Pertolongan Allah, Bukan Jumlah (Tadabbur Al-Qur’an)

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

TADABBUR AL-QUR’AN
(Surah At-Taubah, Ayat 25-27)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ () ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ () ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ()

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (wahai mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi berbangga diri karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kalian tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah ayat 25-27)

Tidak lama pasca pembebasan Makkah, tepatnya di bulan Syawwal tahun 8 hijriyyah, kaum muslimin harus menghadapi perlawanan dari kabilah-kabilah Arab yang khawatir terhadap kaum muslimin. Mereka adalah suku Hawazin, Tsaqif, dan beberapa suku Arab lainnya. Peperangan terjadi di kawasan antara Makkah dan Thaif yang dikenal dengan nama Hunain. Saat itu, Rasulullah membawa 10.000 pasukan yang merupakan pasukan yang dibawa Rasul dari Madinah saat pembebasan Makkah, ditambah 2.000 orang dari Makkah yang baru masuk Islam.

Dengan jumlah yang begitu besar melebihi lawan mereka, banyak kaum muslimin kemudian merasa yakin mereka akan memenangkan peperangan dengan mudah. Dalam peperangan-peperangan sebelumnya, dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dari musuh, mereka bisa memenangkan pertempuran, tentu dengan jumlah yang lebih besar, hal itu jauh lebih mudah. Begitulah perasaan banyak pasukan muslim saat itu.

Namun apa yang terjadi? Di awal peperangan, kaum muslimin berhasil dikalahkan oleh pasukan dari gabungan kabilah Arab. Jumlah kaum muslimin yang begitu besar itu ternyata tak membawa dampak positif dalam peperangan tersebut. Bahkan kemudian banyak pasukan muslim yang mundur dan lari dari peperangan. Hal ini kemudian menyadarkan kaum muslimin bahwa kemenangan tidaklah diukur dari banyaknya jumlah pasukan.

Umat Islam yang tersisa, yang memiliki keimanan yang kokoh kemudian melanjutkan pertempuran, dan akhirnya Allah ta’ala memberikan kemenangan pada mereka.

Cerita perang Hunain ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits, sirah, maupun tafsir. Dan peristiwa ini –sebagaimana dijelaskan para ulama– mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita saat ini. Umat Islam adalah umat yang menyandarkan kekuatan dan kemenangan mereka pada Allah ta’ala, Allah yang menolong dan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka. Bukan banyaknya jumlah atau besarnya kekuatan fisik.

Maka, ikhwah fillah, dalam perjuangan umat Islam saat ini, untuk membangkitkan kembali umat Islam, dalam bidang apapun, kita tidak boleh menyandarkan pada jumlah. Misal dengan mengatakan, “Jika jumlah kita besar, kita akan mampu meraih tujuan-tujuan kita. Sebaliknya, jika jumlah kita sedikit, kita tak akan bisa berbuat apa-apa.” Perkataan semacam ini bukanlah kata-kata orang yang imannya tertancap kuat di dada. Allah menolong orang-orang yang dikehendaki-Nya, tanpa harus terikat dengan hitung-hitungan manusia.

Jikapun ada hal yang bisa mendekatkan pertolongan Allah dan kemenangan kaum muslimin, itu bukanlah jumlah yang besar atau pengikut yang banyak. Bukan juga kemampuan mengumpulkan massa dalam jumlah ratusan ribu atau jutaan. Yang bisa mendekatkan kita pada pertolongan Allah dan kemenangan adalah ketakwaan dan keimanan di dada kita. Allah ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia juga akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka ketakutan menjadi aman tenteram. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur ayat 55)

Wallahu ‘aliimun hakiim.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *