Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Pengumpulan Al-Qur’an (جمع القرآن) memiliki dua makna, yaitu pengumpulan dalam arti menghafalnya dan yang kedua dalam arti menuliskannya secara keseluruhan pada media tulis yang ada.

Pengumpulan dalam arti menghafal ini ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala:

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ, إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ, فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ, ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami-lah yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu. Kemudian, sesungguhnya Kami-lah yang memberikan penjelasannya.” (QS. Al-Qiyaamah [75]: 16-19)

Rasulullah ingin segera menghafal Al-Qur’an yang didengarkannya dari Jibril, hingga beliau mengikuti bacaan Jibril dengan menggerak-gerakkan lidah beliau, sebelum Jibril selesai membacakan Al-Qur’an. Kemudian turunlah ayat di atas. Setelah itu Rasulullah diam dan mendengarkan bacaan Jibril sampai selesai, dan setelah Jibril pergi, barulah beliau membacanya kembali. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengumpulan Al-Qur’an dalam arti menghafalnya dan menuliskannya di media tulis telah dilakukan oleh para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in, hingga tak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang tidak terkumpul, baik dalam hafalan para shahabat, maupun berupa tulisan yang mereka buat di media tulis yang ada saat itu.

Pengumpulan Al-Qur’an Dalam Arti Menghafalnya di Masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menunggu kedatangan wahyu dengan penuh rindu, menghafal dan memahaminya dengan baik. Oleh karena itu, beliau lah penghafal Al-Qur’an yang pertama dan merupakan teladan yang baik bagi para shahabat dalam menghafalnya.

Bangsa Arab yang saat itu memang memiliki daya hafal yang sangat kuat, memudahkan mereka dalam proses menghafal Al-Qur’an, terlebih lagi Al-Qur’an turun secara bertahap ayat demi ayat, kadang terkait peristiwa tertentu yang terjadi di tengah-tengah mereka.

Para shahabat berlomba-lomba menghafalkan Al-Qur’an. Mereka pun memerintahkan anak-anak dan istri-istri mereka untuk menghafalnya. Mereka membacanya dalam shalat-shalat mereka di waktu malam, sehinggal alunan suara mereka terdengar bagai suara lebah.

Ada beberapa nama shahabat yang menonjol dalam hafalan Al-Qur’an, dan ini terekam dalam tiga hadits riwayat Al-Bukhari berikut ini:

Hadits pertama:

عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال: سمعتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: خذوا القرآن من أربعة: من عبد الله بن مسعود، وسالم، ومعاذ، وأُبَيِّ بن كعب.

Artinya: “Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Ambillah Al-Qur’an dari empat orang, yaitu ‘Abdullah ibn Mas’ud, Salim, Mu’adz, dan Ubay ibn Ka’b’.”

Hadits kedua:

عن قتادة قال: سألت أنس بن مالك: مَن جمع القرآن على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال: أربعة، كلهم من الأنصار: أُبَي بن كعب، ومعاذ بن جبل، وزيد بن ثابت، وأبو زيد، قلت: مَن أبو زيد؟ قال: أحد عمومتي.

Artinya: “Dari Qatadah: Aku bertanya kepada Anas ibn Malik, ‘Siapakah orang yang hafal Al-Qur’an di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’, kemudian ia menjawab, ‘Empat orang, semuanya dari Anshar, yaitu Ubay ibn Ka’b, Mu’adz ibn Jabal, Zaid ibn Tsabit, dan Abu Zaid’, aku bertanya lagi, ‘Siapa Abu Zaid?’, ia menjawab, ‘Salah seorang pamanku’.”

Hadits ketiga:

رُوِي من طريق ثابت عن أنس كذلك قال: مات النبي صلى الله عليه وسلم ولم يجمع القرآن غير أربعة: أبو الدرداء، ومعاذ بن جبل، وزيد بن ثابت، وأبو زيد.

Artinya: “Diriwayatkan melalui jalur Tsabit dari Anas yang berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, dan tidak ada yang hafal Al-Qur’an kecuali empat orang, yaitu Abu Darda, Mu’adz ibn Jabal, Zaid ibn Tsabit, dan Abu Zaid.”

Dalam riwayat yang dinukil oleh Ibnu Hajar dengan isnad yang sesuai syarat Al-Bukhari, dari Anas ibn Malik, dikatakan Abu Zaid yang hafal Al-Qur’an itu bernama Qais ibn Sakan.

Penyebutan nama-nama di atas bukan berarti yang hafal Al-Qur’an dari kalangan shahabat cuma mereka. Sangat banyak shahabat yang hafal Al-Qur’an. Sebagai salah satu bukti, dalam riwayat yang shahih disebutkan ada 70 orang shahabat penghafal Al-Qur’an yang terbunuh di sumur Ma’unah.

Penyebutan nama-nama di atas dipahami oleh para ulama, bahwa mereka adalah orang-orang yang hafal seluruh isi Al-Qur’an, telah menunjukkan hafalannya di hadapan Nabi, dan sanad-sanadnya sampai kepada kita. Sedangkan yang lain, tidak memenuhi syarat tersebut. Ada yang sanadnya tidak sampai kepada kita, ada yang tidak sempat menunjukkan hafalannya di hadapan Nabi, dan ada juga yang memang hanya hafal sebagian Al-Qur’an.

Tentang riwayat Anas ini, Al-Mawardi berkata: “Ucapan Anas yang menyatakan tidak ada yang hafal Al-Qur’an selain empat orang, itu tidak dapat dipahami bahwa faktanya memang seperti itu. Mungkin saja Anas tidak mengetahui ada orang lain yang menghafalnya. Bila tidak, bagaimana ia mengetahui secara persis orang-orang yang hafal Al-Qur’an, sedangkan para shahabat jumlahnya sangat banyak dan mereka tersebar di berbagai negeri. Pengetahuan ini hanya bisa diterima jika ia menemui mereka satu persatu, dan masing-masing menyampaikan kepadanya bahwa ia belum hafal Al-Qur’an secara sempurna di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang demikian ini secara kebiasaan sangat sulit terjadi. Dan jika yang menjadi rujukan Anas adalah pengetahuannya sendiri, maka itu tidak berarti faktanya memang demikian. Di sisi lain, syarat kemutawatiran (Al-Qur’an) tidaklah mengharuskan setiap orang hafal secara keseluruhannya. Jika secara kolektif para shahabat telah menghafal semuanya, walaupun hafalan tersebut dibagi-bagi antar mereka, itu sudah cukup.”

Pernyataan Al-Mawardi ini ingin menegaskan bahwa pernyataan Anas tentang jumlah orang-orang yang hafal Al-Qur’an di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah batasan pasti. Itu hanyalah pernyataan sejauh pengetahuan Anas ibn Malik saja. Di ujung kutipan, Al-Mawardi membahas tentang kemutawatiran Al-Qur’an, dan ini merupakan jawaban beliau atas orang-orang yang ingin menafikan kemutawatiran Al-Qur’an dengan bersandar pada riwayat Anas.

Pengumpulan Al-Qur’an Dalam Arti Penulisannya di Masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat beberapa orang shahabat, seperti ‘Ali ibn Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubay ibn Ka’b, dan Zaid ibn Tsabit sebagai penulis wahyu. Setiap ada wahyu yang turun, beliau memerintahkan mereka menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembaran itu membantu menguatkan hafalan yang ada di dada.

Di samping itu, sebagian shahabat yang lain pun menuliskan Al-Qur’an atas inisiatif sendiri, tanpa perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelanan, dan potongan tulang-belulang hewan. Zaid ibn Tsabit, dalam riwayat Al-Hakim, berkata: “Kami menyusun Al-Qur’an di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kulit binatang.”

Tulisan-tulisan Al-Qur’an di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terkumpul dalam satu mushhaf, sehingga tulisan Al-Qur’an yang ada pada seseorang bisa jadi tidak ada pada yang lain, demikian sebaliknya. Dalam tulisan-tulisan yang ada tersebut, ayat-ayat dan surah-surahnya sudah dipisah-pisahkan dan ditertibkan sesuai perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia belum disatukan dalam satu mushhaf dari awal Al-Qur’an hingga bagian akhirnya.

Salah satu hikmah belum dikumpulkannya tulisan Al-Qur’an dalam satu mushhaf di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena wahyu terus turun di masa tersebut, sedang urutan penulisan Al-Qur’an tidak berdasar urutan turunnya wahyu, namun berdasarkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya Al-Qur’an sudah ditulis dalam satu mushhaf di masa tersebut, tentu akan sangat sering direvisi dengan turunnya wahyu yang baru.

Az-Zarkasyi berkata: “Tidak dituliskannya Al-Qur’an dalam satu mushhaf di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agar ia tidak berubah setiap waktu. Oleh karena itu, penulisannya dilakukan setelah Al-Qur’an telah turun secara sempurna dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sebagai akhir dari tulisan ini, bisa kita simpulkan bahwa Al-Qur’an telah terkumpul secara sempurna di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa hafalan di dada, maupun tulisan di lembaran. Yang belum dilakukan di masa Nabi hanyalah pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushhaf dan standarisasi tulisan. Itu yang kemudian disempurnakan di masa al-khulafa ar-rasyidun.

Wallahu a’lam wa ahkam.

Marja’:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *