Persatuan Umat Islam

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Salah satu prestasi terbesar al-Hasan ibn ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah menyatukan kembali umat Islam setelah tercerai-berai.

Sejak terbunuhnya menantu Nabi, ‘Utsman ibn ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, oleh sebuah konspirasi jahat, umat Islam tercerai-berai dan saling bermusuhan. Umat Islam kehilangan ciri khasnya, yaitu persatuan. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا dan إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُم .

Ayah al-Hasan, ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sang pemimpin yang memiliki berbagai keutamaan ini pun tak kuasa menghentikan perpecahan. Bergantian para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in meminta ‘Ali segera menindak para pembunuh ‘Utsman, namun keadaan tak memungkinkan bagi ‘Ali. Akhirnya terjadilah hal yang tidak diinginkan oleh siapapun yang masih ada iman di dalam hatinya, peperangan antar Shahabat, generasi terbaik yang dimiliki umat Islam.

Sosok-sosok mulia ini harus mengalami masa berat dan penuh fitnah, yang mengharuskan mereka bertemu di medan perang. Perang Jamal, kemudian perang Shiffin antara ‘Ali dengan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, gubernur Syam yang juga sepupu ‘Utsman. Konflik antara dua orang mulia ini, ‘Ali dan Mu’awiyah, akhirnya berakhir dengan syahidnya ‘Ali ibn Abi Thalib di tangan kelompok sesat, Khawarij.

Al-Hasan tampil sebagai khalifah menggantikan ayahnya, dan sekaligus mewarisi konflik yang terjadi di masa pemerintahan ayahnya. Saat itu, umat Islam terbagi menjadi dua kubu besar, kubu pendukung Al-Hasan, dan kubu pendukung Mu’awiyah. Di antara dua kubu besar ini, ada juga golongan munafiqin yang berusaha memancing di air keruh, serta sisa-sisa sekte sesat, kelompok yang bersemangat tanpa ilmu, Khawarij.

Al-Hasan, sang pemimpin kalangan pemuda di surga kelak, sosok yang secara fisik sangat mirip dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian melakukan tindakan yang sangat terpuji, pilihan yang menjadikannya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah. Di tengah-tengah konflik dua kelompok besar umat Islam, ia menyerahkan jabatan Khalifah kepada shahabat mulia, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Setelah itu, umat Islam kembali bersatu, di bawah satu pemimpin, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut dikenal dengan ‘amul jama’ah, tahun persatuan.

*****

Saat ini, di mana umat Islam dicerai-beraikan oleh hawa nafsu, ta’ashshub dan konspirasi musuh-musuh Islam, upaya untuk menyatukan kembali umat menjadi hajat kita semua. Umat Islam akan kuat dengan tauhid dan persatuan. Dan dua pilar itulah yang telah berhasil dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.

Tauhid diabaikan, syirik dan kekufuran merajalela dan dilestarikan. Hukum-hukum Allah dicampakkan, hukum thaghut dijunjung tinggi. Nasionalisme semu disanjung puja, ukhuwah Islamiyyah dicibir hina. Upaya untuk menguatkan tauhid dan mewujudkan persatuan umat dihalang-halangi. Kekufuran dan perpecahan difasilitasi.

Namun kita perlu ingat, sehebat-hebatnya makar mereka, makar Allah jauh lebih hebat. Kita harus tetap serius membina tauhid umat, sebagaimana Rasul membina tauhidnya para Shahabat. Kita juga harus terus mengupayakan persatuan umat, sebagaimana yang telah berhasil diupayakan oleh cucunda Nabi, al-Hasan ibn ‘Ali.

Persatuan ini harus dimulai dengan satunya tauhid dan keimanan, kemudian dilanjutkan dengan persatuan hati, saling mencintai karena Allah. Jika hati telah saling cinta karena Allah, persatuan fisik akan jauh lebih mudah diwujudkan.

Persatuan umat tidak akan terwujud melalui koalisi pragmatis, koalisi bagi-bagi kue. Persatuan umat juga tak akan terwujud di tangan orang-orang yang memandang saudara muslimnya sebagai musuh yang harus diperangi. Persatuan umat tak akan terwujud di tangan orang yang lisannya begitu mudah menghina dan menghujat. Persatuan umat tak akan terwujud di tangan orang yang loyalitasnya lebih tinggi pada kelompok, dibanding pada Islam itu sendiri.

Wallahul musta’an.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *