Perbedaan Muhkam dan Mutasyabih

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

A. Pengantar

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan bagi semesta alam. Ia menggariskan bagi makhluk-Nya itu aqidah yang benar dan prinsip-prinsip yang lurus dalam ayat-ayat yang tegas keterangannya dan jelas ciri-cirinya. Itu semua merupakan karunia-Nya kepada umat manusia, di mana Ia menetapkan bagi mereka pokok-pokok agama untuk menyelamatkan aqidah mereka dan menerangkan jalan lurus yang harus mereka tempuh. Ayat-ayat tersebut adalah Ummul Kitab yang tidak diperselisihkan lagi pemahamannya demi menyelamatkan umat Islam dan menjaga eksistensinya.

Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Fushshilat [41]: 3)

Pokok-pokok agama tersebut di beberapa tempat dalam Al-Qur’an terkadang datang dengan lafazh, ungkapan, dan uslub (gaya bahasa) yang berbeda-beda, tetapi maknanya tetap satu. Maka sebagiannya serupa dengan sebagian yang lain, maknanya cocok dan serasi, dan tak ada kontradiktif di dalamnya.

Adapun mengenai masalah cabang (furu’) agama yang bukan masalah pokok, ayat-ayatnya ada yang bersifat umum dan samar-samar (mutasyabih), yang memberikan peluang bagi para mujtahid yang handal ilmunya untuk dapat mengembalikannya kepada yang tegas maksudnya (muhkam), dengan cara mengembalikan masalah cabang kepada masalah pokok, dan yang bersifat partikal (juz’i) kepada yang bersifat universal (kulli). Sementara itu beberapa hati yang memperturutkan hawa nafsu tersesat dengan ayat yang mutasyabih ini.

Dengan ketegasan dan kejelasan dalam masalah pokok dan keumuman dalam masalah cabang tersebut, maka Islam menjadi agama abadi bagi umat manusia yang menjamin baginya kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, di sepanjang masa dan waktu.

B. Muhkam dan Mutasyabih dalam Arti Umum

Muhkam berarti yang dikokohkan. Ihkaam al-kalaam berarti mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan yang lurus dari yang sesat. Jadi, kalam yang muhkam berarti perkataan yang sifatnya seperti ini.

Dengan pengertian inilah, Allah ta’ala menyifati Al-Qur’an bahwa seluruhnya adalah muhkam, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

الر، كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِير

Artinya: “Alif lam ra. (Inilah) sebuah kitab yang ayat-ayatnya di-muhkam-kan, dikokohkan serta dijelaskan secara rinci, diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.” (QS. Huud [11]: 1)

Juga firman-Nya:

الر، تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

Artinya: “Alif lam ra. Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah.” (QS. Yuunus [10]: 1)

Al-Qur’an itu seluruhnya muhkam, maksudnya Al-Qur’an itu kata-katanya kokoh, fasih (indah dan jelas), dan ia membedakan antara yang haq dengan yang batil, serta antara yang benar dan yang dusta. Inilah yang dimaksud dengan muhkam dalam arti yang umum.

Adapun mutasyabih, secara bahasa berarti salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Tasyabuh al-kalam berarti kesamaan dan kesesuaian perkataan, karena sebagiannya membenarkan sebagian yang lain.

Dengan pengertian inilah, Allah ta’ala menyifati Al-Qur’an bahwa seluruhnya adalah mutasyabih, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُتَشَابِهاً مَثَانِي

Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa lag berulang-ulang.” (QS. Az-Zumar [39]: 23)

Dengan demikian, maka Al-Qur’an itu seluruhnya mutasyabih, maksudnya Al-Qur’an itu sebagian kandungannya serupa dengan sebagian yang lain dalam kesempurnaan dan keindahannya, dan sebagiannya membenarkan sebagian yang lain, serta sesuai pula maknanya. Inilah yang dimaksud dengan mutasyabih dalam arti umum.

Dalam makna umum ini, Al-Qur’an seluruhnya muhkam, sekaligus seluruhnya adalah mutasyabih. Al-Qur’an kata-katanya kokoh dan indah, membedakan antara yang haq dengan yang batil, serupa ayat-ayatnya serta sebagiannya membenarkan sebagian yang lain.

C. Muhkam dan Mutasyabih dalam Arti Khusus

Dalam Al-Qur’an Al-Karim terdapat ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih dalam arti khusus, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Artinya: “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lainnya berupa (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami…” (QS. Ali ‘Imraan [3]: 7)

Mengenai pengertian muhkam dan mutasyabih ini, terdapat banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting di antaranya adalah:

1. Muhkam adalah ayat yang mudah dketahui maksudnya, sedangkan mutasyabih hanya diketahui maksudnya oleh Allah sendiri.

2. Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu sisi makna saja (wajhan wahidan), sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna (awjuh).

3. Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain.

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam Al-Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal dan haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayat-ayat mansukh dan ayat-ayat tentang asma Allah dan sifat-sifat-Nya. Contohnya {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}, {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}, {يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ}, dan masih banyak lagi ayat lainnya.

D. Perbedaan Pendapat Tentang Kemungkinan Mengetahui Makna Ayat Mutasyabihat

Sebagaimana terjadi perbedaan pendapat tentang pengertian muhkam dan mutasyabih dalam arti khusus, perbedaan pendapat mengenai kemungkinan maksud ayat yang mutasyabih pun tak dapat dihindarkan. Sumnber perbedaan pendapat ini berpangkal pada masalah waqaf (tempat berhenti bacaan) dalam ayat {وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ}.

Apakah kedudukan lafazh ini merupakan awal kalimat (mubtada) yang khabar (predikat)-nya adalah lafazh {يقولون}, dan waw di awal lafazh tersebut merupakan waw isti’naf (permulaan ayat), dan waqaf (berhentinya bacaan) di ayat tersebut dilakukan pada lafazh {وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّه}? Ini menunjukkan bahwa ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui maknanya oleh Allah ta’ala.

Ataukah ia ma’thuf dan waw-nya adalah waw ‘athaf (kata penghubung), sedangkan lafazh {يقولون} menjadi haal, dan waqafnya pada lafazh {وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ}? Ini menunjukkan bahwa ayat-ayat mutasyabihat dapat diketahui maknanya oleh orang-orang yang mendalam ilmunya.

Pendapat pertama diikuti oleh sejumlah ulama, di antaranya Ubay ibn Ka’b, Ibn Mas’ud, Ibn’ Abbas, serta sejumlah shahabat, tabi’in dan lainnya. Mereka berdalil dengan beberapa riwayat, misalnya riwayat dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, “Apabila engkau melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka, itulah yang disinyalir Allah. Maka waspadalah terhadap mereka” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya). Pendapat ini juga didukung oleh ungkapan yang terdapat di surah Ali ‘Imraan ayat 7 sendiri, yaitu: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya”.

Sedangkan pendapat kedua dipilih oleh Mujahid dan sejumlah ulama lainnya, serta ini juga merupakan pendapat yang diikuti oleh An-Nawawi. Dalam Syarh Shahih Muslim ia menyatakan inilah pendapat yang paling shahih, karena tidak mungkin Allah menyeru kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui maksudnya oleh mereka.

Menurut Syaikh Manna’ Al-Qathtan, dua pendapat di atas sebenarnya bisa dikompromikan. Ini bisa dilihat dari kata ta’wil itu sendiri yang memiliki tiga makna, yaitu:

1. Memalingkan sebuah lafazh dari makna yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada suatu dalil yang menghendakinya. Inilah pengertian takwil yang dimaksud oleh mayoritas ulama mutaakhkhirin.

2. Takwil dengan makna tafsir (menerangkan/menjelaskan), yaitu pembicaraan untuk menafsirkan lafazh-lafazh agar maknanya dapat dipahami.

3. Takwil adalah hakikat (substansi) yang kepadanya pembicaraan dikembalikan) Maka takwil dari apa yang diberitakan Allah tentang zat dan sifat-sifat-Nya ialah hakikat zat-Nya itu sendiri yang suci dan hakikat sifat-sifat-Nya. Dan takwil dari apa yang diberitakan Allah tentang hari kemudian adalah substansi yang ada pada hari kemudian itu sendiri.

Golongan yang menguatkan pendapat pertama, bahwa takwil ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah ta’ala, memahami takwil dengan pengertian hakikat yang dimaksud dari suatu perkataan. Karena itu, hakikat zat Allah, esensi-Nya, kaifiyat nama dan sifat-Nya, serta hakikat hari kemudian, semua itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala sendiri.

Sedangkan golongan yang menguatkan pendapat yang kedua, bahwa takwil ayat mutasyabihat bisa diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmunya, mengartikan takwil dengan tafsir.

Artinya, tidak ada pertentangan antara dua pendapat tentang kemungkinan memahami maksud ayat-ayat mutasyabihat yang disebutkan di atas. Masalahnya hanya berkisar pada perbedaan memahami makna kata takwil.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Rujukan:
Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’aan, karya Manna’ Al-Qaththan

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *