Mengetahui Hadits yang Nasikh dan yang Mansukh

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Salah satu kajian yang sangat penting dalam ilmu hadits adalah mengetahui hadits-hadits yang nasikh dan yang mansukh. Hadits yang nasikh adalah hadits yang menghapus hukum dari hadits yang sebelumnya. Hadits yang terhapus hukumnya itu dinamakan hadits yang mansukh. Sederhananya, ada satu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan hukum tertentu atas perkara tertentu, dan beberapa waktu kemudian datang lagi hadits dari Nabi yang menetapkan hukum baru atas perkara tersebut. Hadits yang pertama dinamakan mansukh, dan yang datang kemudian dinamakan nasikh.

Tidak banyak ulama yang menguasai tentang nasikh mansukh dalam hadits ini, karena begitu sulitnya. Bahkan az-Zuhri berkata, ‘Upaya untuk mengetahui hadits yang nasikh dari yang mansukh telah melelahkan dan melemahkan para fuqaha’. Salah satu ulama yang dianggap rujukan dalam memahami hadits nasikh dan mansukh adalah Imam asy-Syafi’i. Tentang hal ini, Imam Ahmad ibn Hanbal pernah bertanya ke Ibn Warah yang baru pulang dari Mesir, ‘Apakah Anda telah menulis buku-bukunya asy-Syafi’i?’, Ibn Warah menjawab, ‘Tidak’, kemudian Imam Ahmad berkata, ‘Engkau telah lalai, kita tidak mengetahui yang mujmal dari yang mufassar, dan hadits yang nasikh dari yang mansukh, sampai kita duduk di majelisnya asy-Syafi’i’.

Berdasarkan penjelasan para ulama, ada empat cara untuk mengetahui hadits yang nasikh dari yang mansukh, yaitu:

1. Pernyataan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Misalnya hadits Buraidah di Shahih Muslim sebagai berikut:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكر الآخرة

Artinya: “Dulu aku telah melarang kalian dari ziarah kubur, dan sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kalian pada akhirat.”

2. Perkataan shahabat

Misalnya perkataan Jabir ibn ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ashhab as-Sunan berikut ini:

كان آخر الأمرين من رسول الله صلى الله عليه وسلم ترك الوضوء مما مست النار

Artinya: “Perkara yang terakhir yang dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari dua perkara adalah meninggalkan wudhu karena memakan apa-apa yang terkena api.”

Juga perkataan Ubay ibn Ka’ab radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi berikut ini:

كان الماء من الماء رخصة في أول الإسلام ثم أمر بالغسل

Artinya: “Adalah air dari air merupakan rukhshah di awal Islam, kemudian Nabi memerintahkan mandi.”

Ungkapan kaana al-maa min al-maa maksudnya adalah tidak wajib mandi bagi orang yang menyetubuhi istrinya, kecuali keluar darinya air mani. Kemudian setelah itu, asy-Syari’ mewajibkan mandi bagi orang yang bersetubuh dengan istrinya, baik keluar air mani maupun tidak.

3. Mengetahui sejarah

Misalnya hadits dari Syaddad ibn Aus radhiyallahu ‘anhu, afthara al-haajim wa al-mahjuum, di-naskh oleh hadits dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam, sedangkan beliau sedang dalam keadaan ihram dan berpuasa. Hadits Syaddad diriwayatkan oleh Abu Dawud, sedangkan hadits Ibn ‘Abbas diriwayatkan oleh Muslim.

Berdasarkan penelusuran dari berbagai jalur, diketahui bahwa hadits Syaddad diucapkan di masa Fathu Makkah, sedangkan hadits Ibn ‘Abbas pada saat Haji Wada’.

4. Petunjuk ijma’

Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi berikut ini:

من شرب الخمر فاجلدوه فإن عاد في الرابعة فاقتلوه

Artinya: “Siapa yang meminum khamr, maka jilidlah ia. Dan jika ia mengulangi untuk yang keempat kalinya, maka bunuhlah.”

Terkait hadits ini, Imam an-Nawawi berkata, ‘Ijma’ menunjukkan bahwa hadits ini telah di-naskh’. Ijma’ sendiri bukanlah nasikh bagi hadits, namun hanya petunjuk yang menunjukkan terjadinya naskh pada hadits tersebut.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Referensi:
1. Taysiir Mushthalah al-Hadiits karya Syaikh Mahmud ath-Thahhan
2. Al-Wasiith fi ‘Uluum wa Mushthalah al-Hadiits karya Syaikh Muhammad Abu Syuhbah
3. Nuzhah an-Nazhar fii Taudhiih Nukhbah al-Fikar karya Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *