Pengumpulan Al-Qur’an di Masa ‘Utsman Ibn ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Pengantar

Di masa ‘Utsman ibn ‘Affan, futuhat Islam semakin meluas. Berbarengan dengan itu, para penghafal Al-Qur’an pun menyebar ke berbagai negeri yang baru dibebaskan tersebut, dan masing-masing penduduk negeri belajar dan mengambil Al-Qur’an dari mereka.

Bacaan Al-Qur’an masing-masing penghafal Al-Qur’an tersebut berbeda, sesuai dengan yang mereka terima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf, sebagai rukhshah bagi umat Islam generasi awal yang dialek bahasanya berbeda-beda, sesuai suku dan daerahnya. Masing-masing menerima bacaan dari Rasulullah, yang satu orang berbeda dengan yang lain.

Awalnya ini tidak menjadi masalah, karena masing-masing paham bahwa bacaan Al-Qur’an mereka benar-benar diambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak umat Islam, dan mereka belum pernah bertemu dan mendengar Al-Qur’an dari Rasulullah. Mereka mengambil Al-Qur’an dari para shahabat penghafal Al-Qur’an, dan mengikuti bacaan mereka. Dan ini kemudian menimbulkan masalah di tubuh umat Islam.

Standarisasi Penulisan Al-Qur’an

Hudzaifah ibn Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, saat mengikuti peperangan menghadapi penduduk Syam di Armenia dan Azerbaijan bersama dengan penduduk Iraq, menemukan masalah yang pelik. Ia melihat bacaan Al-Qur’an mereka berbeda-beda, dan itu menjadi sumber konflik dan pertentangan di antara mereka, bahkan sampai pada taraf saling mengkafirkan.

Hudzaifah –sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas ibn Malik– yang melihat hal ini segera menemui ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dan menyampaikan apa yang ditemuinya, dan meminta ‘Utsman segera menyelesaikan persoalan ini, agar konflik tak bertambah besar dan melemahkan umat Islam. Ia berkata kepada ‘Utsman, “Selamatkanlah umat ini, sebelum terjadi perselisihan di antara mereka sebagaimana yang terjadi pada Yahudi dan Nashrani.”

‘Utsman kemudian mengirim surat kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha, yang isinya, “Sudilah kiranya Anda mengirimkan kepada kami lembaran-lembaran Al-Qur’an, untuk kami salin menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.” Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran yang dimaksud. Kemudian ‘Utsman memerintahkan kepada Zaid ibn Tsabit dan tiga orang Quraisy, ‘Abdullah ibn Az-Zubair, Sa’id ibn Al-‘Ash, dan ‘Abdurrahman ibn Al-Harits ibn Hisyam –radhiyallahu ‘anhum– untuk menyalinnya. Beliau kemudian berkata, “Jika kalian berselisih pendapat dengan Zaid ibn Tsabit tentang sesuatu dari Al-Qur’an, maka tulislah dengan dialek Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan dialek mereka.”

Mereka melaksanakan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, ‘Utsman mengembalikan lembaran-lembaran Al-Qur’an yang dijadikan rujukan kepada Hafshah. Selanjutnya ‘Utsman mengirimkan mushaf-mushaf yang telah disalin itu ke berbagai wilayah, dan menyimpan satu salinannya di Madinah. Mushaf yang ada di Madinah ini dikenal dengan sebutan Mushaf Imam.

Ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang disalin dan dikirim ke berbagai negeri. Ada yang menyatakan jumlahnya tujuh buah, yang dikirim ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, dan Kufah, serta satu disimpan di Madinah. Ada juga yang menyatakan jumlahnya empat buah, dikirim ke Bashrah, Kufah, Syam dan satunya di Madinah. Ada juga yang menyatakan empat mushaf tersebut, tiga buah dikirim masing-masing ke Iraq, Syam, dan Mesir, dan satunya di Madinah. Ada lagi yang berpendapat jumlahnya lima buah, dan menurut As-Suyuthi, pendapat ini yang masyhur.

Setelah itu, ‘Utsman memerintahkan seluruh tulisan dan mushaf Al-Qur’an, selain mushaf standar yang telah dikirim, dibakar dan dimusnahkan. Adapun mushaf yang ditangan Hafshah, ia tetap berada di tangannya, hingga istri Rasulullah ini wafat. Setelahnya, mushaf tersebut pun juga dimusnahkan.

Perintah ‘Utsman ini jelas tujuannya adalah untuk menyatukan umat Islam pada mushaf yang standar, agar tidak terjadi konflik berkepanjangan di tubuh umat Islam. Apa yang dilakukan ‘Utsman ini jelas adalah hal yang baik.

‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu –berdasarkan riwayat Ibn Abi Dawud dengan sanad yang shahih– berkata: “Janganlah kalian mengatakan tentang ‘Utsman kecuali yang baik. Sungguh demi Allah, apa yang dilakukannya terhadap mushaf Al-Qur’an telah melalui persetujuan kami. Ia berkata, ‘Apa pendapat kalian tentang bacaan ini? Saya mendapat informasi bahwa sebagian orang mengatakan, bacaanku lebih baik dari bacaanmu, dan ini telah mendekati kekafiran’. Kami berkata, ‘Lalu apa pendapat Anda?’. Ia berkata, ‘Menurutku orang-orang harus bersatu dalam satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan’. Kami berkata, ‘Pendapat Anda sangat baik’.”

Keterangan ‘Ali ini menunjukkan bahwa kebijakan ‘Utsman menstandarisasi mushaf Al-Qur’an sudah disepakati oleh para shahabat, muhajirin dan anshar. Dan ini pun tidak menyalahi Rasulullah yang membacakan Al-Qur’an dalam tujuh huruf. Membaca Al-Qur’an dengan tujuh huruf ini bukanlah kewajiban, melainkan rukhshah bagi umat Islam generasi awal. Dan saat kesulitan itu tidak ada lagi, maka rukhshah itu tak harus diambil. Terlebih lagi, jika perbedaan bacaan Al-Qur’an ini terus dibiarkan, umat Islam akan mengalami perpecahan.

Tujuh huruf yang dibahas di sini bukanlah tujuh qiraat mutawatir, yang sering disebut qiraah sab’ah, yang kita kenal sekarang. Semua qiraat mutawatir yang kita kenal sekarang tetap merujuk pada mushaf yang ditulis di masa ‘Utsman. Sedangkan tujuh huruf yang dimaksud di sini adalah tujuh dialek bacaan Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabat. Kembali lagi, ia merupakan rukhshah bagi umat Islam generasi awal. Wallahu a’lam.

Perbedaan Pengumpulan Al-Qur’an di Masa Abu Bakr dan ‘Utsman

Dari sisi motivasi yang mendorong pengumpulan Al-Qur’an, Abu Bakr mengumpulkan Al-Qur’an karena khawatir hilangnya Al-Qur’an disebabkan banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang. Sedangkan ‘Utsman, ia mengumpulkan Al-Qur’an untuk menghindari perpecahan dan permusuhan di tubuh umat Islam akibat perbedaan bacaan Al-Qur’an yang ada pada mereka.

Dari sisi bentuk pengumpulannya, Abu Bakr mengumpulkan tulisan Al-Qur’an yang tersebar di kulit-kulit binatang, pelepah kurma, tulang-belulang, dan lempengan batu, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang sudah tersusun sesuai arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ‘Utsman menyalin mushaf Al-Qur’an dalam satu huruf dari tujuh huruf Al-Qur’an, untuk menyatukan bacaan umat Islam.

Abu Bakr dan ‘Utsman punya jasa masing-masing terhadap terjaganya Al-Qur’an, dan ini merupakan salah satu prestasi dan keutamaan mereka. Semoga Allah meridhai mereka berdua dan seluruh shahabat Nabi lainnya.

Rujukan:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *