Mengenal Konsep Makki dan Madani

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Pengantar

Salah satu kekhususan Al-Qur’an dibanding kitab-kitab samawi lainnya adalah ia diturunkan secara bertahap. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap ini bukan tanpa alasan. Ia turun sesuai kondisi umat yang didakwahi, hingga dakwah benar-benar meresap dan diterima.

Saat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam awal-awal diutus menjadi Rasul, beliau menghadapi masyarakat yang buta dan tuli dari kebenaran, menyekutukan Allah ta’ala, menyembah berhala, mengingkari adanya wahyu dan mendustakan hari akhir.

Ini direkam dalam Al-Qur’an Al-Karim:

ما هي إلا حياتنا الدنيا نموت ونحيا وما يهلكنا إلا الدهر

Artinya: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan yang akan membinasakan kita hanyalah waktu.” (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 24)

Selain itu, mereka juga ahli bertengkar dan berdebat dengan kata-kata pedas dan retorika yang luar biasa. Menghadapi masyarakat seperti ini, Al-Qur’an yang turun di Makkah (Makki) banyak mengabarkan tentang tauhid dan kehidupan akhirat dengan retorika yang sangat kuat dan ungkapan-ungkapan yang dahsyat yang bisa menggoncang keyakinan orang-orang kafir Makkah.

Setelah terbentuk jama’ah muslimin yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-nya, hari akhir serta qadar, baik dan buruknya dari Allah, aqidah mereka pun telah teruji dengan berbagai cobaan, dan untuk mempertahankan aqidah itu mereka pun rela berhijrah meninggalkan kampung halaman dan kesenangan duniawi, saat itulah Al-Qur’an turun dengan ayat-ayat panjang yang berisi hukum-hukum yang harus dijalankan oleh mereka. Saat itulah seruan berjihad dan berkurban di jalan Allah dikumandangkan, serta dibentuklah perundang-undangan dan kaidah-kaidah kemasyarakatan. Ini baru dilakukan di Madinah, ketika keimanan mereka sudah sangat kokoh dan teruji.

Ada pelajaran menarik dari penahapan turunnya Al-Qur’an ini, yaitu pengokohan iman harus didahulukan daripada pemberian beban taklif. Seseorang yang lemah imannya, bahkan tak yakin akan kehidupan akhirat, ia akan merasa ringan saja meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan. Jika orang-orang seperti ini aqidahnya tak dikuatkan, keyakinannya terhadap adanya surga dan neraka tak dikokohkan, maka sia-sia saja mereka diajak untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, mereka tak akan mempedulikannya.

B. Manfaat Mengetahui Makki dan Madani

Pengetahuan tentang Makki dan Madani (atau Makkiyyah dan Madaniyyah dalam bentuk muannats) mengandung banyak manfaat, di antaranya:

(1) Membantu menafsirkan Al-Qur’an

Pengetahuan tentang tempat turunnya ayat bisa membantu seorang mufassir memahami dan menafsirkannya dengan tepat. Dengannya seorang mufassir juga bisa mengetahui yang mansukh dan yang nasikh.

(2) Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam berdakwah

Perbedaan gaya bahasa ayat-ayat Makki dan ayat-ayat Madani memberikan pelajaran bagi kita bahwa perbedaan sasaran dakwah meniscayakan perbedaan gaya bahasa dan materi yang disampaikan. Seorang juru dakwah yang memahami konsep Makki dan Madani akan bisa menempatkan diri, apa yang perlu disampaikan dan apa yang belum perlu disampaikan, sesuai dengan kondisi lingkungan dan keadaan orang-orang yang didakwahi.

(3) Mengetahui sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sejarah hidup Rasulullah bisa kita lihat melalui runutan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, dari ayat-ayat yang turun di Makkah hingga yang turun di Madinah, dari yang pertama kali turun hingga yang terakhir.

C. Perbedaan Makki dan Madani

Ada tiga pandangan ulama tentang perbedaan Makki dan Madani, yaitu:

(1) Dari segi waktu turunnya

Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah ke Madinah, meskipun ia tidak diturunkan di Makkah. Sedangkan Madani adalah yang diturunkan setelah hijrah, walaupun ia tidak diturunkan di Madinah.

Ayat-ayat yang diturunkan setelah hijrah merupakan Madani, walaupun ia diturunkan di Makkah atau ‘Arafah, misalnya firman Allah ta’ala dalam surah An-Nisa ayat 58 yang turun saat Fathu Makkah.

Inilah pendapat terbaik tentang perbedaan Makki dan Madani.

(2) Dari segi tempat turunnya

Makki adalah yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya, seperti Mina, ‘Arafah dan Hudaibiyyah. Sedangkan Madani adalah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud dan Quba.

Pendapat ini kurang tepat. Karena ia tidak bisa menjelaskan ayat-ayat yang turun di perjalanan atau di daerah yang jauh dari Makkah dan Madinah, misalnya di Baitul Maqdis. Surah az-Zukhruf ayat 45 turun di Baitul Maqdis pada malam Isra’.

(3) Dari segi sasarannya

Makki adalah yang seruannya kepada penduduk Makkah, sedangkan Madani adalah yang seruannya kepada penduduk Madinah. Berdasarkan hal ini, pendukung pendapat ini menyatakan bahwa ayat yang berisi seruan “yaa ayyuhan naas” merupakan ayat Makki, sedangkan yang berisi seruan “yaa ayyuhal ladziina aamanuu” merupakan ayat Madani.

Pendapat ini juga kurang tepat. Karena dalam surah Al-Baqarah yang Madani terdapat seruan “yaa ayyuhan naas”, misalnya di ayat ke-21.

D. Mana yang Makki dan Mana yang Madani?

Surah-surah Madaniyyah ada 20 surah, yaitu: (1) Al-Baqarah, (2) Aali ‘Imraan, (3) An-Nisaa, (4) Al-Maaidah, (5) Al-Anfaal, (6) At-Taubah, (7) An-Nuur, (8) Al-Ahzaab, (9) Muhammad, (10) Al-Fath, (11) Al-Hujuraat, (12) Al-Hadiid, (13) Al-Mujaadalah, (14) Al-Hasyr, (15) Al-Mumtahanah, (16) Al-Jumu’ah, (17) Al-Munaafiquun, (18) Ath-Thalaaq, (19) At-Tahriim, dan (20) An-Nashr.

Yang diperselisihkan, apakah ia Madaniyyah atau Makkiyyah ada 12 surah, yaitu: (1) Al-Faatihah, (2) Ar-Ra’d, (3) Ar-Rahmaan, (4) Ash-Shaff, (5) At-Taghaabun, (6) At-Tathfiif, (7) Al-Qadr, (8) Al-Bayyinah, (9) Az-Zalzalah, (10) Al-Ikhlaash, (11) Al-Falaq, dan (12) An-Naas.

Sedangkan 82 surah sisanya adalah surah-surah Makkiyyah. Total seluruh surah adalah 114 surah.

Namun, perlu diperhatikan di sini, kadang surah-surah Madaniyyah mengandung ayat Makkiyyah, demikian juga sebaliknya. Misalnya, surah Al-Anfaal merupakan surah Madaniyyah, namun ayat 30 dari surah tersebut menurut para ulama merupakan ayat Makkiyyah. Surah Al-An’aam merupakan surah Makkiyyah, namun ayat 151 sampai 153 dari surah ini diturunkan di Madinah.

E. Ketentuan dan Ciri Khusus Makki

Ada beberapa ketentuan untuk surah-surah Makkiyyah, yaitu:

(1) Setiap surah yang mengandung ‘sajdah’ merupakan Makkiyyah.

(2) Setiap surah yang mengandung lafazh ‘kallaa’ merupakan Makkiyyah. Lafazh ini disebutkan 33 kali dalam lima belas surah.

(3) Setiap surah yang mengandung “yaa ayyuhan naas” dan tidak mengandung “yaa ayyuhal ladziina aamanuu” adalah Makkiyyah, kecuali surah Al-Hajj yang di akhirnya mengandung “yaa ayyuhal ladziina aamanuu”, sedangkan para ulama menyatakannya sebagai ayat Makkiyyah.

(4) Setiap surah yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu adalah Makkiyyah, kecuali surah Al-Baqarah.

(5) Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makkiyyah, kecuali surah Al-Baqarah.

(6) Setiap surah yang dimulai dengan huruf-huruf ejaan, seperti ‘alif laam miim’, ‘alif laam raa’, ‘haa miim’, dan lainnya, adalah Makkiyyah, kecuali surah Al-Baqarah dan Aali ‘Imraan. Sedangkan surah Ar-Ra’d masih diperselisihkan.

Surah dan ayat Makkiyyah juga punya ciri khusus dalam isinya, baik dari sisi tema yang dibahas maupun gaya bahasa, yaitu:

(1) Dakwah kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian risalah, penetapan adanya hari kebangkitan dan pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan kenikmatannya, serta perdebatan dengan orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyyah.

(2) Peletakan dasar-dasar umum bagi pensyariatan dan pengokohan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya masyarakat. Ia juga menyingkap kejahatan orang-orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan tradisi buruk lainnya.

(3) Berisi kisah para Nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang-orang yang mendustakan risalah sebelum mereka, dan sebagai hiburan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan meraih kemenangan.

(4) Katanya pendek-pendek dengan ungkapan yang sangat kuat. Pernyataannya singkat, namun di telinga terdengar sangat keras dan menggetarkan hati. Maknanya pun diperkuat dengan banyaknya lafazh sumpah, seperti yang termuat dalam banyak surah pendek.

F. Ketentuan dan Ciri Khusus Madani

Ada beberapa ketentuan untuk surah-surah Madaniyyah, yaitu:

(1) Setiap surah yang di dalamnya berisi kewajiban dan sanksi adalah Madaniyyah.

(2) Setiap surah yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang munafiq adalah Madaniyyah, kecuali surah Al-‘Ankabuut yang Makkiyyah.

(3) Setiap surah yang di dalamnya terdapat perdebatan dengan ahli kitab adalah Madaniyyah.

Surah dan ayat Madaniyyah juga punya ciri khusus dalam isinya, baik dari sisi tema yang dibahas maupun gaya bahasa, yaitu:

(1) Menjelaskan ibadah, muamalah, hudud, aturan berkeluarga, warisan, keutamaan jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik di waktu damai maupun perang, serta kaidah-kaidah pemerintahan dan perundang-undangan.

(2) Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan yang mereka lakukan terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara mereka.

(3) Menyingkap perilaku orang munafiq, menganalisis kejiwaan mereka, membuka kedok mereka dan menjelaskan bahaya mereka bagi agama.

(4) Kata dan ayatnya panjang-panjang dengan gaya bahasa yang menetapkan syariah serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

Selesai dengan izin Allah ta’ala.

Diolah dari:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan karya Syaikh Mannaa’ al-Qaththaan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *