Muthlaq dan Muqayyad

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Definisi

Muthlaq adalah lafazh yang menunjukkan individu secara umum (general) tanpa dibatasi secara lafazh oleh batasan apapun. Misalnya lafazh: تلميذ (siswa), حيوان (hewan), dan طائر (burung). Lafazh-lafazh ini menunjukkan jenis individu tertentu secara umum (general).

Adapun muqayyad adalah lafazh yang menunjukkan individu yang dibatasi secara lafazh dengan batasan tertentu. Misalnya lafazh: حيوان ناطق (hewan yang berbicara), ini membatasi kemutlakan lafazh ‘hewan’; تلميذ مجتهد (siswa yang bersungguh-sungguh), ini membatasi kemutlakan lafazh ‘siswa’.

B. Perbedaan Penggunaan Lafazh Antara ‘Aamm (‘Umum) dan Muthlaq

Lafazh yang nakirah (indefinite noun), jika ia berada dalam kalimat yang berisi ungkapan penafian (peniadaan), maka ia menunjukkan ‘aamm. Sedangkan jika berada dalam kalimat yang berisi itsbat (penetapan/positif), biasanya menunjukkan muthlaq-nya lafazh tersebut.

C. Membawa Muthlaq Pada yang Muqayyad

Lafazh yang muthlaq kadang harus dibawa pada yang muqayyad, kadang tidak. Ada keadaan yang disepakati oleh para ulama, lafazh yang muthlaq harus dibawa pada yang muqayyad. Ada juga keadaan yang disepakati oleh para ulama, lafazh yang muthlaq tidak dibawa pada yang muqayyad. Ada juga keadaan yang diperselisihkan.

Ulama sepakat membawa lafazh yang muthlaq pada yang muqayyad jika keduanya memiliki kesamaan dalam pembahasan dan hukumnya sekaligus.

Contohnya adalah hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Seorang laki-laki menyetubuhi istrinya di bulan Ramadhan, kemudian ia meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Nabi bertanya: “Apakah engkau memiliki budak?”, Ia menjawab: “Tidak.” Nabi kembali bertanya: “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan? (هل تستطيع صيام شهرين)”, Ia menjawab: “Tidak.” Nabi kemudian bersabda: “Berilah makan enam puluh orang miskin.” (HR. Al-Bukhari)

Terdapat riwayat yang kedua oleh rawi yang sama, beliau berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata: “Aku telah binasa wahai Rasulullah.” Nabi bertanya: “Apa yang membinasakanmu?”. Ia berkata: “Aku telah menyetubuhi istriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya: “Apakah engkau menemukan sesuatu untuk membebaskan budak?”, Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya: “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? (فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين)”, Ia menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya: “Apakah engkau menemukan sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?”, Ia menjawab: “Tidak.”

Abu Hurairah berkata: Kemudian Nabi duduk, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi oleh seseorang sekeranjang kurma. Nabi kemudian berkata (pada orang yang bersetubuh dengan istrinya di bulan Ramadhan): “Bersedekahlah dengan ini (sekeranjang kurma).” Ia berkata: “Apakah untuk orang yang lebih fakir dari kami? Tidak ada di ujung dua kota Madinah keluarga yang lebih memerlukannya dibanding kami.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga tampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Pergilah, berilah keluargamu makanan ini.” (HR. Al-Bukhari)

Dua hadits di atas pembahasannya sama, yaitu jimak yang sengaja di siang hari bulan Ramadhan. Hukum yang diberlakukan pun sama, yaitu pembebasan budak, puasa enam puluh hari, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Hadits pertama menyebutkan puasa dua bulan secara muthlaq, sehingga bisa dipahami berturut-turut atau tidak berturut-turut.

Sedangkan hadits kedua membatasi puasa dua bulan dengan ‘berturut-turut’. Karena itu, lafazh yang muthlaq dibawa pada yang muqayyad, sehingga tidak cukup puasa dua bulan, kecuali dilakukan secara berturut-turut.

Mengamalkan yang muqayyad dalam hal ini berarti juga mengamalkan yang muthlaq, sedangkan jika mengamalkan yang muthlaq (tanpa memperhatikan batasannya) maka ia tidak mengamalkan yang muqayyad. Menggabungkan dua dalil selama memungkinkan dalam hal ini wajib hukumnya, dan itu direalisasikan dengan membawa yang muthlaq pada yang muqayyad.

Adapun keadaan yang disepakati oleh para ulama, bahwa lafazh yang muthlaq tidak dibawa pada yang muqayyad, adalah jika keduanya berbeda pembahasan sekaligus berbeda juga hukumnya.

Contohnya adalah firman Allah ta’ala tentang kaffarah sumpah:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ

Artinya: “Jika tidak menemukan, maka ia wajib berpuasa tiga hari.” (QS. Al-Baqarah [2]: 196)

Ayat ini menunjukkan wajibnya puasa secara muthlaq tanpa dibatasi dengan keharusan ‘berturut-turut’. Karena itu, ia boleh dikerjakan secara berturut-turut, boleh juga tidak.

Sedangkan firman Allah ta’ala dalam kaffarah pembunuhan karena kekeliruan:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيامُ شَهْرَيْنِ مُتَتابِعَيْنِ

Artinya: “Jika tidak menemukan, maka ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.” (QS. An-Nisaa [4]: 92)

Ayat ini membatasi puasa dengan ‘berturut-turut’.

Yang disebutkan dalam surah An-Nisaa ayat 92 ini tidak bisa membatasi muthlaq-nya perintah puasa dalam surah Al-Baqarah ayat 196, karena dua hal:

(1) Pembahasannya beda. Ayat yang pertama membahas kaffarah sumpah, sedangkan yang kedua membahas kaffarah pembunuhan karena kekeliruan.

(2) Hukum yang ditetapkan pun berbeda dalam dua nash yang terpisah.

Adapun keadaan yang diperselisihkan oleh para ulama, misalnya adalah jika pembahasannya beda, namun hukum yang ditetapkan sama, atau sebaliknya hukum yang ditetapkan sama, namun pembahasannya beda. Hal ini dibahas secara panjang lebar dalam kitab-kitab ushul fiqih. Yang ingin mendalami hal ini, silakan merujuk ke sana.

Rujukan:
Al-Manaar fii ‘Uluumil Qur’aan Ma’a Madkhal fii Ushuulit Tafsiir wa Mashaadirih, karya Dr. Muhammad ‘Ali Al-Hasan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *