Pengumpulan Al-Qur’an Di Masa Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjadi pemimpin kaum muslimin pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di masa beliau terjadi gerakan murtad besar-besaran di berbagai kawasan Arab, hingga beliau memutuskan untuk memerangi kelompok-kelompok murtad tersebut.

Pada tahun 12 hijriyyah, terjadilah perang Yamamah melawan kelompok murtadin yang melibatkan banyak sekali shahabat penghafal Al-Qur’an. Qaddarallah, di perang ini syahid tujuh puluh shahabat penghafal Al-Qur’an.

Hal ini membuat ‘Umar ibn Al-Khaththab khawatir. Ia kemudian menemui Abu Bakr dan mengusulkan agar Al-Qur’an Al-Karim dikumpulkan di satu mushaf, agar ia tidak hilang bersama dengan wafatnya para shahabat penghafal Al-Qur’an. Awalnya Abu Bakr tidak menerima usulan ini, karena ia tidak mau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah ‘Umar menjelaskan pentingnya hal ini, Allah kemudian membuka hati Abu Bakr untuk menerima usulan ‘Umar ini.

Setelah itu dilakukanlah pengumpulan Al-Qur’an, yang kemudian dikenal sebagai pengumpulan kedua. Disebut kedua, karena pengumpulan Al-Qur’an yang pertama telah selesai dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seluruh ayat Al-Qur’an telah dihafal dan ditulis oleh para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in. Namun tulisan Al-Qur’an tersebut terpisah-pisah, ada yang ditulis di pelepah kurma, daun kering, lempengan batu, tulang-tulang hewan, dan lainnya. Kemudian berdasarkan instruksi Abu Bakr, dikumpulkanlah Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Inilah keistimewaan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah ta’ala menyatakan bahwa Dia akan menjaga dan memelihara Al-Qur’an, umat ini memahami bahwa mereka harus mengambil peran dalam penjagaan Al-Qur’an ini, tidak diam saja sambil beralasan menerima takdir. Ini juga bukti ma’shum-nya umat ini, umat ini tidak akan sepakat dalam kesesatan. Akan selalu ada bagian umat Islam yang menegakkan diin ini hingga tibanya as-saa’ah. Dan pengumpulan Al-Qur’an di masa Abu Bakr ini merupakan bagian dari upaya umat Islam menegakkan diin ini. Walhamdulillah.

Teknis Pengumpulan Al-Qur’an

Dalam riwayat yang shahih, setelah menerima usulan ‘Umar, Abu Bakr kemudian mengamanahkan Zaid ibn Tsabit, seorang pemuda cerdas penghafal Al-Qur’an yang juga menjadi salah satu penulis wahyu di masa Rasulullah, untuk melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qur’an.

Awalnya, sebagaimana juga berlaku pada Abu Bakr, Zaid enggan melakukan aktivitas yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, namun kemudian Allah membuka hatinya hingga ia menerima tugas ini.

Zaid ibn Tsabit melaksanakan tugas pengumpulan Al-Qur’an dengan mengacu pada dua sumber, yaitu hafalan dan tulisan. Ia tidak menerima tulisan Al-Qur’an kecuali ada dua orang saksi yang menyatakan bahwa tulisan tersebut ditulis di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abi Dawud (seorang tokoh besar penghafal hadits, putra Abu Dawud As-Sijistani) meriwayatkan melalui jalur Yahya ibn ‘Abdurrahman ibn Hathib, yang mengatakan, “’Umar datang dan berkata: Barangsiapa menerima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu dari Al-Qur’an, hendaklah ia menyampaikannya. Mereka (para shahabat Nabi) menuliskan Al-Qur’an pada lembaran kertas, papan kayu, dan pelepah kurma. Dan Zaid tidak mau menerima dari seseorang mengenai Al-Qur’an, sebelum disaksikan oleh dua orang saksi.”

Diriwayatkan pula dari Ibn Abi Dawud melalui Hisyam ibn ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakr berkata kepada ‘Umar dan Zaid, “Duduklah kalian berdua di pintu masjid. Bila ada yang datang kepada kalian membawa dua orang saksi atas sesuatu dari Kitab Allah, maka tulislah.” Para perawi riwayat ini orang-orang yang terpercaya, walaupun sanadnya munqathi’ (terputus).

Zaid tidak menuliskan ayat Al-Qur’an, sampai terkumpul padanya hafalan di dada dan tulisan yang disaksikan oleh dua orang saksi bahwa ia benar-benar ditulis di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap Zaid ini sebagai bentuk kehati-hatian terhadap Al-Qur’an. Zaid hafal seluruh isi Al-Qur’an, dan seandainya mau, ia bisa menuliskan seluruh isi Al-Qur’an dari hafalannya tanpa melibatkan shahabat lain. Namun ia tidak melakukan hal ini, karena ia sangat paham tingginya kedudukan Al-Qur’an, hingga untuk pengumpulannya pun harus ekstra hati-hati.

Akhir Surah At-Taubah

Zaid ibn Tsabit berkata, “Dan aku dapatkan akhir surah At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari, yang tidak aku dapatkan pada orang lain.” (HR. Al-Bukhari)

Sebagian orang yang membenci Islam menggunakan pernyataan Zaid di atas untuk membuat keragu-raguan bahwa Al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Zaid sebagiannya tidak memenuhi syarat mutawatir, hingga Al-Qur’an tidak benar-benar terjaga dari kekeliruan dan pemalsuan. Namun hal ini telah dibantah oleh para ulama dari zaman ke zaman. Mereka menyatakan bahwa yang tidak ditemukan kecuali pada Abu Khuzaimah Al-Anshari itu adalah lembaran tulisan yang berisi ayat-ayat tersebut, sedangkan secara hafalan banyak shahabat yang menghafalnya, termasuk Zaid ibn Tsabit sendiri.

Artinya, Al-Qur’an secara hafalan tetaplah mutawatir, walaupun beberapa ayat di antaranya hanya ditulis oleh satu orang saja dalam lembaran. Ini tidak menghilangkan kemutawatiran Al-Qur’an, karena sifat mutawatirnya telah ditetapkan melalui hafalan banyak shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in. Adapun syarat tulisan yang harus disaksikan oleh dua orang saksi, maka hafalan banyak shahabat terhadap ayat-ayat tersebut telah mampu menggantikan posisi dua orang saksi. Wallahu a’lam.

Penutup

Mushaf yang telah berhasil dikumpulkan oleh Zaid ibn Tsabit atas instruksi Abu Bakr dan usulan ‘Umar ibn Al-Khaththab ini kemudian disimpan oleh Abu Bakr hingga wafatnya. Kemudian ia berpindah ke tangan ‘Umar ibn Al-Khaththab hingga wafatnya. Setelah itu ia berpindah ke tangan Hafshah, ummul mu’minin, putri ‘Umar. Kemudian mushaf tersebut diminta oleh ‘Utsman saat pengumpulan Al-Qur’an di masanya.

Para ulama berpendapat, penamaan Al-Qur’an dengan mushaf baru muncul di masa Abu Bakr, setelah dilakukan pengumpulan Al-Qur’an. Tentang pengumpulan Al-Qur’an ini, ‘Ali ibn Abi Thalib berkata, “Orang yang paling besar pahalanya dalam mushaf adalah Abu Bakr. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Abu Bakr, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur’an.”

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang seluas-luasnya kepada Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zaid ibn Tsabit dan seluruh shahabat radhiyallahu ‘anhum yang telah terlibat dalam pengumpulan Al-Qur’an, hingga kita bisa membaca kalamullah tersebut hari ini. Walillaahil hamd.

Marja’:
1. Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Manna’ Al-Qaththan
2. Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Shubhi Shalih
(Dengan beberapa pengembangan dari penulis)

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *