Posisi As-Sunnah Terhadap Al-Qur’an Ditinjau dari Sisi Penetapan Hukum Syara’

Oleh: Muhammad Abduh Al-Banjary

Ditinjau dari sisi penetapan hukum syara’, terdapat tiga posisi As-Sunnah terhadap Al-Qur’an, yaitu:

1. As-Sunnah menyetujui dan mendukung hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Di posisi pertama ini, hukum bersumber dari dua dalil, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalil yang menetapkan berasal dari Al-Qur’an, dan dalil yang mendukung dari As-Sunnah.

Beberapa hukum syara’ yang bisa disebutkan sebagai contoh misalnya adalah perintah mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji, serta larangan berbuat syirik kepada Allah, bersaksi palsu, durhaka kepada dua orangtua, membunuh jiwa tanpa haq, serta perintah dan larangan lainnya. Semuanya ditetapkan oleh ayat Al-Qur’an dan didukung oleh Sunnah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. As-Sunnah merincikan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an, menafsirkan yang mujmal, mentaqyid yang mutlaq, dan mentakhshish yang ‘am.

Di posisi kedua ini, As-Sunnah melakukan tafsir, taqyid dan takhshish ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Fungsi ini selaras dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah An-Nahl ayat 44:

وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم

Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.”

Sebagai contoh, Al-Qur’an menyebutkan perintah shalat namun tidak menyebutkan jumlah raka’at shalat, memerintahkan zakat namun tidak menjelaskan ukuran dan jenis-jenis harta yang dizakatkan, memerintahkan berhaji namun tidak menjelaskan tatacaranya secara spesifik. Sunnah ‘amaliyah dan qauliyah dari Nabi lah yang menjelaskannya secara terperinci.

Demikian juga, dalam Al-Qur’an, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Dan As-Sunnah menjelaskan jual beli yang sah dan yang fasad, serta menjelaskan macam-macam riba yang diharamkan. Allah ta’ala dalam Al-Qur’an mengharamkan kita memakan bangkai, dan As-Sunnah menjelaskan bahwa maksudnya adalah bangkai selain bangkai hewan laut. Dan seterusnya.

3. As-Sunnah menetapkan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Di posisi ketiga ini, hukum syara’ ditetapkan oleh As-Sunnah, dan tidak disebutkan dalam Al-Qur’an.

Contoh hukum syara’ di bagian ini adalah haramnya menggabungkan seorang perempuan dengan bibinya (pihak ayah maupun pihak ibu) sebagai istri, keharaman memakan binatang buas yang memiliki taring dan burung yang memiliki cakar, keharaman memakai sutra dan memakai cincin dari emas bagi laki-laki, dan seterusnya.

Rujukan:
‘Ilm Ushul al-Fiqh karya ‘Abdul Wahhab Khallaf, terbitan Dar Ibn al-Jauzi, Kairo, hal 40-41.

Muhammad Abduh Negara

Pengelola Program Tafaqquh Fid Diin (TFD) Banjarmasin; Alumni S1 Syariah (Ta'lim 'An Bu'd) Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud, Saudi Arabia

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *