Orang-Orang Yang Selamat (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah Al-‘Ashr, Ayat 1-3)

Dalam surah Al-‘Ashr ayat 1-3, Allah jalla wa ‘alaa berfirman:

والعصر . إن الإنسان لفي خسر . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.”

Menurut Ibn Katsir rahimahullah di kitab tafsir beliau, pada ayat di atas, Allah ta’ala bersumpah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerusakan dan kebinasaan. Menurut Al-Baidhawi rahimahullah di kitab tafsir beliau, alif lam ma’rifah pada kata al-insaan menunjukkan jenis (lil jins), artinya untuk seluruh manusia. Sedangkan nakirah pada kata khusrin adalah lit ta’zhiim, artinya menunjukkan begitu besarnya kerugian yang akan didapatkan.

Bisa kita simpulkan, mengikuti pendapat dua imam mufassir, pada ayat pertama dan kedua di atas, Allah ta’ala bersumpah bahwa seluruh manusia benar-benar akan mendapatkan kerugian yang teramat besar, kerusakan dan kebinasaan.

Ayat ketiga merupakan pengecualiannya. Allah subhanahu wa ta’ala mengecualikan orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran dari ancaman kebinasaan di ayat kedua.

Ibn Katsir menyatakan bahwa beriman kepada Allah ta’ala dan beramal shalih maksudnya adalah mengimani Allah ta’ala dalam hati, dan mengerjakan amal shalih dengan anggota badan mereka. Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsir beliau menyatakan bahwa maksud alladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaat adalah membenarkan dan mentauhidkan Allah ta’ala, mengakui keesaan dan kewajiban taat kepada-Nya, beramal shalih, menunaikan segala yang diwajibkan oleh Allah ta’ala atas mereka, dan menjauhi seluruh yang dilarang-Nya.

Ath-Thabari menafsirkan frase tawaashau bil haqq dengan saling berwasiat untuk selalu beramal berdasarkan perintah yang telah diturunkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, dan menjauhi apapun yang dilarang-Nya dalam Kitab-Nya. Beliau juga mengutip pernyataan dua imam tabi’in, Qatadah dan Hasan Al-Bashri –rahmatullahi ‘alaihima–, bahwa yang dimaksud dengan al-haqq dalam ayat ini adalah Kitabullah.

Untuk frase tawaashau bish shabr, Ath-Thabari menafsirkannya dengan saling berwasiat untuk bersabar dalam beramal ketaatan kepada Allah. Untuk frase ini, beliau juga mengutip pernyataan Qatadah dan Hasan Al-Bashri, bahwa yang dimaksud dengan ash-shabr dalam ayat ini adalah ketaatan kepada Allah.

Dari penjelasan para mufassir terhadap surah Al-‘Ashr di atas, bisa kita simpulkan bahwa untuk menyelamatkan diri kita dari kerusakan dan kebinasaan, dari kerugian yang teramat besar, di dunia dan akhirat, maka kita wajib mentauhidkan Allah ta’ala, menunaikan segala yang diwajibkan oleh-Nya dan menjauhi seluruh yang dilarang-Nya, serta saling berwasiat untuk selalu mengikuti Kitab Allah dan bersabar dalam ketaatan kepada-Nya.

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang selamat dari kerusakan dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *