai rahmat kepada umat.

2. Memahami makna Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak bisa ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya ayat.

Imam Ibn Daqiq al-‘Ied berkata, “Keterangan tentang sebab turunnya ayat adalah metode yang kuat dalam memahami makna Al-Qur’an”.

Ibn Taimiyah berkata, “Mengetahui sebab turunnya ayat membantu dalam memahami ayat, karena mengetahui suatu sebab melahirkan pengetahuan mengenai musabab (akibat)”.

3. Sebab turunnya ayat bisa menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan, sehingga ayat tersebut tidak diterapkan pada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.

Misalnya, ketika Mu’awiyah bermaksud mengangkat putranya, Yazid, menjadi Khalifah, ia mengirim surat kepada Marwan, gubernurnya di Madinah, mengenai hal ini. Karena itu, Marwan mengumpulkan rakyat kemudian berpidato dan mengajak mereka membai’at Yazid. Tetapi ‘Abdurrahman ibn Abi Bakr menolaknya. Dalam beberapa riwayat, ‘Abdurrahman berkata tentang rencana pengangkatan Yazid sebagai khalifah ini, “Itu sunnahnya Heraklius dan Kaisar.”

Kemudian, karena marah, Marwan menyatakan tentang ‘Abdurrahman, “Inilah orang yang dikatakan Allah di dalam Al-Qur’an, ‘Dan orang yang berkata kepada ibu-bapaknya, cih bagi kalian berdua (وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا)’.”

Perkataan Marwan tersebut kemudian sampai kepada ‘Aisyah, maka ia berkata, “Marwan telah berdusta. Demi Allah ayat itu tidaklah demikian. Seandainya aku mau menyebutkan tentang siapa ayat itu turun, maka aku telah menyebutkannya.”

D. Pedoman Mengetahui Sebab Turunnya Ayat

Sebab turunnya ayat hanya bisa diketahui melalui riwayat shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau dari shahabat. Ia tidak boleh ditetapkan melalui penalaran dan ijtihad, karena ia bukan wilayah ijtihad.

Al-Wahidi berkata: “Tidak halal berpendapat mengenai sebab turunnya Al-Kitab kecuali dengan berdasarkan pada riwayat dan mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya, dan mencari ilmu tentangnya dan bersungguh-sungguh dalam pencariannya.”

E. Yang Menjadi Pegangan Adalah Lafazh yang Umum, Bukan Sebab yang Khusus

Jika suatu ayat diturunkan karena sebab tertentu, namun lafazhnya berbentuk umum, ulama ushul berbeda pendapat, manakah yang dijadikan pegangan, lafazh yang umum ataukah sebab yang khusus?

Ada dua pendapat dalam hal ini, yaitu:

1. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafazh yang umum, bukan sebab yang khusus.

Sebagai contoh, ayat li’an yang turun mengenai Hilal ibn Umayyah kepada istrinya. Ibnu ‘Abbas menyatakan:

أن هلال بن أمية قذف امرأته عند النبي صلى الله عليه وسلم بشريك بن سحماء. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “البيِّنَةُ وإلا حدٌّ في ظهرك” فقال: يا رسول الله.. إذا رأى أحدنا على امرأته رجلًا ينطلق يلتمس البيِّنَة؟ فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “البيِّنَة وإلا حدٌّ في ظهرك”، فقال هلال: والذي بعثك بالحق إني لصادق، وليُنزلن الله ما يبرئ ظهري من الحد، ونزل جبريل فأنزل عليه: {وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ} … حتى بلغ: {إنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ}

Artinya: “Hilal ibn Umayyah menuduh istrinya telah berbuat zina dengan Syuraik ibn Sahma di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi berkata, ‘Harus ada bukti, jika tidak ada maka punggungmu yang didera’. Hilal berkata, ‘Wahai Rasulullah, apabila salah seorang di antara kami melihat seorang laki-laki mendatangi istrinya, apakah ia harus mencari bukti?’. Rasulullah menjawab, ‘Harus ada bukti, jika tidak ada maka punggungmu yang didera’. Hilal berkata, ‘Demi Yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sesungguhnya perkataanku itu benar dan Allah benar-benar akan menurunkan apa yang membebaskan punggungku dari dera’. Maka turunlah Jibril dan menurunkan kepada Nabi {Dan orang-orang yang menuduh istrinya} hingga sampai {Jika semuanya itu termasuk orang-orang yang benar} (QS. An-Nuur [24]: 6-9).” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Hukum yang diambil dari lafazh umum {Dan orang-orang yang menuduh istrinya} tidak hanya mengenai peristiwa Hilal ibn Umayyah, tapi bisa juga diterapkan untuk kasus-kasus lain yang serupa, tanpa memerlukan dalil yang lain.

Syaikh Manna’ Al-Qaththan menegaskan pendapat inilah yang paling kuat dan paling shahih, sesuai dengan umumnya hukum-hukum syariah, dan ini pulalah jalan yang ditempuh oleh para shahabat dan mujtahid umat ini. Mereka menerapkan hukum ayat-ayat tertentu kepada peristiwa-peristiwa lain yang bukan merupakan sebab turunnya ayat-ayat tersebut.

2. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafazh yang umum. Lafazh yang umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus. Oleh karena itu, jika ayat itu mau diberlakukan untuk kasus lain selain kasus yang menjadi sebab turunnya ayat, diperlukan dalil lain yang menunjukkannya, seperti qiyas dan semisalnya.

F. Beberapa Riwayat Mengenai Asbabun Nuzul

Terkadang terdapat banyak riwayat mengenai sebab turunnya ayat. Maka seorang ahli tafsir menyikapinya sebagai berikut:

1. Jika riwayat-riwayat tersebut redaksinya tidak tegas, misalnya ‘Aku mengira ayat ini turun mengenai peristiwa ini’ atau semisalnya, maka dalam hal ini riwayat-riwayat tersebut dianggap penjelasan terhadap makna ayat atau kesimpulan dari ayat, dan bukan sebab turunnya ayat, kecuali ada indikasi pada salah satu riwayat yang menunjukkan maksudnya adalah penjelasan sebab turunnya ayat.

2. Apabila salah satu riwayat bentuk redaksinya tidak tegas, sedangkan riwayat lainnya menyebutkan sebab turunnya ayat secara tegas dan berbeda dengan riwayat pertama, maka yang menjadi pegangan adalah yang menyebutkan sebab turunnya ayat secara tegas. Sedangkan riwayat lainnya dianggap penjelasan hukum ayat, bukan sebab turunnya ayat.

Sebagai contoh, tentang ayat {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}, Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun mengenai persoalan mendatangi istri dari belakang”. Redaksi dari Ibnu ‘Umar ini tidak dengan tegas menyebutkan sebab turunnya ayat.

Sedangkan Jabir radhiyallahu ‘anhu menyatakan, ‘Orang-orang Yahudi berkata: apabila seorang laki-laki mendatangi istrinya dari belakang, maka anaknya nanti akan bermata juling. Kemudian turunlah ayat {Istri-istri kalian itu adalah ibarat tanah tempat kalian bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki}’.

Riwayat dari Jabir inilah yang dijadikan pegangan sebab turunnya ayat, karena ia menyatakannya dengan tegas.

3. Apabila riwayat tentang sebab turunnya ayat banyak dan semuanya dinyatakan dengan bentuk tegas, sedang salah satu riwayat di antaranya shahih dan yang lainnya tidak shahih, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang shahih.

4. Apabila riwayat-riwayat itu sama-sama shahih, namun ada segi yang memperkuat salah satunya, seperti kehadiran perawi dalam kisah tersebut, atau salah satu riwayat tersebut lebih shahih, maka riwayat yang lebih kuat itulah yang didahulukan.

Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan:

كنت أمشي مع النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة، وهو يتوكأ على عسيب، فمر بنفر من اليهود، فقال بعضهم: لو سألتموه، فقالوا: حدِّثنا عن الروح، فقام ساعة ورفع رأسه، فعرفتُ أنه يوحى إليه، حتى صعد الوحي، ثم قال: {قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا}

Artinya: “Aku berjalan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Ia berpegang pada tongkat dari pelepah pohon kurma. Dan ketika melewati serombongan orang-orang Yahudi, seseorang di antara mereka berkata: ‘Coba kalian tanyakan sesuatu kepadanya’. Lalu mereka berkata: ‘Ceritakan kepada kami tentang roh’. Nabi berdiri sejenak dan mengangkat kepala. Aku tahu bahwa wahyu tengah turun kepadanya. Wahyu itu turun hingga selesai, kemudian ia berkata {Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit} (QS. Al-Isra [17]: 85).”

Dengan hadits yang diriwayatkan dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan:

قالت قريش لليهود: أعطونا شيئًا نسأل عنه هذا الرجل، فقالوا: اسألوه عن الروح، فسألوه فأنزل الله: {وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي}

Artinya: “Orang Quraisy berkata kepada orang Yahudi: ‘Berilah kami suatu persoalan untuk kami tanyakan kepada orang ini (Nabi Muhammad)’. Mereka menjawab: ‘Tanyakanlah kepadanya tentang roh’. Lalu mereka tanyakan kepada Nabi. Maka Allah menurunkan {Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhanku}.”

Riwayat kedua mengesankan ayat ini turun di Makkah, sedangkan riwayat pertama memberi kesan turunnya di Madinah. Riwayat pertama lebih didahulukan dan dikuatkan, karena Ibnu Mas’ud hadir atau menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Selain itu, hadits yang terdapat dalam shahih Al-Bukhari dianggap lebih kuat dari hadits yang dishahihkan oleh selainnya.

5. Apabila riwayat-riwayat tersebut sama kuat, maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau dikompromikan jika memungkinkan. Sehingga dinyatakan bahwa ayat tersebut turun sesudah terjadinya dua peristiwa yang berdekatan.

Misalnya ayat tentang li’an. Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan Ibn Majah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas bahwa ayat itu turun mengenai Hilal ibn Umayyah. Sedangkan riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Sahl ibn Sa’ad, ia menyatakan bahwa ayat itu turun mengenai ‘Uwaimir. Kedua riwayat ini dapat dipadukan, yaitu bahwa peristiwa Hilal terjadi lebih dulu, kemudian dalam waktu hampir bersamaan, peristiwa itu juga mengenai ‘Uwaimir. Setelah itu turunlah ayat mengenai dua peristiwa tersebut.

6. Jika riwayat-riwayat tersebut tidak bisa dikompromikan, karena jarak waktu masing-masing riwayat tersebut berjauhan, maka hal yang demikian bisa dianggap sebagai banyak dan berulangnya turunnya ayat.

Misalnya riwayat Al-Baihaqi dan Al-Bazzar dari Abu Hurairah bahwa Nabi berdiri di sisi jenazah Hamzah yang mati syahid dengan dianiaya. Maka Nabi berkata: “Akan kuaniaya tujuh puluh orang dari mereka sebagai balasan untukmu.” Maka Jibril turun dengan membawa akhir Surah An-Nahl kepada Nabi, sementara ia dalam keadaan berdiri: {وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ} sampai akhir surah. Riwayat ini menunjukkan bahwa ayat-ayat di atas turun pada waktu perang Uhud.

Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Ubay ibn Ka’ab disebutkan bahwa ayat-ayat tersebut turun pada waktu penaklukkan kota Makkah. Padahal surah tersebut adalah surah Makkiyah, yang artinya ia turun di Makkah sebelum hijrah.

Maka, untuk mengompromikan riwayat-riwayat ini, dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut turun di Makkah sebelum hijrah, lalu di Uhud, kemudian turun lagi saat penaklukan Makkah.

Az-Zarkasyi dalam al-Burhan berkata: “Terkadang suatu ayat turun dua kali sebagai penghormatan kepada kebesaran dan peringatan akan peristiwa yang menyebabkannya, khawatir terlupakan. Sebagaimana terjadi pada surah Al-Fatihah yang turun dua kali, sekali di Makkah dan sekali lagi di Madinah.”

Namun Syaikh Manna’ Al-Qaththan menyatakan bahwa yang lebih baik dari menyatakan bahwa ayat itu turun beberapa kali adalah mentarjih salah satu riwayat, dan itu masih bisa dilakukan.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan karya Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *