Membentuk Kultur Thalabul ‘Ilmi di Kalangan Aktivis Dakwah Kampus

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Saya, sebagai alumni Lembaga Dakwah Kampus, merasakan banyak sekali manfaat ikut serta dalam lembaga tersebut. Di sana saya belajar tentang meluaskan cakrawala berpikir, tentang kondisi umat Islam secara global, tentang semangat perlawanan terhadap peradaban barat, dan tentang perjuangan umat Islam di penjuru dunia. Secara individu, saya juga belajar memahami karakter manusia yang berbeda-beda, belajar tentang cara berorganisasi yang baik, dan belajar tentang kepemimpinan. Alhamdulillah, apa yang saya dapatkan tersebut sangatlah bermanfaat.

Namun, ada satu hal yang menurut saya masih ‘mengganjal’, masih ada yang ‘kurang’. Saya terkadang masih menemukan aktivis dakwah kampus yang saat awal masuknya belum lancar membaca al-Qur’an, setelah jadi alumni pun tetap dalam ketidaklancarannya. Saat awal masuk ‘ngeblank’ dengan bahasa Arab, setelah lulus pun tetap buta bahasa Arab. Apatah lagi dengan ilmu hadits, tafsir, ushul fiqih dan ilmu-ilmu keislaman khas pesantren lainnya, jangankan belajar, mendengar pun bisa jadi ada yang belum pernah.

Ini ‘mengganjal’ bagi saya, karena siapapun ‘ngerti’ bahwa alumni lembaga dakwah kampus itu biasanya akan ‘diustadzkan’ di masyarakat, akan jadi muballigh yang berceramah di mana-mana. Apa jadinya jika muballigh yang dianggap paham agama tersebut belepotan bacaan Qur’annya. Apa jadinya jika ‘sang ustadz’ tidak berani jadi imam shalat karena takut ketahuan al-Fatihahnya tidak beres. Inilah PR-nya.

Sudah saatnya lembaga dakwah kampus lebih serius dalam membangun sistem dan kultur ‘thalabul ‘ilmi’, sehingga alumni-alumninya memang layak menjadi ustadz, tidak kalah berilmu dengan para Lc lulusan Madinah dan Kairo, walaupun titel mereka ‘hanya’ S.Pd, SE, SH, ataupun ST.

Mengapa Harus Mendalami Ilmu-Ilmu Keislaman?

Memang benar, pendalaman kajian ilmu-ilmu keislaman hukumnya bukan fardhu ‘ain, yang berarti tidak harus setiap orang menyibukkan diri dengannya. Hukumnya hanyalah fardhu kifayah, cukup sebagian orang saja yang menyibukkan diri, yang lain sudah terlepas bebannya. Ini memang benar, dan tidak perlu ada bantahan terhadapnya.

Dalam hal ini, pertanyaan yang patut diajukan adalah, apakah jumlah orang yang menyibukkan diri dalam fardhu kifayah ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan umat ini atau belum? Menjawab hal ini tentu tidak gampang, paling tidak perlu diadakan survey terlebih dulu. Agar tidak terlalu rumit, mari kita adakan pengamatan sederhana saja, mari lihat ustadz dan muballigh di TV atau di sekitar lingkungan kita, berapa banyak di antara mereka yang ‘benar-benar layak’ berbicara diinul Islam dengan kedalaman kajian tertentu? Walaupun belum pasti menunjukkan realitas sesungguhnya, tapi hasil pengamatan sederhana kita menunjukkan bahwa masih lumayan banyak ustadz atau muballigh yang sebenarnya belum layak tampil di depan, namun keburu di-‘ulama’-kan oleh masyarakat. Siapa yang salah? Masyarakat? Muballigh tersebut?

Tugas kita tentu bukan hanya untuk menuding sana-sini, si A yang salah, atau si B yang salah. Jika bisa menjadi bagian dari solusi, mengapa tidak? Umat membutuhkan ustadz, da’i, atau muballigh yang benar-benar mendalam pemahaman diinul Islamnya, sehingga ketika mereka berceramah, mengisi kajian, memang ‘ilmu’ yang mereka sampaikan, bukan sekedar ‘retorika tanpa isi’, atau ‘candaan ala OVJ’. Umat membutuhkan ustadz, da’i, atau muballigh yang benar-benar mendalam pemahaman diinul Islamnya, dan tentu tidak salah jika kita yang menyiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan umat tersebut.

Di sisi yang lain, sadarkah kita bahwa sebagian ‘penuntut ilmu’ yang saat ini sedang giat-giatnya belajar bahasa Arab, tafsir atau hadits, ternyata disiapkan untuk menjadi agen-agen yang akan menyebarkan paham liberal dan anti-Syariah di tengah masyarakat. Mereka yang 10 tahun lagi akan di-‘ulama’-kan, saat ini sudah dicekoki dengan ide-ide yang berasal dari Barat. Bahasa Arab, tafsir, dan hadits yang mereka pelajari tidak menambah keimanan dan ‘takut’-nya mereka kepada Allah ta’ala, malah menambah keberanian mereka menistakan hukum dan Syariah-Nya.

Di sudut yang lain lagi, sebagian ‘penuntut ilmu yang ikhlas’ di-‘setting’ untuk menjadi benteng pertahanan sistem yang tidak Islami saat ini. Dengan doktrin buta ‘taat ulil amri’ versi mereka, mereka menuduh pihak-pihak yang bersuara keras memperjuangkan penerapan Syariah sebagai Khawarij, sang pemberontak yang tersesat. Terhadap sesama muslim yang berkomitmen menegakkan diinul Islam mereka begitu mudah memberi label ‘sesat’, sedangkan pada penguasa lalim yang jelas-jelas menerapkan hukum selain hukum Allah, mereka diam dan ‘menasihati secara sembunyi-sembunyi’, demi mempertahankan doktrin ‘taat ulil amri’. Dan tahukah Anda, mereka saat ini sedang rajin-rajinnya menghafal al-Qur’an, mempelajari ilmu hadits dan ushul fiqih, dan 10 tahun lagi mereka akan menjadi ‘da’i’ yang memukau ribuan orang, menjadi ‘ulama’ yang kata-katanya akan dipegang.

Inilah kenyataannya. Jika ‘Aktivis Dakwah Kampus’ yang katanya ingin mewujudkan ‘izzul Islam wal muslimin, masih saja asyik menghabiskan waktu untuk membaca novel, atau buku-buku motivasi picisan, atau bercita-cita menjadi motivator handal, yang retorikanya mengguncang panggung, tanpa keseriusan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman, tanpa memiliki perhatian untuk menghafal al-Qur’an, mendalami tafsir dan hadits, mengkaji fiqih dan ushul fiqih, maka kita sudah bisa memprediksi, siapa yang akan benar-benar di-‘ustadz’-kan atau di-‘ulama’-kan oleh masyarakat 10 tahun lagi. Bersiaplah untuk menerima kenyataan ini.

Dari Mana Memulai?

Ilmu keislaman atau -dalam bahasa Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah wa ghafara lahu- tsaqafah Islamiyyah itu merupakan ilmu yang bersumber dari wahyu, bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah, kemudian diajarkan secara turun-temurun oleh para ahli ilmu, dari masa shahabat, tabi’in, dan seterusnya, hingga sampai di masa kita. Ilmu ini tidak akan bisa kita dapatkan tanpa mempelajarinya pada ahli ilmu, yang mereka juga mempelajarinya dari ahli ilmu di atas mereka, terus bersambung sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini tidak akan bisa didapatkan hanya dengan perenungan kosong atau eksperimen ala ilmu eksak.

Para ahli ilmu, walaupun dari madzhab yang berbeda, dari paham yang beragam, jika mereka memang ahli ilmu, tentu ‘sanad’-nya akan bersambung sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adanya perbedaan paham di antara mereka adalah hal yang wajar, bahkan sudah terjadi lebih dari seribu tahun yang lalu. Hal ini karena keunikan Islam itu sendiri, yang memang memungkinkan terjadinya perbedaan para ahli ilmu dalam memahami ajaran Islam, dalam aspek-aspek cabang. Khilafiyah dalam perkara cabang tidak tercela, bahkan ia kemudahan bagi umat Islam. Yang tercela adalah perbedaan dalam perkara ushul, pokok-pokok diin.

Beranjak dari pemahaman inilah, kita bisa menjawab pertanyaan ‘Dari mana memulai?’. Dari mana kita memulai pembentukan kultur ‘thalabul ‘ilmi’? Jawabannya adalah dari ahli ilmu. Rekan-rekan Aktivis Dakwah Kampus perlu mengumpulkan para ahli ilmu, atau minimal orang yang memiliki kesinambungan ilmu, orang yang memang memiliki rekam jejak thalabul ‘ilmi sebelumnya. Orang-orang seperti ini perlu dikumpulkan untuk dijadikan marja’ dan ‘guru’ bagi mereka. Dari merekalah, Aktivis Dakwah Kampus akan mendapatkan ‘sanad ilmu’, sehingga keilmuan mereka bisa dipertanggungjawabkan.

Temukanlah orang yang punya ‘sanad ilmu’ dalam bidang fiqih, dan belajarlah darinya. Temukanlah orang yang punya ‘sanad ilmu’ dalam bidang ilmu hadits, dan bergurulah kepadanya. Temukanlah hafizh Qur’an yang dulunya bertalaqqi dengan guru Qur’annya, hafalkanlah Qur’an di hadapannya. Demikian juga untuk cabang-cabang ilmu keislaman lainnya.

Bagaimana jika tidak ada?

Jika maksudnya di komunitas dakwahnya tidak ada, maka ia harus meluaskan pandangan, temukanlah para ahli ilmu tersebut, walaupun ia bukan dari komunitas dakwahnya. Yang perlu diperhatikan bukanlah apakah ia berasal dari komunitas dakwah yang sama atau bukan, tapi apakah ia memang layak dijadikan marja’ dan ‘guru’ atau tidak. Memaksakan diri hanya ‘berguru’ dan ‘merujuk’ pada senior di komunitas dakwahnya saja, padahal sudah jelas tidak ada di antara mereka yang memiliki kemampuan yang diinginkan, adalah sebuah kesalahan, keteledoran dan mengarah pada sikap ta’ashshub.

Bisa juga dengan cara lain, yaitu dengan ‘menyekolahkan’ sebagian kecil Aktivis Dakwah Kampus atau alumni ke ‘sekolah’ yang representatif. Ambil ilmu sebanyak-banyaknya di sana, dan setelah lulus, jadikan mereka sebagai marja’ dan ‘guru’ bagi Aktivis Dakwah Kampus yang lain.

Beginilah harusnya kita memulai pembentukan kultur ‘thalabul ‘ilmi’.

Sedalam Apa Kita Perlu Belajar Fiqih?

1. Jika kita orang yang minimalis dalam beragama, maka fiqih yang wajib dipelajari adalah fiqih yang berkaitan dengan aktivitas harian kita dan amal-amal fardhu ‘ain yang kita tak mungkin terlepas dari semuanya. Jadi, kita wajib belajar fiqih thaharah, agar kita bisa beristinja, wudhu dan mandi wajib dengan benar. Demikian juga dengan fiqih shalat, puasa dan yang semisalnya. Kita wajib juga belajar fiqih muamalah sekedar agar aktivitas muamalah kita sah menurut Syariah.

Dan orang tipe ini bahkan tak wajib untuk memahami fiqih-fiqih yang disebutkan di atas beserta dalil dan istidlalnya. Ia cukup bertaqlid pada pendapat seorang ulama yang layak ditaqlidi. Itu cukup.

2. Jika kita ingin menjadi guru yang mengajarkan Islam pada murid-muridnya, atau menjadi orang yang siang-malamnya habis untuk mendakwahkan Islam, maka tentu fiqih yang perlu kita pelajari harus lebih dalam lagi. Kita juga harus bisa bahasa Arab, karena pada dasarnya orang yang tak bisa bahasa Arab tak punya bagian dalam pembahasan kajian Islam. Orang-orang yang tak bisa bahasa Arab diberi uzur untuk menjadi muqallid ‘aam.

3. Jika kita ingin menjadi mujtahid (apa gak ketinggian cita-citanya? ), maka belajar fiqihnya tentu harus jauh lebih dalam lagi.

Aktivis Dakwah Kampus Menghafal Qur’an???

Ngapain sih pakai acara menghafal Qur’an segala, kita ini kan dakwahnya untuk membentuk kembali kehidupan Islam, bukan untuk mengajak orang rame-rame menghafal Qur’an. Menghafal Qur’an itu tidak wajib dan hanya perkara cabang!

Jika kehidupan Islam yang dimaksud adalah kehidupan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in, serta dilanjutkan oleh generasi-generasi Islam terbaik, maka salah satu tradisi penting di masa mereka adalah TRADISI MENGHAFAL AL-QUR’AN.

Bahkan untuk yang bercita-cita jadi ulama, menghafal al-Qur’an adalah salah satu aktivitas paling dini yang dilakukan. Dari aktivitas inilah akhirnya kita mengenal nama-nama besar dalam peradaban Islam seperti ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, asy-Syafi’i dan al-Bukhari.

Menghafal al-Qur’an memang tidak wajib, yang wajib adalah mengamalkannya dan memperjuangkan tegaknya hukum al-Qur’an di muka bumi. Namun, walaupun tidak wajib, ia adalah salah satu ciri penting dari PERADABAN ISLAM, dari KEHIDUPAN ISLAM yang ingin kita wujudkan. Jadi, mentradisikan aktivitas menghafal al-Qur’an adalah bagian dari membiasakan kita hidup dalam nuansa peradaban Islam yang mulia.

Menghafal al-Qur’an memang perkara cabang, perkara pokok kita adalah menyebarkan tauhid yang murni ke seluruh penjuru alam, menebarkan Islam rahmatan lil ‘aalamiin. Namun, walaupun perkara cabang, bukan berarti ia tak penting. Jika kita bisa menghabiskan berjam-jam waktu kita tiap harinya untuk perkara yang jauh lebih remeh dari menjaga al-Qur’an di dada kita, mengapa kita sok-sokan mengatakan menghafal al-Qur’an adalah perkara cabang, sehingga tak penting dilakukan.

Mari kita bangun tradisi ini, sehingga 2-3 tahun ke depan, orang-orang akan mengenal aktivis dakwah kampus sebagai penghafal al-Qur’an yang berani menyatakan yang haq di tengah-tengah tersebarnya kebatilan.

Kok Saya Harus Belajar Ilmu Hadits sih? Saya kan Alumni Fakultas Hukum, Kerjaan Saya Juga Tak Ada Hubungannya dengan Hadits Nabi.

Jika ini dikatakan oleh alumni fakultas hukum kebanyakan, itu wajar. Toh, kehidupan mereka memang jauh dari ruh Islam. Paling ‘banter’ mereka rajin shalat dan puasa, sambil terus terlibat ‘mendukung’ terlaksananya hukum bi ghairi maa anzalaLlah. Fa ulaa-ika humuzh zhaalimuun.

Namun jika ini dinyatakan oleh alumni fakultas hukum yang sekaligus berstatus ‘aktivis dakwah’ atau ‘pengemban dakwah’, maka ini adalah ‘kurang ajar’. Ketika seseorang sudah berkomitmen untuk membawa dakwah Islam di atas punggungnya sampai akhir hayatnya, maka sejak itu juga ia berkewajiban memahami al-Qur’an dan as-Sunnah, al-Kitab dan al-Hadits.

Dan memahami al-Qur’an al-Karim dan al-Hadits asy-Syarif dengan pemahaman yang benar, bukanlah sesuatu yang gampang, ia perlu pengkajian cabang-cabang ilmu tertentu, ia perlu pendalaman. Memahami al-Qur’an dan as-Sunnah tidak cukup hanya dengan membeli mushaf al-Qur’an dan Ringkasan Shahih Bukhari, kemudian membaca terjemahannya. Tidak cukup.

Jika da’i tidak mau belajar ilmu hadits, tak usahlah kita dengarkan kutipan hadits yang ia sampaikan saat ceramah. Jika da’i tidak mengerti perbedaan hadits shahih, hasan, dhaif dan maudhu’, lebih baik kita tutup telinga saat ia menyampaikan satu hadits di majlis ta’lim.

Hal ini berlaku juga untuk alumni fakultas lain dan yang masih aktif kuliah.

Terlambat Ente Kalau Belajar Bahasa Arab Umur Segini !!!

Ada beberapa teman yang mendapat ‘semprotan’ seperti di atas karena ketahuan baru mulai belajar bahasa Arab di usia hampir kepala dua atau malah sudah berkepala dua. Mereka yang ‘menyemprot’ faktanya memang lebih dini belajar bahasa Arab, dan saat ini kemampuan bahasa Arab mereka jelas lebih baik dan lebih unggul dari teman yang baru belajar tadi.

Menghadapi ‘semprotan’ ini, saran saya ada dua:

1. Tidak ada kata terlambat dalam belajar. Jika memang kita baru sadar pentingnya belajar bahasa Arab di usia ‘dewasa’, mulai dan teruskan saja belajarnya. Banyak kok yang terbukti berhasil, walaupun baru mulai belajar di usia yang tak muda lagi.

2. Biarkan saja mereka ‘menyemprot’ atau mencemoooh. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Belajar saja yang serius dan sungguh-sungguh. Dan lihat 5 tahun lagi, siapa yang akan tertinggal.

Perhatikan Bacaan Anda!

1. Bagi yang ingin menjadi hafizh al-Qur’an dalam waktu sesingkat-singkatnya (ada yang bisa hafal 30 Juz dalam 30 hari), maka bacaan utamanya setiap hari adalah mushaf al-Qur’an. Ia harus meluangkan waktu berjam-jam menengok mushaf al-Qur’an setiap harinya.

2. Bagi yang ingin menjadi mujtahid (apalagi mujtahid mutlak sekali), maka ia harus meluangkan berjam-jam waktunya setiap hari untuk membaca kitab-kitab ushul fiqih, perbandingan kajian fiqih para fuqaha, al-Qur’an beserta tafsirnya, hadits beserta syarahnya, ushul tafsir, ushul hadits, dan ilmu-ilmu penunjang lainnya. Dan kebiasaan ini harus ia rutinkan selama bertahun-tahun.

3. Bagi yang ingin menjadi pemikir muslim yang cemerlang, maka ia wajib menyediakan waktunya untuk membaca berbagai buku pemikiran Islam dari pemikir-pemikir muslim besar, di masa lalu, maupun di masa sekarang. Ia juga perlu menengok karya-karya pemikir non-muslim untuk memperkaya kajian. Membaca buku motivasi picisan? Bolehlah, tapi cukup 2 jam dalam setahun.

4. Ingin menjadi motivator? … Ikuti saja training motivasi dan tiru cara motivator yang Anda ikuti trainingnya saat ‘menghipnotis’ audiens. Tak perlu banyak membaca.

Tidak Semudah Membalik Telapak Tangan

Di antara kita masih ada yang suka berpikir instan, semua hal bisa dicapai dengan cara yang mudah, selalu ada cara instan untuk menghasilkan sesuatu. Dan sayangnya cara berpikir seperti ini pun masih ada di kalangan aktivis dakwah kampus atau alumni dakwah kampus. Saya kurang tahu mengapa cara berpikir seperti ini tumbuh di kalangan ini, apakah karena mereka terlalu sering mengikuti dan mengadakan training motivasi atau bahan bacaannya kebanyakan buku-buku motivasi yang kering pendalaman kajian, atau karena hal lain. Pastinya, dalam realitanya, banyak hal yang tidak bisa dicapai secara instan, banyak hal yang baru bisa terwujud setelah kita ‘berdarah-darah’ dulu dan menempuh waktu tahunan bahkan puluhan tahun dulu.

Termasuk yang tidak mudah dilakukan adalah membentuk kultur ‘thalabul ‘ilmi’ di kalangan aktivis dakwah kampus. Mengapa kultur ini sulit dibentuk? Banyak hal yang bisa diajukan sebagai jawabannya. Misal, selama ini kultur yang dibangun di lembaga dakwah kampus adalah rekrutmen, opini, rekrutmen, opini, rekrutmen, kemudian opini lagi, tanpa ada keseriusan lebih untuk menjadikan kader yang telah direkrut benar-benar berilmu dan layak terjun dalam medan dakwah. Sebagian lembaga dakwah kampus lebih fokus pada mendapatkan kader, dan tidak memperhatikan proses peningkatan kualitas kader, terutama dari sisi keilmuan.

Jawaban lain adalah, karena kultur ‘thalabul ‘ilmi’ ini adalah kultur baru, dan setiap kultur baru yang ingin dibentuk tentu akan berhadapan dengan kultur lama lengkap dengan para penjaga kultur lama tersebut. Jika kultur baru ini tidak diajukan secara baik, bisa jadi wacana kultur baru ini akan layu sebelum berkembang.

Dan tidak kalah penting, bisa jadi sulitnya membentuk kultur ‘thalabul ‘ilmi’ ini disebabkan oleh si penggagas kultur tersebut sendiri. Bagaimanapun, jika kita serius ingin mewujudkan sesuatu, langkah demi langkah, step by step, untuk mencapai sesuatu tersebut harus sudah direncanakan. Jika tidak, kita sebenarnya tidak sedang berusaha mewujudkan sesuatu, melainkan sedang mengkhayalkannya. PR bagi si penggagas adalah mampukah ia merincikan gagasan besarnya ke dalam tahapan operasional, sehingga semua orang bisa memahami dan melaksanakannya.

Jadi, bagi siapapun yang ingin serius melibatkan diri membentuk kultur baru, kultur ‘thalabul ‘ilmi’, mari siapkan diri, fisik dan mental, untuk mewujudkannya. Tidak usah mengkhayal hasilnya akan bisa kita dapatkan tahun ini juga. Ini perlu proses, dan bisa jadi tiga atau lima tahun kemudian kita baru bisa melihat hasilnya.

Mari berbenah sekarang juga.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *