Musnad dan Muttashil

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Musnad

1. Definisi

Hadits yang bersambung sanadnya secara marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Contoh

Hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari, beliau berkata: haddatsanaa ‘Abdullah ibn Yusuf, ‘an Malik, ‘an Abi Az-Zinad, ‘an Al-A’raj, ‘an Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا شرب الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا

Artinya: “Jika seekor anjing meminum air di tempat air kalian, maka basuhlah ia tujuh kali.” (HR. Al-Bukhari [172])

Hadits ini bersambung sanadnya, dari awal hingga akhir, sekaligus marfu’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

B. Muttashil

1. Definisi

Hadits yang bersambung sanadnya, baik secara marfu’ maupun mauquf.

2. Contoh

(a) Contoh Muttashil Marfu’

Malik, ‘an Ibn Syihab, ‘an Salim ibn ‘Abdillah, ‘an abihi, ‘an Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: …

(b) Contoh Muttashil Mauquf

Malik, ‘an Nafi’, ‘an Ibn ‘Umar, bahwa ia berkata: …

3. Apakah Perkataan Seorang Tabi’in Bisa Disebut Muttashil?

Al-‘Iraqi berkata: “Adapun perkataan tabi’in –jika bersambung sanadnya kepada mereka– tidak disebut muttashil secara mutlak. Namun secara terbatas, boleh saja dikatakan muttashil, dan ini terdapat dalam perkataan mereka. Misalnya perkataan mereka: ‘Ini muttashil kepada Sa’id ibn Al-Musayyib, atau kepada Az-Zuhri, atau kepada Malik, dan semisalnya. Dikatakan bahwa hal ini aneh, karena ia (perkataan tabi’in) disebut maqaathii’ (jamak dari maqthu’), maka menyebutnya muttashil secara mutlak merupakan pemberian sifat kepada sesuatu yang bertentangan secara bahasa.”

Maksud perkataan Al-‘Iraqi di atas adalah muttashil secara bahasa berasal dari kata “ittashala” yang artinya bersambung, sedangkan maqthu’ secara bahasa berasal dari kata “qatha’a” yang artinya terputus. Jadi, menyebut hadits maqthu’ dengan sebutan muttashil secara mutlak sama saja menyebut “sesuatu yang terputus” dengan “sesuatu yang bersambung”, hal ini bertentangan dan tidak bisa diterima.

Adapun menyebutnya sebagai muttashil dalam keadaan tertentu dan dibatasi, maka itu boleh-boleh saja.

Tambahan Penjelasan

Walaupun suatu hadits disebut musnad dan muttashil, bukan berarti ia otomatis shahih. Hadits yang musnad dan muttashil baru memenuhi satu syarat hadits shahih, yaitu bersambungnya sanad. Untuk mengetahui ia hadits shahih atau tidak, harus diteliti 4 syarat hadits shahih lainnya.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan Utama:
Taysiir Mushthalah Al-Hadiits, karya Mahmud Ath-Thahhan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *