Memaknai Turunnya Al-Qur’an (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Ad-Dukhaan, Ayat 3)

Allah tabaaraka wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhaan [44]: 3)

Al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullah menyatakan dalam Tafsirnya, malam yang diberkahi itu adalah malam al-qadr (kemuliaan), sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr [97]: 1)

Malam kemuliaan sekaligus yang diberkahi ini ada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Artinya: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Demikian yang disampaikan oleh Ibn Katsir.

Lebih spesifik lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah malam al-qadr pada malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih, dan lafazh milik Al-Bukhari)

Imam Al-Bukhari rahimahullah memasukkan hadits ini dalam bab “Mencari Malam Al-Qadr di Malam Ganjil dari Sepuluh Terakhir”. Ini menunjukkan bahwa Al-Bukhari –sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibn Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari– menguatkan pendapat bahwa malam al-qadr ini terbatas pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Sepertinya inilah pendapat terkuat tentang waktu turunnya Al-Qur’an, sebagaimana diisyaratkan dalam surah Ad-Dukhaan ayat 2 dan surah Al-Qadr ayat 1. Wallahu a’lam.

Tentang apa yang turun di malam al-qadr, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili hafizhahullah dalam At-Tafsir Al-Munir menyebutkan dua pendapat tentang hal ini. Pendapat pertama, Al-Qur’an pertama kali turun kepada Rasulullah di malam al-qadr, kemudian berlanjut turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Pendapat kedua, Al-Qur’an turun seluruhnya di malam al-qadr, dari lauh mahfuzh ke langit dunia.

Perbedaan pendapat ini boleh kita kaji secara ilmiah. Namun yang paling penting dan utama bagi seluruh muslimin adalah bagaimana memaknai turunnya Al-Qur’an ini.

Allah ta’ala telah menunjukkan kepada kita tujuan diturunkannya Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, penjelasan yang terang dan sangat jelas, serta pembeda antara yang haq dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram.

Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Untuk menjadi way of life. Jika tidak ingin tersesat dalam kehidupan dunia, ikutilah Al-Qur’an (dan juga As-Sunnah).

Imam Malik rahimahullah, dalam Al-Muwaththa, meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Aku tinggalkan dua perkara bagi kalian, yang jika kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Misykatul Mashabih)

Jadi, memaknai diturunkannya Al-Qur’an harus dengan menjadikan Al-Qur’an (dan As-Sunnah) sebagai petunjuk hidup, sebagai pedoman untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan oleh kita.

Semoga Allah ta’ala memberikan taufiq kepada kita, agar kita mampu menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup kita.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *