Mengenal Hadits Hasan

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Tamhid

Sebagaimana kita ketahui, hadits maqbul secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu hadits shahih dan hadits hasan. Hadits hasan derajatnya berada di bawah hadits shahih. Hadits shahih terbagi menjadi shahih lidzatihi dan lighairihi, demikian pula hadits hasan.

Tulisan kali ini akan membahas sedikit tentang hadits hasan, yang keshahihannya berasal dari dirinya sendiri (lidzatihi), sedangkan hadits hasan lighairihi akan dijelaskan di tulisan yang lain, insyaAllah.

Ta’rif

Secara bahasa, hasan merupakan shifah musyabbahah, yang artinya bagus atau indah.

Adapun secara istilah, para ulama berbeda-beda memberikan ta’rifnya. Di antaranya adalah:

Ta’rif dari al-Khaththabi:

ما عرف مخرجه، واشتهر رجاله، وعليه مدار أكثر الحديث، وهو الذي يقبله أكثر العلماء، ويستعمله عامة الفقهاء

Artinya: “Hadits yang dikenal makhraj-nya, masyhur para perawinya, kebanyakan hadits berkisar padanya, diterima oleh mayoritas ulama, dan digunakan oleh umumnya fuqaha.”

Ta’rif dari at-Tirmidzi:

كل حديث يروى، لا يكون في إسناده من يتهم بالكذب، ولا يكون الحديث شاذا، ويروى من غير وجه نحو ذلك

Artinya: “Setiap hadits yang di dalam sanadnya tidak terdapat orang yang tertuduh berdusta, haditsnya tidak syadz, dan diriwayatkan juga dari jalur lain yang semisalnya.”

Ta’rif dari Ibn Hajar:

وخبر الآحاد بنقل عدل تام الضبط، متصل السند، غير معلل، ولا شاذ، هو الصحيح لذاته، فإن خف الضبط، فالحسن لذاته

Artinya: “Khabar ahad yang disampaikan oleh seorang yang ‘adil dan sempurna dhabth­-nya, bersambung sanadnya, tidak terdapat ‘illah dan syadz, ia adalah hadits shahih lidzatihi. Dan jika kedhabithannya ringan, maka ia hasan lidzatihi.”

Syaikh Mahmud ath-Thahhan menyatakan bahwa ta’rif yang diajukan oleh al-Khaththabi banyak yang perlu dikritisi, sedangkan ta’rifnya at-Tirmidzi itu lebih tepat untuk hasan ligharihi, bukan hasan lidzatihi. Hadits hasan ligharihi adalah hadits dha’if yang naik ke derajat hasan karena dikuatkan oleh banyaknya jalur periwayatan.

Beliau kemudian menyatakan bahwa ta’rif yang disampaikan oleh Ibn Hajar adalah ta’rif yang terbaik untuk menunjukkan hadits hasan.

Ta’rif Hadits Hasan yang Dipilih Syaikh Mahmud ath-Thahhan

Berdasarkan ta’rif yang diberikan Ibn Hajar, ath-Thahhan menyatakan bahwa hadits hasan adalah:

ما اتصل سنده بنقل العدل الذي خف ضبطه، عن مثله إلى منتهاه، من غير شذوذ ولا علة

Artinya: “Hadits yang sanadnya bersambung melalui periwayatan dari seorang yang adil namun ringan kedhabithannya, dari yang semisalnya sampai ke ujung sanad, dan tidak terdapat padanya syadz dan ‘illah.”

Perbedaan Hadits Shahih dan Hadits Hasan

Berdasarkan ta’rif dari Ibn Hajar, perbedaan hadits shahih dan hadits hasan ‘hanyalah’ dari sisi kedhabithan perawinya. Hadits shahih seluruh perawinya sempurna kedhabithannya, sedangkan hadits hasan terdapat rawi yang ringan kedhabithannya.

Contoh Hadits Hasan

Hadits yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi (1659). Beliau berkata: haddatsanaa ‘Quthaibah, haddatsanaa Ja’far ibn Sulaiman adh-Dhuba’i, ‘an Abi ‘Imran al-Jauni, ‘an Abi Bakr ibn Abi Musa al-Asy’ari, ia berkata: saya mendengar ayahku berkata ketika musuh telah hadir: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أبواب الجنة تحت ظلال السيوف…

Artinya: “Sesungguhnya pintu surga di bawah kilatan pedang…”

Hadits ini merupakan hadits hasan, karena seluruh rawinya adalah rawi yang tsiqah, kecuali Ja’far ibn Sulaiman adh-Dhuba’i, ia hasanul hadits, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibn Hajar di Tahdzib at-Tahdzib tentang ini dari Abi Ahmad.

Hukum Hadits Hasan

Hadits hasan merupakan hujjah, sebagaimana hadits shahih, walaupun ia lebih lemah daripada hadits shahih. Seluruh fuqaha berhujjah dan beramal dengannya, demikian juga mayoritas muhadditsun dan ushuliyyun juga berhujjah dengannya, kecuali sebagian kelompok mutasyaddidun. Sedangkan yang mutasahilun seperti al-Hakim, Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah malah memasukkannya ke kelompok hadits shahih.

Tingkatan Hadits Hasan

Sebagaimana hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tingkatan, yaitu:

1. Tingkatan yang tertinggi adalah hadits yang diperselisihkan periwayatnya, shahihkah ia atau hasan. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, atau ‘Amr ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, atau Ibn Ishaq dari at-Taimi.

2. Tingkatan yang terendah adalah hadits yang diperselisihkan rawinya, hasan atau dha’ifkah ia. Misalnya hadits al-Harits ibn ‘Abdillah, ‘Ashim ibn Dhamrah, Hajjaj ibn Arthah dan yang semisal dengan mereka.

Apakah yang Dimaksud dengan Ungkapan ‘Shahihul Isnad’ atau ‘Hasanul Isnad’?

Jika seorang ahli hadits mengatakan ‘hadits shahihul isnad’, maksudnya adalah hadits tersebut shahih sanadnya, sedangkan matannya belum tentu. Jika hadits shahih harus memenuhi 5 syarat, maka shahihul isnad hanya memenuhi 3 syarat, yaitu bersambungnya sanad, serta ‘adil dan dhabithnya rawi, sedangkan ketiadaan syadz dan ‘illah masih belum ditentukan. Demikian juga untuk ungkapan ‘hasanul isnad’.

Walaupun begitu, jika seorang hafizh mu’tamad menyatakan ‘ini adalah hadits shahihul isnad’, dan ia tidak menyebutkan ‘illah pada hadits tersebut, maka zhahirnya matan hadits tersebut juga shahih. Karena hukum asalnya, ‘illah dan syadz tidak terdapat dalam hadits.

Apakah Maksud dari Perkataan at-Tirmidzi dan Selainnya ‘Hadits Hasan Shahih’?

Istilah ini sebenarnya istilah yang musykil, karena hadits shahih itu berbeda dengan hadits hasan, dan sewajarnya tidak digabungkan. Namun, at-Tirmidzi dan sebagian ahli hadits yang lain menggunakan istilah ini. Para ulama kemudian mencoba menjelaskan maksud at-Tirmidzi dengan istilah ‘hadits hasan shahih’ ini, sebagai berikut:

1. Jika hadits tersebut memiliki dua jalur sanad atau lebih, maka makna ‘hadits hasan shahih’ adalah satu sanad shahih, dan sanad lainnya hasan.

2. Jika hadits tersebut hanya memiliki satu jalur sanad, maka makna ‘hadits hasan shahih’ adalah hadits tersebut dianggap shahih oleh sebagian ahli hadits, dan oleh sebagian ahli hadits yang lain dianggap hasan.

Apakah Maksud dari Perkataan at-Tirmidzi ‘Hadits Hasan Gharib’?

Ini kemusykilan yang lain dari istilah yang digunakan oleh at-Tirmidzi, karena at-Tirmidzi mendefinisikan hadits hasan dengan ‘diriwayatkan juga dari jalur lain yang semisalnya’. Dari definisi ini, seakan-akan at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits hasan tidak mungkin hadits yang gharib, hadits yang hanya memiliki satu jalur sanad saja. Lalu mengapa kemudian ada istilah ‘hasan gharib’?

Ibn Hajar menyatakan bahwa at-Tirmidzi menggunakan banyak istilah dalam kitabnya, seperti ‘shahih’, ‘hasan’, ‘gharib’, ‘hasan shahih’, ‘shahih gharib’, ‘hasan gharib’, dan ‘hasan shahih gharib’. Dan masing-masing istilah tersebut maknanya berbeda-beda. Jadi, hadits hasan, tanpa embel-embel lain, definisinya adalah seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, sedangkan istilah ‘hasan shahih’, ‘hasan gharib’, dan lainnya berbeda lagi definisinya, dan at-Tirmidzi tidak menjelaskan secara langsung makna istilah-istilah tersebut.

Pembagian Hadits ala al-Baghawi dalam Kitab ‘al-Mashabih’

Imam al-Baghawi memiliki ta’rif tersendiri dalam kitab beliau ‘al-Mashabih’. Beliau menyebut hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan ‘shahih’, dan hadits-hadits yang terdapat dalam as-Sunan al-Arba’ah dengan ‘hasan’.

Istilah yang beliau gunakan itu tidak sesuai dengan istilah yang umum digunakan oleh ahli hadits, karena hadits dalam as-Sunan al-Arba’ah ada yang shahih, hasan, dha’if dan munkar. Dan ‘keanehan’ penggunaan istilah yang dilakukan oleh al-Baghawi ini telah dijelaskan oleh Ibn ash-Shalah dan an-Nawawi.

Hadits-Hadits dalam Sunan Abi Dawud

Abu Dawud dalam risalahnya kepada penduduk Makkah menyatakan bahwa di dalam kitabnya, yaitu Sunan Abi Dawud, terdapat hadits shahih, yang menyerupai, serta yang mendekatinya. Jika di dalamnya terdapat hadits yang sangat lemah, beliau akan menjelaskannya, dan jika beliau tidak menyebutkan apa-apa tentang hadits tersebut, maka hadits tersebut shalih.

Ath-Thahhan menyatakan bahwa berdasarkan penjelasan Abu Dawud di atas, jika kita menemukan hadits yang tidak dijelaskan oleh beliau kedha’ifannya, dan sekaligus tidak dishahihkan oleh seorangpun imam yang mu’tamad, maka hadits tersebut adalah hadits hasan menurut Abu Dawud.

Selesai.

Rujukan

1. Taysir Mushthalah al-Hadits karya Syaikh Dr. Mahmud ath-Thahhan
2. Nuzhah an-Nazhar fi Taudhih Nukhbah al-Fikar karya Syaikhul Islam Ibn Hajar al-‘Asqalani
3. Ma’alim as-Sunan, Syarh Sunan Abi Dawud karya Imam al-Khaththabi
4. Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi karya Imam as-Suyuthi
5. Ma’rifah Anwa’ ‘Ulum al-Hadits karya Imam Ibn ash-Shalah

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *