Mengenal Hadits Mudraj

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Definisi

Hadits mudraj adalah hadits yang berubah susunan sanadnya, atau masuk pada matannya suatu perkataan yang bukan hadits, tanpa ada pemisah.

B. Pembagiannya

Hadits mudraj terbagi dua, yaitu mudraj isnad dan mudraj matan.

1. Mudraj Isnad

Mudraj isnad adalah hadits yang berubah susunan sanadnya.

Salah satu bentuknya adalah seorang rawi menyebutkan susunan sanad suatu hadits, kemudian ia terhenti oleh sesuatu, lalu ia mengeluarkan suatu perkataan yang bukan hadits, namun dari dirinya sendiri, tapi orang-orang yang mendengarkan perkataan itu mengira ia adalah matan hadits, kemudian mereka meriwayatkannya.

Contohnya adalah pada cerita Tsabit ibn Musa Az-Zahid. Satu waktu Tsabit ibn Musa datang menemui Syarik ibn ‘Abdillah Al-Qadhi yang sedang membacakan sanad hadits. Syarik berkata, “Telah menceritakan pada kami Al-A’masy, dari Abi Sufyan, dari Jabir, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda…”, kemudian ia diam agar orang-orang bisa mencatat apa yang ia bacakan. Setelah itu, ia melihat pada Tsabit ibn Musa yang baru datang, kemudian ia berkata, “Siapa yang banyak melakukan shalat di malam hari, wajahnya akan indah di siang hari.” Ia mengatakan hal itu sebenarnya untuk memuji Tsabit karena kezuhudan dan kewara’annya, namun Tsabit mengira itu adalah matan hadits dari sanad yang disebutkan oleh Syarik sebelumnya. Lalu ia pun meriwayatkan kata-kata tersebut sebagai hadits.

2. Mudraj Matan

Mudraj matan adalah hadits yang matan-nya dimasuki oleh suatu perkataan yang bukan hadits, tanpa ada pemisah.

Mudraj matan terbagi menjadi tiga, yaitu:

(a) Yang idraj (sisipan)-nya terletak di awal hadits
(b) yang idraj (sisipan)-nya terletak di tengah hadits
(c) Yang idraj (sisipan)-nya terletak di akhir hadits.

Yang paling banyak terjadi adalah yang sisipannya di akhir hadits, kemudian di awal hadits, dan paling sedikit di tengah hadits.

Contoh hadits mudraj yang idraj (sisipan)-nya terletak di awal hadits:

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Khathib melalui riwayat Abu Qathan dan Syababah, dari Syu’bah, dari Muhammad ibn Ziyad, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أسبغوا الوضوء، ويل للأعقاب من النار

Artinya: “Sempurnakanlah wudhu. Neraka wail bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air wudhu).”

Kalimat “asbighul wudhuu-a”, merupakan sisipan dari perkataan Abu Hurairah, dan bukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bisa dilihat dari riwayat Al-Bukhari dari Adam, dari Syu’bah, dari Muhammad ibn Ziyad, dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata: “Sempurnakanlah wudhu kalian, karena Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wailul lil-a’qaabi minan naar’.”

Contoh hadits mudraj yang idraj (sisipan)-nya terletak di tengah hadits:

Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, riwayat Al-Bukhari, tentang permulaan wahyu. Beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يتحنث في غار حراء -وهو التعبد- الليالي ذوات العدد

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tahannuts –yaitu beribadah– beberapa malam.”

Kata-kata “wa huwat ta’abbbud”, merupakan perkataan Az-Zuhri yang menjadi salah satu rawi hadits riwayat Al-Bukhari di atas.

Contoh hadits mudraj yang idraj (sisipan)-nya terletak di akhir hadits:

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, riwayat Al-Bukhari, secara marfu’:

للعبد المملوك أجران، والذي نفسي بيده، لولا الجهاد في سبيل الله، والحج، وبر أمي، لأحببت أن أموت وأنا مملوك

Artinya: “Bagi hamba sahaya yang dimiliki ada dua pahala. Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya bukan karena jihad di jalan Allah, haji, dan berbakti pada ibuku, tentu aku lebih menyukai mati sebagai hamba sahaya.”

Ungkapan “Wal ladzii nafsii…” dan seterusnya merupakan kata-kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bukan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini karena mustahil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap menjadi seorang hamba sahaya, selain itu ibu beliau juga sudah wafat sejak lama.

C. Mengapa Terjadi Idraj (Sisipan) Dalam Hadits?

Ada beberapa alasan terjadinya idraj, dan yang masyhur adalah:

(1) Menjelaskan hukum syara’ dari hadits tersebut
(2) Istinbath hukum syara’ dari hadits, sebelum haditsnya selesai disampaikan
(3) Menjelaskan lafazh-lafazh asing di dalam hadits

D. Cara Mengetahui Idraj (Sisipan) Dalam Suatu Hadits

Idraj dalam satu hadits diketahui melalui beberapa hal, di antaranya:

(1) Terdapat hadits yang memisahkan hadits dan sisipannya tersebut dalam riwayat yang lain.
(2) Penetapan tentang adanya idraj dalam hadits tersebut oleh sebagian imam ahli hadits yang menelitinya.
(3) Pengakuan rawi itu sendiri bahwa ia telah menyisipkan kata-katanya dalam hadits.
(4) Mustahilnya hal itu dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

E. Hukum Hadits Mudraj

Idraj (sisipan) dalam suatu hadits haram hukumnya berdasarkan kesepakatan para ulama hadits, fiqih dan lainnya. Dikecualikan dari keharaman ini adalah jika ia ditujukan untuk menjelaskan lafazh yang gharib dalam hadits tersebut, oleh karenanya Az-Zuhri dan imam-imam ahli hadits lainnya kadang melakukannya.

F. Kitab yang Paling Masyhur yang Memuat Hadits-Hadits Mudraj

(1) Al-Fashl li Al-Washl Al-Mudraj fi An-Naql, karya Al-Khathib Al-Baghdadi
(2) Taqrib Al-Manhaj bi Tartib Al-Mudraj, karya Ibn Hajar

Referensi:
Taysiir Mushthalah al-Hadits karya Dr. Mahmud ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *