Mengenal Hadits Matruk dan Hadits Munkar

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Hadits matruk dan hadits munkar merupakan dua istilah untuk menyebut hadits yang sangat dhaif, yang sebab dhaifnya adalah cacatnya rawi.

Hadits Matruk

Definisi

Hadits matruk adalah hadits yang pada sanadnya terdapat rawi yang tertuduh berdusta.

Kedudukannya

Hadits ini merupakan hadits paling dhaif setelah hadits maudhu’ (palsu).

Sebab-Sebab Seorang Rawi Tertuduh Berdusta

1. Hadits tersebut hanya diriwayatkan dari jalurnya saja dan hadits tersebut menyelisihi kaidah-kaidah yang yang sudah dimaklumi, yaitu kaidah-kaidah umum yang telah disimpulkan oleh para ulama dari seluruh nash yang shahih.

2. Rawi tersebut dikenal suka dan terbiasa berbicara dusta, namun dia tidak terlihat berdusta saat menyampaikan hadits.

Contoh Hadits Matruk

Hadits ‘Amr bin Syamir Al-Ju’fi Al-Kufi Asy-Syi’i, dari Jabir, dari Abu At-Thufail, dari ‘Ali dan ‘Ammar bahwa mereka berdua berkata:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يقنت في الفجر ويكبر يوم عرفة من صلاة الغداة ويقطع صلاة العصر آخر أيام التشريق

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam membaca qunut pada shalat fajar, bertakbir pada hari Arafah dari sejak shalat shubuh dan berhenti pada waktu shalat ashar di hari terakhir hari-hari tasyriq.”

Imam An-Nasa’i, Ad-Daraquthni dan yang lainnya menyatakan ‘Amr bin Syamir adalah matrukul hadits.

Hadits Munkar

Definisi

Para ulama mendefinisikan hadits munkar dengan berbagai definisi, dan yang paling masyhur ada dua, yaitu:

1. Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang sangat banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya.

2. Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dhaif dan bertentangan dengan riwayat dari rawi yang tsiqah.

Definisi no. 2 ini merupakan definisi yang dipilih oleh Al-Hafizh Ibn Hajar, dan ia merupakan definisi yang lebih lengkap dari definisi no. 1, karena di dalamnya dijelaskan bahwa riwayat yang disampaikan rawi dhaif tersebut harus bertentangan dengan riwayat dari rawi yang tsiqah.

Kedudukannya

Hadits munkar termasuk hadits yang sangat dhaif, dan ia berada di peringkat ketiga setelah hadits maudhu’ dan hadits matruk.

Contoh Hadits Munkar

Contoh untuk definisi no. 1:

Hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari riwayat Abi Zukair Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha secara marfu’:

كلوا البلح بالتمر فإن ابن آدم إذا أكله غضب الشيطان

Artinya: “Makanlah balah (kurma mentah) dengan tamr (kurma matang), karena syaithan akan marah jika anak Adam memakannya.”

An-Nasa’i berkata: “Ini hadits munkar. Abu Zukair meriwayatkannya secara sendirian. Dia seorang syaikh yang shalih. Imam Muslim meriwayatkannya sebagai mutaba’at. Hanya saja ia tidak sampai pada derajat rawi yang dapat meriwayatkan hadits secara sendirian.”

Contoh untuk definisi no. 2:

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Hubaib bin Habib Az-Zayyat, dari Abu Ishaq dan ‘Aizar bin Huraits, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

من أقام الصلاة وآتى الزكاة وحج البيت، وصام وقرى الضيف دخل الجنة

Artinya: “Barang siapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah, berpuasa, dan menjamu tamu, maka dia masuk surga.”

Abu Hatim berkata: ”Hadits ini munkar, karena rawi-rawi selainnya yang tsiqah meriwayatkannya dari Abu Ishaq secara mauquf (hanya sampai shahabat, tidak sampai ke Nabi), dan riwayat inilah yang dikenal (ma’ruf).”

Perbedaan Antara Hadits Munkar dan Hadits Syadz

Hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (diterima haditsnya, tidak dhaif), namun bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan rawi yang lebih utama darinya.

Sedangkan hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dhaif dan bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (terpercaya).

Dari definisi di atas, hadits munkar dan hadits syadz punya kesamaan, yaitu sama-sama menyelisihi hadits yang tingkatannya lebih tinggi darinya. Namun dari sisi yang lain, keduanya berbeda. Hadits syadz periwayat haditsnya maqbul, sedangkan hadits munkar rawinya dhaif.

Hadits Munkar dan Hadits Ma’ruf

Hadits ma’ruf merupakan lawan dari hadits munkar. Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah yang menyelisihi riwayat dari rawi yang dhaif.

Contohnya pada hadits riwayat Ibnu Abi Hatim yang telah disebutkan di atas, hadits yang diriwayatkan secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) merupakan hadits munkar, sedangkan riwayat yang lain yang diriwayatkan secara mauquf (hanya sampai pada shahabat saja) merupakan hadits ma’ruf.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Referensi
Taysiir Mushthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *