Pendidikan dalam Politik Asosiasi Era Kolonialisme Belanda

Pendidikan merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk membentuk “manusia”. Pendidikan dapat mencetak suatu generasi yang memiliki warna tertentu. Mengapa? Karena “pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia” begitu kata Al Attas.

Demikian halnya pendidikan yang diberikan oleh kaum penjajah. Dahulu, kolonialis Belanda yang mencoba meredam perlawanan rakyat Hindia Belanda menerapkan sebuah politik asosiasi. Dalam politik asosiasi tersebut, pendidikan menjadi ujung tombak untuk membentuk rakyat pribumi yang bersahabat dengan pemerintah kolonial.

Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda (1986:15), menjelaskan politik asosiasi berasal dari saran orientalis Snouck Hurgronje. Melalui politik asosiasi ini Snouck mendambakan sebuah ikatan antara Pemerintahan kolonial dengan Hindia yang bukan hanya atas dasar penaklukan. Melainkan secara suka rela terikat dalam sebuah Pax Neanderlica.

Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa menulis bahwa politik asosiasi beranjak dari kewaspadaan dan ketakutan pemerintah kolonial terhadap agama Islam (2005:82). Snouck melihat kepemimpinan di Hindia ke depan tidak bisa dipercayakan kepada kaum Muslim yang taat dan para tetua adat. Alasannya kaum muslim tidak bisa mengembangkan ikatan yang lestari antara Hindia dengan Belanda. Sementara itu para tetua adat –yg kerap bersinggungan dengan kaum Muslim—dinilai terlalu konservatif.

Oleh karena itu Snouck melalui politik asosiasi ini hendak menciptakan golongan baru dari rakyat Hindia yang berorientasi modern-Barat. Snouck menilai bahwa fondasi kerajaan Belanda dapat diperkukuh lewat asosiasi orang Hindia (Indonesia) dengan kebudayaan Belanda. Dalam politik asosiasi ini pemerintah kolonial memanfaatkan adat dan pendidikan (Suminto, 1986:39).

Asosiasi Melalui Pendidikan

Ricklefs dalam Latif (2005:102) menyatakan bahwa Snouck Hurgronje dan direktur pendidikan politik Etis yang pertama (1900-1905), yaitu J.H.Abendanon, berambisi untuk mentransformasikan priyayi tradisional menjadi sebuah elit baru yang terdidik secara Barat. Dalam pandangan keduanya, memberikan pendidikan Barat kepada kelas penguasa pribumi merupakan sesuatu yang sangat penting untuk melatih elit pribumi yang setia dan kooperatif, yang para anggotanya memiliki kesanggupan untuk menangani pekerjaan pemerintahan sipil Belanda. Lebih dari itu, pilihan ini juga bisa memangkas biaya-biaya administratif, menghambat ‘fanatisme’ Islam, dan pada akhirnya menciptakan contoh yang bisa memberi inspirasi bagi kalangan-kalangan terbawah dari masyarakat Hindia.

Pemeloporan melahirkan pribumi yang berkiblat ke Barat dilakukan oleh Snouck pada anak-anak bangsawan. Snouck mendapatkan murid pertamanya pada 1890, yaitu seorang anak Bupati Serang, Pangeran Aria Djajadiningrat. Snouck bersusah payah memasukkannya ke sekolah Belanda (ELS dan HBS). Guna meloloskan rencananya, Pangeran Aria dirubah namanya menjadi Willem Van Banten. Pada perkembangan selanjutnya, Pangeran Aria ini berhasil meraih gelar doktor di Belanda dengan nilai cumlaude (Suminto, 1986:41).

Keberhasilan proyek pertama itu kembali dilanjutkan oleh Snouck dengan mengangkat lagi delapan orang murid dari pribumi. Delapan orang muridnya itu diserahkan pada penggantinya Dr. G.A.J Hazeu. Delapan orang tersebut adalah: Tuanku Ibrahim, Teungku Pakeuh, Teuku ‘Usoih (Keumangan), Teuku Tajeb (Peurela), dan Teuku Mahmud (Pidie), di Bandung Raja Mahmud Indragiri, di Bogor Raden Muharam dan Syarif Kasim (Siak), di Jakarta (Suminto, 1986:42).

Efek Politik Asosiasi

Dalam program ini Snouck mengharapkan kalangan bangsawan dapat menjadi partner dalam kehidupan sosial budaya pemerintah kolonial, di samping menjadi pewaris pola asosiasinya. Harapan Snouck tercapai karena tidak sedikit dari kalangan pribumi dari stratum bangsawan yang menjadi kaki tangan pemerintah kolonial (Suminto, 1986:42).

Sebagaimana disebutkan di atas, kita dapat dengan jelas melihat tujuan pendidikan dalam politik asosiasi yang diberikan pemerintah kolonial. Hal itu setidaknya mencakup dua hal: pertama, membentuk masyarakat pribumi yang berjiwa Barat (sekuler) ; kedua, membendung atau menyaingi pengaruh agama Islam yang ketika itu merupakan ruh perlawanan bagi penjajah.

Hal ini dapat dilihat dari pelajar pribumi yang masuk ke sekolah Barat berasal dari keluarga priyai Muslim yang taat. “Sejumlah pelopor dari gerakan proto-nasionalisme, seperti Tjipto
Mangunkusumo (1885-1943), Sutomo (1888-1938), Tirto Adhi Surjo (1880-1918), dan produk-produk awal dari kebijakan ‘asosiasi’ seperti Djajadiningrat bersaudara (Ahmad, Hasan dan Husein), serta figur-figur berpengaruh dari Sarekat Islam (SI), seperti Umar Said Tjokroaminoto (1882-1934), merupakan anak-anak dari priyayi Muslim yang taat” tulis Latif ( 2005:108).

Pendidikan modern-Barat yang sekuler dalam pendidikan asosiasi memang dapat menjauhkan seorang muslim dari dunia pemikiran agama. Efek pendidikan sekuler Barat yang intens juga bisa dikatakan membuat komitmen seorang muslim menjadi pudar. Hal ini pernah terjadi pada seorang Agus Salim. Ia mengakui meski mendapat pendidikan agama sejak kanak-kanak, namun sekolah di lembaga pendidikan Belanda menjauhkannya dari Islam. Meski kemudian pertemuannya dengan Akhmad Khatib, ulama Hindia Belanda di Haramain, dan Tjokroaminoto mengembalikan komitmen keislamannya (Latif, 2005:111).

Pendangan berbeda bisa kita lihat dari intelektual lain yang mendapat pendidikan sekuler Barat. Salah satu yang populer adalah Soekarno. Mengenyam pendidikan modern-Barat, Soekarno muda aktif dalam membentuk organisasi berhaluan nasionalis-sekuler. Termasuk saat Soekarno berusaha menawarkan dasar negara kepada para tokoh BPUPKI. Juga ketika dia berusaha meyakinkan tokoh-tokoh kemerdekaan dari umat Islam agar menerima penghapusan tujuh kata dalam sila pertama. Selanjutnya? Soekarno juga membubarkan Masyumi, membui M. Natsir, Syahrir, Roem, dll. Tentu tidak seorang Soekarno saja.

Penutup

Demikianlah, pendidikan dapat mencetak generasi yang memiliki warna tertentu. Pada era kolonial Belanda, pendidikan diberikan mengikuti pandangan hidup Barat yang sekuler. Tujuannya guna mempertahankan status qou-nya atas rakyat Nusantara ketika itu. Pendidikan sekuler sekaligus berusaha mengikis komitmen keislaman seorang muslim.

Oleh karenanya penting bagi kita sebagai umat Islam sekarang untuk tidak mengabaikan pendidikan Islam. Hari ini kita telah menyaksikan bagaimana generasi umat Islam mengikuti pola pikir dan pola sikap di luar Islam. Pergaulan bebas, penyimpangan seksual, tawuran, perilaku tidak jujur, dsb. Tentu kita harus mempersiapkan generasi umat Islam untuk menjadi sebagaimana tugasnya di bumi ini, sebagai khalifah fil ardh. Wallahu’alam.[]

Fadlan Hidayat

Pengajar Program Tafaqquh fid Diin (TFD) Banjarmasin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *