Perbedaan al-Hadits al-Qudsi dengan al-Qur’an al-Karim Menurut Kitab ‘Ash-Shahih al-Musnad Min al-Ahadits al-Qudsiyah’

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Salah satu kitab yang memuat kumpulan hadits qudsi secara khusus adalah kitab الصحيح المسند من الأحاديث القدسية karya Syaikh Mushthofa ibn al-‘Adawi al-Mishri. Kitab ini –oleh penulis– dikhususkan untuk memuat hadits-hadits qudsi yang shahih saja.

Berikut beberapa perbedaan al-Hadits al-Qudsi dengan al-Qur’an al-Karim yang dimuat dalam kitab tersebut:

1. al-Qur’an al-Karim diturunkan dengan perantaraan Jibril ‘alaihis salam, sedangkan al-Hadits al-Qudsi terkadang melalui perantaraan Jibril, terkadang melalui ilham, dan terkadang dengan cara yang lain (أن القرآن الكريم نزل به جبريل عليه السلام، بينما الحديث القدسي قد تكون الواسطة جبريل أو يكون بالإلهام أو غير ذلك).

2. al-Qur’an al-Karim seluruhnya mutawatir, sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak (القرآن الكريم كله متواتر، والحديث القدسي ليس كذلك).

3. al-Qur’an al-Karim tidak mungkin terdapat kesalahan di dalamnya, sedangkan al-Hadits al-Qudsi bisa saja terdapat keraguan di salah satu rawinya sehingga terjadi kesalahan dalam periwayatannya (القرآن الكريم لا يتطرق إليه الخطأ، أما الحديث القدسي فقد يرد الوهم إلى أحد رواته فيرويه على الخطأ).

4. al-Qur’an al-Karim dibaca ketika shalat, sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak boleh (القرآن الكريم يتلى في الصلاة، ولا يجوز ذلك في الحديث القدسي).

5. al-Qur’an terbagi dalam beberapa surah, ayat, hizb, dan juz, sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak seperti itu (القرآن مقسم إلى سور وآيات وأحزاب وأجزاء وليس كذلك في الحديث القدسي).

6. Membaca al-Qur’an berpahala, sedangkan al-Hadits al-Qudsi tidak memiliki keutamaan seperti itu (ثواب قراءة القرآن وتلاوته ثابت، والحديث القدسي ليس له نفس الفضل).

7. al-Qur’an tetap menjadi mukjizat sepanjang masa (القرآن معجزة باقية على مر الدهور والعصور).

8. Orang yang mengingkari al-Qur’an dihukumi kafir, sedangkan yang mengingkari al-Hadits al-Qudsi tidak dihukumi seperti itu karena bisa jadi ia menduga hadits itu dha’if misalnya (جاحد القرآن يكفر بخلاف من جحد حديثًا قدسيًا لظنه أنه ضعيف مثلا).

9. Boleh meriwayatkan al-Hadits al-Qudsi secara makna saja, sedangkan membaca al-Qur’an dengan maknanya saja tidak diperbolehkan (تجوز رواية الحديث القدسي بالمعنى، ولا تجوز قراءة القرآن بالمعنى).

Semoga bermanfaat.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *